Labels

Cari di blog ini

Tampilkan postingan dengan label Refleksi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Refleksi. Tampilkan semua postingan
belajar Kewirausahaan Mikir Mindset Pendidikan Refleksi Tafakur

Kepatuhan Hadir Karena Adanya Pemahaman

Silakan Ngomen

Suatu hari saya mengikuti gathering BP di sebuah hotel di Bandung. Pematerinya adalah mas Adrian Maulana dan Mas Ade Rai. Yang akan saya bahas ini adalah diantara hal penting yang membangun mindset baru buat saya.


Sebagai muslim kita mampu taat untuk menjalankan kewajiban agama. Beberapa diantaranya bahkan kita sudah lakukan meskipun kita tidak sadar kalau agama pun memerintahkan hal tersebut.


Contohnya, kita rajin mendirikan sholat wajib 5 waktu. Kenapa kita mau dan rajin melakukannya? Karena kita tau pentingnya menjalankan hal tersebut, karena kita paham akibatnya kalau tidak menjalankan. Kita paham mengapa kita perlu mendirikan sholat, makanya kita berusaha keras untuk konsisten melakukannya. Orang yang masih belum konsisten mendirikan sholat artinya belum paham.


Contoh lain yang lebih sederhana. Kita mungkin pernah begadang saat ada pekerjaan yang menuntut diselesaikan malam itu. Padahal kita ngantuk, tapi kita terus berupaya menyelesaikannya. Kita melakukannya karena kita paham kalau tidak selesai, akan ada akibat yang cukup fatal yang kita dapatkan. 


Tapi ada juga orang yang begadang cuma buat sekedar scroll scroll medsos. Ga ada manfaat yang signifikan yang bisa didapatkan dari bersosmed tengah malam, tapi dia terus saja begitu meskipun terkantuk-kantuk. Dia artinya tidak paham kalau tidur itu lebih penting daripada begadang ga jelas. Andaikata dia paham, tentulah dia akan memaksakan diri tidur apalagi kalau sudah ngantuk ketimbang begadang.


Ada orang giat bekerja ngantor jam 9-5. Serajin itu dia pulang-pergi kerja karena dia paham kalau ga maksimal kerjanya, dia bisa dapat teguran dari bosnya, yang imbasnya ke terancamnya karir dia di kantor tersebut. Andaikata dia tidak paham akan hal itu dan masuk kerja seenaknya, tentulah dia akan cepat dipecat.


Hubungannya dengan kesehatan, Mas Ade Rai melajutkan pembahasan. Kalau kita bisa sedemikan patuh pada ajaran agama, kewajiban bekerja, dan sebagainya, mengapa tidak kita juga patuh untuk rajin berolahraga. Kebanyakan orang malas berolahraga karena dia tidak paham pentingnya olahraga. Dia hanya sekedar tau kalau olahraga itu penting, tapi dia tidak benar-benar paham bagaimana bisa hal itu penting untuk kesehatannya.


Maka di satu jam setengah sesi itu mas Ade Rai fokus membangun pemahaman kepada kami para audiens tentang pentingnya olahraga. Bahkan saya sendiri, dengan pemahaman baru yang beliau tanamkan, membuat saya dengan senang hati dan bersemangat untuk konsisten berolahraga. Dan itu adalah pengalaman yang luar biasa.


Mindset yang penting yang mengatakan bahwa Kepatuhan Hadir Karena Adanya Pemahaman dapat diterapkan di berbagai aspek. Dan itu bisa menjadi patokan hidup kita bahwa, apapun yang ingin kita lakukan dalam hidup secara konsisten dan senang hati, maka kita harus terlebih dahulu menemukan pemahaman akan hal tersebut.

Daily kuliah Menulis Mikir Pendidikan Refleksi

4 Tipe Dosen

2 comments
Sudah 6 tahun hidup di kampus. Kalo ditambah cuti berarti udah 7 tahun. Fiuhh.. Ada banyak pengalaman yang bisa saya nikmati, yang kalo kata dosen saya, ada pengalaman dan manfaat yang lebih gede lagi kalo udah lulus. Fiuhh.. Anyway, saya menikmatinya. Saya melihat ini sebagai bagian dari jalan hidup saya, dengan sekelumit problematika dan pengalaman yang belum tentu dialami juga oleh orang lain. Kita bisa saja bilang, orang lain yang sudah lulus duluan tentunya punya pengalaman yang mungkin lebih wow. Ya, who knows kan? So, kalo orang lain bisa bersyukur dengan hidupnya, kenapa saya tidak? :)

Bicara mahasiswa, berarti erat kaitannya dengan dosen, orang yang mengajar mahasiswa. Setelah sekian lama kuliah, saya melihat ada beberapa pola menarik dari dosen secara khusus, atau pengajar pada umumnya. Pola yang saya maksud adalah tentang bagaimana dosen berinteraksi dengan mahasiswa, di dalam dan di luar kelas. Kalo Kamu pernah jadi mahasiswa, atau minimalnya siswa, Kamu pasti akan selalu bertemu dengan yang namanya dosen. Pasti lah. Inget ga dulu waktu SMP atau SMA, Kamu atau temen Kamu pernah bilang hal semacam ini: "Ah gue ga mudeng belajar matematika sama si Pak Anu, bawaannya ngantuk", atau "Yaelah, gimana bisa tenang belajar, si Ibu Anu itu dikit-dikit bentak, yang ada malah tegang". Kita terkadang atau seringkali mengomentari sikap dan cara guru kita mengajar, dan adakalanya juga menyalahkan guru kita atas kegagalan kita dalam belajar. Kita mungkin pernah berpikir, kita jadi tidak suka suatu mata pelajaran gara-gara gurunya begini begitu. Betul apa benar?

Sayangnya kalo kita terus-terusan kayak gitu, artinya menyalahkan guru atas kegagalan belajar kita, selamanya kita tidak akan pernah sukses. Saya yakin seyakin-yakinnya. Tapi saya juga yakin, semakin dewasa kita, kita akan sadar bahwa bagaimanapun kita menyalahkan dan mengutuk seorang guru, itu tidak akan pernah membuat kita lebih sukses. Guru akan tetap dengan kehidupannya, dan kita pun akan tetap dengan kegagalan hahaha.

Kalo udah jadi mahasiswa, kita udah ga bisa lagi ngerengek nyalahin guru kayak waktu dulu sekolah. Ga peduli kayak gimana dosen Kamu mengajar, Kamu mesti bisa survive dan tuntas belajarnya. Kalo kita kerjaanya cuma nyalahin dosen, sekencang apapun Kita berteriak mengutuk dosen yang ngajarnya ga becus, ingatlah dosen itu akan tetap dengan kehidupannya, dan Kita sampai kapanpun ga akan pernah lulus. Kita ga akan bisa mengubah orang lain. Kita hanya punya kendali pada diri kita sendiri. Kalo kasarnya sih, 'yang mau lulus itu siapa, elu apa dosen?'

Bertolak dari hal itu, mestinya kita mulai beralih sudut pandang kita terhadap pengajar. Kalo dulu waktu sekolah, kita mungkin memandang guru sebagai orang tua yang ada di sekolah yang punya banyak ilmu yang tanpanya kita ga akan bisa belajar dan lulus sekolah. Kalo di perkuliahan, saya lebih suka memandang dosen sebagai teman dalam belajar, teman yang harus kita hormati dan serap ilmunya. Setua apapun dosen, saya lebih suka menempatkan mereka sebagai teman, mungkin teman yang lebih tua. Tentu saja saya tetap memandang mereka juga sebagai guru yang harus dihormati dan didoakan oleh sebab ilmu yang mereka ajarkan. Dengan cara memandang seperti itu, saya bisa belajar lebih nyaman dan menyenangkan.

Namun, nyatanya saya sadari tidak semua dosen bisa dijadiin teman. Ada dosen yang gaul sama mahasiswa, ada juga yang menutup diri dan menjaga jarak. Ada yang baik banget sampe-sampe gampang banget ngasih nilai, ada juga yang killer. Tapi yang lebih menarik lagi dari itu, yang saya garis bawahi di awal tulisan. Ternyata tidak semua dosen yang menyenangkan itu selamanya menyenangkan, dan ga semua dosen yang killer itu selamanya killer. Kalo saya buat batasan yang jelas, saya yakin Kamu juga pasti bisa mengamati hal tersebut. Batasan yang saya maksud adalah bagaimana cara mereka berinteraksi dengan mahasiswa, di luar dan di dalam kelas. Biar gampang, saya gambarkan ke dalam bentuk tabel kebenaran, dengan parameter A = asyik di dalam kelas dan B = asyik di luar kelas.

|-------------|
|   A  |   B  |
|-------------|
|   0  |   0  | tipe 1
|   0  |   1  | tipe 2
|   1  |   0  | tipe 3
|   1  |   1  | tipe 4
|-------------|

Ngerti ga? Kalo Kamu pernah belajar logika matematika atau logika informatika mestinya bisa ngerti. Atau gimana kalo saya gambarin dalam bentuk kuadran, seperti di bawah ini:

|-----------------------------------------------|
|                 |  ga asyik di  |   asyik di  |
|                 |  luar kelas   |  luar kelas |
|-----------------------------------------------|
|                 |               |             |
|   ga asyik di   |       1       |      2      |
|  dalam kelas    |               |             |
|                 |               |             |
|-----------------------------------------------|
|                 |               |             |
|    asyik di     |       3       |      4      |
|   dalam kelas   |               |             |
|                 |               |             |
|-----------------------------------------------|

Tipe 1 : Ga Asyik di Dalam Maupun di Luar Kelas

Kayaknya dosen begini sibuk sama urusannya sendiri. Mungkin dia punya banyak kesulitan dalam hidupnya yang membuatnya jangankan berinteraksi dengan mahasiswa di luar kelas, untuk fokus dan totalitas mengajar di dalam kelas pun udah kewalahan. Kalo tidak begitu, mungkin memang bawaan sifatnya seperti itu.

Tipe 2 : Ga asyik di Dalam Kelas tapi Asyik di Luar Kelas

Pasti pernah nemuin kan dosen kayak gini. Dia killer pas ngajar, atau mungkin bikin ngantuk karena ngajarnya pake metode khutbah jumat, atau alasan lain yang bikin kita ga asyik belajar di kelas, tapi kalo di luar kelas enak diajak ngobrol dan diskusi, bahkan ketawa-ketawa dan share game PC terbaru? :D

Tipe 3 : Asyik di Dalam Kelas, Tapi ga Asyik di Luar Kelas

Pernah ga nemuin dosen yang ngajarnya keren, suasana kelas terbangun, mahasiswa semarak menyambut celotehan dosen yang lucu dan cerdas, tapi kalo ketemu di luar kelas sikapnya dingin, kayak yang tidak mau berinteraksi dengan mahasiswa atau berinteraksi seadanya? Saya pribadi kalo ketemu dosen kayak gini saya lebih memilih menghindar dan ambil jalan memutar hahaha~

Tipe 4 : Asyik di Dalam dan di Luar Kelas

Whoaaa.. ini dosen keren abis. Dia mendedikasikan hidupnya muntuk mengajar dan mendidik mahasiswanya, karena sejatinya pendidikan tidak cukup hanya terjadi di dalam kelas saja. Dia dosen yang sadar betul akan profesinya. Dan mungkin juga karena memang bawaan sifatnya seperti itu. Bukan berarti dosen yang engga masuk kuadran 4 ini ga profesional atau ga berdedikasi. Cuma yang pasti tipe 4 inilah yang menjadi dambaan para mahasiswa ahay..

Sekali lagi saya katakan, terlepas oleh dosen bertipe berapapun kita diajar, kesuksesan perkuliahan ada di tangan kita sendiri sebagai mahasiswa. Jangan gara-gara dosennya ga asyik lantas kita jadi reaktif dan enggan kuliah. Kalo sampe kayak gitu, ingatlah, dosen itu akan tetap dengan kehidupannya, dan kita akan tetap dalam kerugian. Bagaimanapun dosen kita, kita sebagai pembelajar tetap punya kewajiban untuk menghormati ilmu dan ulama yang dalam hal ini dosen, kalo pengen belajarnya sukses dan barokah. Urusan sifat dosen yang buruk, bukankah setiap manusia tidak luput dari kesalahan?

Sebenernya pengen bahas juga bagaimana sifat mahasiswa dari kacamata dosen. Jangan salah, kalo kita sebagai mahasiswa kerap kali merasa terzhalimi oleh dosen, dosen juga katanya tidak jarang terzhalimi oleh mahasiswa, sering di-PHP-in lah, mahasiswa nyontek lah, dan sebagainya. Sayangnya saya tidak dalam kapasitas sebagai dosen atau pengajar. Mungkin suatu saat kalo ada kesempatan.

So, kalo Kamu jadi dosen atau guru nanti, mau jadi tipe berapa?? :D
Daily Refleksi Tafakur

Putar, dan Rasakan

Silakan Ngomen
Judulnya engga banget hahaha.. Asbabun nuzulnya ialah, ketika barusan, yaitu malam hari sekitar jam sepuluh, saya merendam handuk kecil yang saya pakai ngelap ingus waktu flu minggu lalu. Itu handuk saya cuci buat nantinya saya pake ngompres istri saya yang lagi demam. Saya cuci dulu supaya ketika dipakai ngompres, tidak ada ingus kering yang jadi basah dan licin kembali lalu menempel di jidat istri saya. Meskipun dia tidak akan tau, tapi tidak tega rasanya kalo harus liat ada ingus nempel di jidatnya.

Bersambung ke asbabun nuzul judul. Saat hendak nyuci handuk kecil itu, warnanya oranye. Ketika mulai dicuci pun tetap oranye. Karena khawatir ingusnya tidak luntur, maka saya ingin tambahkan detergen. Detergennya ada di dalam toples plastik. Saya buka tutup toples itu. Lumayan susah. Saya coba lebih kuat lagi. Masih susah. Kok rasanya makin keras saya putar, makin susah dibuka yah. Saya lalu cuci dulu tangan saya. Maksudnya biar engga licin karena ada butiran detergen yang udah nempel di tangan saya.

Percobaan kedua saya buka lagi tutup toples itu dan, wow, mudah sekali. Saya lihat ke ember air, dan bertanya-tanya, apakah barusan saya baru saja mencuci tangan dengan air ajaib. Saya tutup lagi toples itu. Saya buka dengan keras dan sulit sekali terbuka. Saya kendorkan tenaga, dan, Wow.. mudah sekali terbukanya. Saya yakin, Kamu pun pasti pernah mengalaminya.

Seketika itu saya langsung teringat adegan film, entah film apa, yang mana adegannya ada orang tua yang kesulitan melepaskan tutup toples. Lalu di tengah keseriusannya membuka tutup toples itu, datang anak kecil meminta toples itu dan ia pun membukanya, dengan mudah. Orang tua itu terheran-heran sambil mengerungkan dahinya. Rasanya sulit dipercaya. Apakah itu cerita si Superman saat masih kecil? Entahlah, tapi mungkin itu adalah wow seperti wow yang saya lontarkan di awal tadi. Mungkin terlihat lucu, tapi itu sangat mungkin. You know lah, leher toples kejepit, gaya gesekan membesar, dan sebagainya dan sebagainya.

Hikmah yang bisa saya tangkap di malam yang panas ini, salah satunya adalah, seringkali kita bersikeras mencapai sesuatu tapi pada akhirnya kita kelelahan dan kecewa. Tapi ada kalanya kita memasrahkan sesuatu dan tiba-tiba sesuatu itu malah datang menghampiri. Yaa, dan sebagainya lah. Kalo Kamu, kira-kira hikmah apa yang kepikiran??
Daily Mikir Refleksi Tafakur

Bukan "Karena Cinta"-nya, tapi "Karena Allah"-nya

Silakan Ngomen
“Tidaklah seseorang dari kalian sempurna imannya, sampai ia mencintai untuk saudaranya sesuatu yang ia cintai untuk dirinya.” [HR Bukhari]
Sudahkah kita bersahabat dan bersaudara karena Allah? Lalu sudahkah kita mencintai seseorang, siapapun itu, karena Allah? Pernahkah kau mengatakan, atau terbesit dalam hati untuk mengatakan, kepada seseorang dari lawan jenismu, "aku mencintaimu karena Allah"? Kalo pernah, cobalah cek, mampukah kau merelakan orang yang kau cintai itu untuk saudaramu "karena Allah"? Wow, mungkin itu sesuatu yang berat, atau sangat berat. Tapi, sesungguhnya yang utama itu bukan 'cinta'-nya, tapi 'karena Allah'-nya.

Mari kita simak sepenggal kisah indah, antara Salman al-Farisi dan Abu Darda`, dua orang shahabat Nabi SAW. Salman berasal dari Persia, ikut rombongan hijrah Nabi ke Madinah. Setelah tiba di Madinah, Nabi SAW. kemudian mempersaudarakan para shahabat yang ikut hijrah, kita sebut Muhajirin, dengan shahabat dari Madinah yang menerima kedatangan para Muhajirin, yang kita sebut dengan shahabat Anshar. Salahsatu yang dipersaudarakan adalah Salman dan Abu Darda`.

Suatu waktu, Salman menyukai seorang wanita shalihah dari kaum Anshar. Sudah bulat tekadnya untuk meminangnya. Namun walau bagaimanapun Madinah masih terasa asing olehnya. Madinah bukan tempat ia dilahirkan dan tumbuh dewasa. Madinah punya bahasa dan adat kebiasaan yang belum terlalu dikenalnya. Harus ada orang yang akrab dengan adat Madinah untuk membantunya sebagai juru bicara saat khitbah. Maka disampaikanlah niatan hatinya kepada saudaranya, Abu Darda.

”Subhanallaah. . wal hamdulillaah. .”, Abu Darda’ senang mendengarnya. Keduanya tersenyum bahagia dan berpelukan. Mereka menyiapkan segala sesuatunya untuk mengkhitbah wanita shalihah yang menjadi tujuan hati Salman. Setelah persiapan dirasa cukup, mereka pun pergi ke rumah wanita itu.

”Saya adalah Abu Darda’, dan ini adalah saudara saya Salman seorang Persia. Allah telah memuliakannya dengan Islam dan dia juga telah memuliakan Islam dengan amal dan jihadnya. Dia memiliki kedudukan yang utama di sisi Rasulullah Shallallaahu ’Alaihi wa Sallam, sampai-sampai beliau menyebutnya sebagai ahli bait-nya. Saya datang untuk mewakili saudara saya ini melamar putri Anda untuk dipersuntingnya.”, fasih Abu Darda’ berbicara dalam logat Bani Najjar yang paling murni.

”Adalah kehormatan bagi kami”, ucap tuan rumah, ”menerima Anda berdua, shahabat Rasulullah yang mulia. Dan adalah kehormatan bagi keluarga ini bermenantukan seorang shahabat Rasulullah yang utama. Akan tetapi hak jawab ini sepenuhnya saya serahkan pada puteri kami.”

Abu Darda dan Salman menunggu dengan berdebar-debar. Hingga sang ibu muncul kembali setelah berbincang-bincang dengan puterinya.

”Maafkan kami atas keterusterangan ini”, kata suara lembut itu. Ternyata sang ibu yang bicara mewakili puterinya. ”Tetapi karena Anda berdua yang datang, maka dengan mengharap ridha Allah saya menjawab bahwa puteri kami menolak pinangan Salman. Namun jika Abu Darda’ kemudian juga memiliki urusan yang sama, maka puteri kami telah menyiapkan jawaban mengiyakan.”

Keterusterangan yang disampaikan sang ibu di luar dugaan kedua shahabat itu. Tapi apa reaksi Salman?

”Allahu Akbar!”, seru Salman, ”Semua mahar dan nafkah yang kupersiapkan ini akan aku serahkan pada Abu Darda’, dan aku akan menjadi saksi pernikahan kalian!”

Wow. Coba Kamu bayangkan, bagaimana kalo kita ada pada posisi Abu Darda`. Kalo saya pasti kikuk dan ga enak lah sama saudara saya sendiri. Ini benar-benar diluar dugaan. Yang dalam dugaan kan paling cuma dua jawabannya, menerima atau menolak. Tapi ini ada opsi lain. Menolak dan akan menerima kalo Abu Darda` yang melamarnya. Kalo di versi sinetron mungkin akan sangat lebay pisan.

Hey, coba bayangkan juga kalo kita ada di posisi Salman. Ditembak sama jawaban begitu oleh ibu sang wanita, kita harus mampu memberi respon yang tepat, atau lebih tepatnya, mengkondisikan hati untuk merespon jawaban tersebut. Saya bisa saja menjawab "ya sudah sama Kamu saja Bro", tapi apakah hati saya juga mampu mengatakan hal yang sama?

Hmmm.. Salman, sekalipun bukan saudara kandung, melainkan dipersaudarakan oleh Nabi, persaudaraan yang jauh lebih erat dari persaudaraan apapun, dengan senang hati merelakan apa yang dicintainya untuk saudaranya. Di satu sisi memang punya hak apa Salman melarang Abu Darda` untuk lantas meminang wanita tersebut. Tapi di luar hal tersebut, Salman punya kerelaan hati, yang saya yakin tidak akan pernah dimiliki oleh Salman kalo dia tidak mencintai karena Allah.

Bila Kamu dihadapkan oleh situasi yang serupa, apakah Kamu akan mempertahankan egomu untuk mencintai sang wanita meskipun cinta itu tidak akan pernah terbalas, yang mungkin akan berujung pada keretakan persaudaraanmu? Bisa saja kan endingnya, saudaramu mengalah dan kalian pulang dengan tangan hampa. Kamu tau saudaramu juga pasti ga enak hati dong, apalagi liat respon kamu kayak gitu. Tapi, terlepas dari saudaramu itu suka atau tidak sama wanita tadi, terlepas dari saudaramu akan melamar atau tidak wanita tadi, mampukah Kamu merelakan rasa cintamu untuk kemudian diberikan kepada saudaramu? That's the question. :)

Tambahan. Sekedar motivasi. Allah memberi jaminan perlindungan kepada 7 golongan orang di akhirat nanti. Salahsatunya adalah dua orang yang mencintai karena Allah, bertemu karena Allah dan berpisah karena Allah. Kalo Kamu mencintai seseorang, pastikan cintamu karena Allah. Bagaimana caranya mencintai karena Allah? Yaa, saya kira jawaban yang baru saja saya temukan, yang paling tepat hingga saat ini buat saya adalah, "bukan 'karena cinta'-nya, tapi 'karena Allah'-nya. Mampukah faktor 'karena Allah' itu tetap ada ketika cinta dan orang yang dicintai kandas?"


---
rujukan: http://blog.al-habib.info/id/2012/03/kisah-cinta-dan-kebesaran-hati-salman-al-farisi.html
Daily Jaman SMP Refleksi

Saya dan Nasyid (1)

Silakan Ngomen
Tadi sore sehabis nganter Istri ke tempat workshop crafty, kami mampir dulu ke Borma Padalarang. Bukan untuk menyapa si pemilik Borma karena saya tidak tau siapa dia, tapi mau membeli sesuatu. Sesuatu itu adalah parutan buat wortel supaya si wortel terpotong panjang-panjang gitulah.

Di Borma ketemu sama temen SMP yaitu dia si Yanda. Dia sama calonnya mau belanja sesuatu yang lupa saya tanyakan. Dia cerita kalo sekarang dia kerja di Dinas Pendidikan Bandung Barat. Minggu-minggu kemaren dia ada kegiatan di SMP dan ketemu beberapa guru yang ternyata masih ingat padanya. Salahsatunya adalah Bu Dewi.

Nah itu latar belakang dari apa yang akan saya ceritakan sekarang. Mengingat Bu Dewi saya jadi inget dulu pernah minjemin saya kaset nasyid Shaffix. Kalo tidak salah album pertama. Beliau menawari saya pinjaman karena beliau tau saya juga suka dengerin nasyid. Saya kenal nasyid pertama kali pada saat SD, yang mana ketika itu salahsatu abang saya dari uwa saya memberikan kaset nasyid Raihan album pertama miliknya kepada saya. Dari situ saya setel terus sampe hapal meskipun tidak dihapal, dan akhirnya suka.

Kembali ke Shaffix. Waktu itu saya pertama denger belum terlalu akrab sama lagunya. Jadi saya cuma putar sekali saja. Belum suka waktu itu. Ga kerasa sudah satu minggu saya pinjam dan saya baru setel itu kaset sekali atau dua kali. Ketika suatu saat bertemu sama Bu Dewi, saya ditanya lagu yang mana yang paling saya suka. Saya jawab satu lagu yang belakangan saya tau judulnya 'Dalam Doa'. Saya jawab itu bukan karena itu yang saya paling suka, tapi karena itu yang saya paling ingat. Tapi pada akhirnya saya suka juga semua lagu Shaffix. Saya jadi suka karena saya sering setel itu sehingga akrab di telinga.

Kesini-kesini saya paham bahwa orang menyukai suatu musik bukan karena faktor lagunya yang enak didengar saja, tapi juga karena sering didengarkan. Awalnya mungkin ada dorongan untuk menyetel berulang, apakah karena disuruh teman, guru, atau orang lainnya, atau karena penasaran, gengsi, biar dianggap gaul, respek, ataupun alasan lainnya. Tapi saya berani bilang awalnya pasti orang belum suka. Dia akhirnya suka dengan sepenuh hatinya karena ia sering mendengar, sampai akrab di telinganya, dan diterima oleh bawah sadarnya sebagai lagu yang enak didengar. Meskipun bagi orang selain dirinya lagu itu dianggap tidak enak atau bahkan mengganggu pendengaran.

Dari kesimpulan itulah saya belajar menghargai orang lain dan selera musik masing-masing mereka.
Daily Impression Refleksi Tafakur videos

Jangan Pernah Bilang "Huh!", Walau Bagaimanapun

Silakan Ngomen
Pernahkah kau sebagai anak merasa kesal atau sebel karena dimintai tolong sama mamahmu buat beli ini itu ke warung? Atau pernahkah kau sebagai cucu merasa kesal karena kelakuan nenekmu yang cerewet? Saya pernah mengalami keduanya.

Tidak ada alasan untuk membenci ibu dan ayah kita, nenek dan kakek kita, walau bagaimanapun. Tidak akan pernah ada alasan yang cukup melegitimasi kita untuk mendengus, apalagi membentak mereka, walau bagaimanapun. Sebodoh apapun mereka, seburuk dan sejahat apapun mereka. Bahkan ketika orang tua kita menyuruh kita untuk berbuat durhaka kepada Allah, kita tetap wajib memperlakukan mereka dengan baik/ma'ruf.

Silakan saksikan video ini, semoga menginspirasi.


chat Daily Refleksi

Kamu Minta Tapi Ragu Diberi

Silakan Ngomen

  • Tri: Jadi kapan lulus?
  • Tole: Pokoknya target tahun ini. Mohon doakan!
  • Tri: Seriusan tahun ini?
  • Tole: eeeu.. ga tau tah hehe.. Tapi pokoknya harus lulus tahun ini.
  • Tri: Percaya ga kalo Allah akan mengabulkan doa kamu?
  • Tole: Percaya lah, yakin seyakin-yakinnya. Kan di al-Quran juga begitu, setiap doa pasti Allah kabulkan.
  • Tri: Lamun misalnya, kamu berdoa, terus di dalam hati kamu, meskipun sedikit, kamu ragu Allah akan mengabulkan doa kamu, kira-kira Allah bakal ngabulin ga?
  • Tole: eeu.. ga tau tah. Tapi mestinya sih ngabulin..
  • Tri: Kamu minta, tapi kamu teh udah nyangka ga bakalan dikasih..
  • Tole: Jadi mesti gimana?
  • Tri: Kalo kamu sendiri masih ragu bakal lulus tahun ini, gimana Allah mau ngelulusin kamu, wong kamunya aja kayak yang ga serius gitu pengennya.
  • Tole: Iya sih, ongkoh (katanya) pengen lulus tapi kayak yang ga butuh lulus gini heheu..
  • Tri: Jangan ada sedikit pun keraguan bahwa kamu akan lulus tahun ini. Jangan ada halangan yang menghentikan kamu untuk bisa lulus tahun ini. Harus kukuh, sampe lulus! Maka Allah akan membantumu dengan TanganNya.
  • Tole: Baiklah! Pokoknya lulus tahun ini! Bisa ga bisa harus bisa!
  • Tri: Jangan ada kata 'ga bisa'!
  • Tole: Bisa!
  • Tri: Ya!
Daily Refleksi

Febtri, Azzam dari Cianjur

Silakan Ngomen

Malam ini saya kedatangan tamu istimewa. Kamu pernah baca novel atau film layar lebar Ketika Cinta Bertasbih? Disitu ada tokoh utama yang namanya Azzam kan? Nah malam ini si Azzam nginep di rumah saya karena besok temen kami mau nikah di Kotabaru Parahyangan Padalarang. Tapi Azzam yang ini bukan jualan bakso waktu kuliah di al-Azharnya, melainkan bala-bala. Namanya Febtri.

Febtri ini dulunya sekolah di Mualimin Benda Tasik juga bareng saya. Kami satu tim nasyid juga. Kami ngobrol sampe malam. Dia cerita banyak tentang pengalamannya waktu jadi mahasiswa di Kairo dan Sudan. S1nya di Al-azkar Kairo Mesir dan S2nya baru beres dua buln lalu, dari Omdurman Islamic University di Sudan. Dalam 7 tahun dia udah punya gelar Lc. dan MA.

Dia cerita tentang murahnya biaya hidup di Mesir dan mahalnya biaya hidup di Sudan. Dia juga
cerita tentang budaya hidup di masing-masing tempat. Pokoknya banyak yang bisa dijadikan pelajaran. Pengen ceritain semua tapi terlalu banyak.

Ah gitulah pokoknya. Banyak pelajaran yang bisa saya dapatkan darinya. Lain waktu mudah-mudahan ada kesempatan buat saya ceritain beberapa kisahnya.

Daily Menulis Refleksi

Akhirnya Senang Menulis

Silakan Ngomen

Parah, kemaren sama sekali lupa ga ngeblog. Ini bolos blogging pertama saya di program #odobp dan bolos pertama di bulan juni.  Tapi bukan bolos nulis karena kemarin itu saya juga nulis tapi nulis tutorial FlappyNyan buat edisi terbaru NyankodMagz. Kalo pengen tau tutorialnya, tunggu saja rilis terbarunya pertengahan juni ini.

Saya senang ada program ini. Saya sekarang merasa menulis itu sudah jadi kesenangan. Kalo dulu masih ingin senang, sekarang sudah merasakan. Inspirator penulis saya itu ada dua, yaitu Pidi Baiq dan teman saya Yoga ZaraAndritra. Keduanya memberi inspirasi tentang kesenangan menulis, bahwa menulis itu bukan soal tugas atau kasab, tapi menulis karena suka. Suka berbagi, suka bercerita, tak peduli tulisan saya jelek atau bagus, ada yang baca atau tidak. Kalo dulu blog saya itu cuma diisi oleh tutorial, cerpen dan lain sebagainya yang saya anggap bermanfaat buat orang lain. Sekarang saya sudah bisa tidak peduli. Kalo ternyata nantinya bermanfaat atau menginspirasi orang lain ya baguslah. Kalopun tidak maka minimalnya saya sudah belajar nulis hari itu.

Saya senang bisa menulis. Saya senang akhirnya anak-anak saya nanti bisa juga saya anjurkan buat menambah satu skill lagi yaitu menulis. Meskipun saya kurang setuju menulis disebut skill, tapi kenyataannya tidak banyak orang yang bisa menulis mau menulis.

Menulis membantu saya merekam bagaimana cara saya berpikir tentang sesuatu. Dari situ nantinya saya bisa memperhatikan bagaimana saya merevisi pemikiran saya. Menulis juga membantu saya menemukan solusi dari masalah-masalah terdahulu. Contoh sederhananya, kalo saya tiba-tiba galau tentang sesuatu hal, yang itu sudah pernah saya temukan solusinya atau alur berpikirnya, saya bisa dengan segera membenahi diri tanpa mesti mengalaminya dua kali.

Katanya, juga, dari buku yang pernah saya baca tentang menulis, menulis itu menyehatkan. Menulis juga, masih dari buku yang sama, membantu kita menelusuri permasalahan yang sedang dihadapi. Yang ini-ini masih belum saya rasakan. Tapi sepertinya saya cukup mengerti seperti apa itu.

Saya ingat dulu pernah membeli cukup banak buku tentang menulis. Overall, rata-rata semuanya menganjurkan untuk mulai menulis, kapanpun dimanapun. Hanya itu satu-satunya cara kalo ingin bisa dan senang menulis. Setelah sekian lama terpisah dengan wacana kepenulisan, akhirnya aku bertemu lagi dengan apa yang dulu kukejar. Ternyata benar saya buktikan, tidak akan seseorang menjadi pandai menulis kecuali dia rela menanggalkan sejenak perfeksionisnya untuk mulai berlatih menulis.

Menulislah, meskipun cuma satu ayat. Kata saya.

Daily doodle Refleksi Tafakur

Berlatih Doodle Berlatih Hidup

4 comments
Bingung nyari judul. Tapi maksudnya saya ingin bilang kalo selama seminggu terakhir belajar atau berlatih doodle, ada beberapa hikmah yang saya dapatkan tentang kehidupan dan beberapa formula untuk menjalani hidup.

Saya tertarik untuk berlatih doodle karena dari apa yang saya pahami, doodle punya karakteristik seni yang unik, diantaranya:

  • Secara bahasa doodle artinya coretan, gambar yang tak berarti, menggambar dengan melamun (kalo kata google translate). Doodle umumnya merujuk pada coretan yang dibuat seseorang ketika dia sedang menelepon, atau ketika lagi bete sama pelajaran di kelas, atau lagi ngelamun.
  • Sekarang doodle udah mulai dilirik sebagai suatu karya seni yang diperhitungkan karena karya-karya doodle sekarang sangat bisa dinikmati keindahannya, tidak sekedar coretan, tapi coretan yang rapi, enak dilihat, dan dapat diapresiasi, bisa jadi mengandung makna.
  • Doodle paling sederhana itu dibuat hanya menggunakan pensil atau pena. Yang rada serius biasanya pake beberapa jenis ukuran dan warna pena.
  • Karena judulnya coretan, jadi bisa dilakukan kapanpun dimanapun, tanpa beban.
  • Karena coretan, jadi ga ada alasan untuk menghapus bagian yang dianggap salah karena tidak ada yang salah dalam coretan.
  • Beberapa artis doodle mensketsa terlebih dahulu doodlenya menggunakan pensil baru kemudian ditegaskan oleh pena tinta.

Beberapa hikmah yang saya dapatkan dari berlatih doodle:

1) Pertama kali membuat doodle, saya meniru doodle yang sudah ada. Saya mencermati setiap variasi bentuk dan kombinasi garis. Hidup juga sama. Dalam banyak hal kita lebih sering meniru orang ketimbang mencari tau sendiri. Tapi begitulah seharusnya kalo pingin efektif dalam hidup. Dalam hal berkarya, konsep Amati-Tiru-Modifikasi adalah konsep yang efektif dan efisien. Pengalaman adalah guru terbaik, tapi untuk menjadi sukses tidak mesti mengulang kesalahan yang orang lain pernah lakukan.

2) Ketika membuat doodle, seringkali saya merasa ragu untuk menarik garis. Padahal tarik ya tarik saja. Urusan nantinya garisnya mencong atau buletnya benjol, ya tinggal timpa dikit-dikit biar keliatan pantes. Memang menarik garis lurus, kurva atau bulat yang rapi dalam satu tarikan itu bukan hal yang mudah. Tapi kalo ragu terus ya ga akan jadi jadi doodlenya. Dari hal ini saya belajar tentang keberanian untuk melangkah dan mengambil keputusan. Banyak orang yang melakukan kesalahan, tapi lebih banyak lagi orang yang enggan mengambil keputusan karena ragu dan takut salah. Takut salah itu baik, tapi tidak melangkah maju itu tidak baik. Hari ini harus lebih baik dari kemarin bermakna harus ada kemajuan dalam hidup, harus ada peningkatan kualitas hidup. Kemajuan dan peningkatan kualitas hidup tidak akan didapatkan bila hanya berdiam diri tanpa ada keputusan-keputusan yang jelas yang harus diambil. Beranilah mengambil keputusan!

3) Kenyataannya, meskipun aneh, tapi tidak ada larangan doodle tidak boleh disketsa terlebih dahulu. Membuat sketsa berarti membuat perencanaan supaya doodlenya bisa lebih bagus dan lebih rapi sehingga lebih punya potensi dalam menyampaikan makna kepada orang yang melihat. Begitu pula perencanaan hidup. Kadangkala kita berpikir perencanaan itu tidak perlu. Biarkan hidup mengalir seperti air. Tapi percayalah, merencanakan hidup itu strategi supaya hidup lebih bermakna dari sekedar air yang lewat hingga bermuara ke laut membawa banyak buih, sampah dan kotoran.

4) Ketika membuat doodle, pernah saya sampe stuck dan bingung mau nambah objek apa lagi didalamnya. Saya sampe merasa doodle yang ini sudah tidak bisa dilanjutkan lagi. Dari situ saya merasa bersalah (#lebaymode), tidak memberikan makna seutuhnya pada doodle tersebut. Hidup juga sama. Mungkin beberapa di antara kita pernah berpikir hidup ini sudah gagal, tidak punya peluang lagi untuk jadi lebih baik, bahkan mungkin kepikiran untuk mengakhiri hidup, na'udzubillah. Wooi, doodle ya cuma doodle, terlepas ia bermakna atau tidak untuk orang lain. Tapi hidup harus bermakna buat orang lain, bilapun memang kamu merasa hidupmu sudah tidak bermakna buat dirimu sendiri!

5) Ada banyak kesalahan yang saya buat ketika membuat doodle. Tapi selalu bisa diakali supaya tetep keliatan enak dengan menambahkan garis dan meratakan bagian-bagian yang dirasa kurang seimbang. Begitu pula hidup. Setiap anak Adam selalu melakukan kesalahan, dan sebaik-baik pembuat kesalahan adalah yang senantiasa memperbaiki diri (bertaubat). Selalu ada upaya untuk memperbaiki bagian yang salah, meski bagian yang sudah terlanjur hitam sekalipun.

6) Doodle menjadi bernilai karena ia adalah goresan tinta yang mengalir tanpa bagian-bagian yang dihapus. Kalopun tidak ada larangan menghapus atau menimpa dengan tinta putih, tapi pasti akan ada bekas. Berlatih doodle, saya belajar bagaimana membayangkan gambar di dalam pikiran untuk kemudian dituangkan di atas kertas. Mungkin hidup juga gitu. Kita mesti cerdas membayangkan visi kita di masa depan untuk menentukan tindakan kita hari ini. Kita juga mesti cerdas menimbang akibat apa yang akan timbul esok bila kita melakukan sesuatu hal hari ini. Pena telah diangkat dan lembaran-lembaran telah mengering. Tidak ada undo dalam doodle, begitu juga kehidupan.

Pada akhirnya saya berkesimpulan, baik doodle maupun hidup, keduanya memerlukan latihan untuk menjadi lebih baik dari waktu ke waktu.
Daily Mikir Refleksi Tafakur

Keep Calm and Nikmati Interaksi

2 comments

Hadits ini adalah hiburan buatku, ketika aku lagi down terutama dalam mengatur diri dalam hal berinteraksi. Kamu mungkin tidak mengira tapi postinganku kemarin tentang senangnya berinteraksi adalah salahsatu bentuk sugesti diri untuk tetap semangat melangkah menuju perbaikan. Apapun masalah yang kamu hadapi, yakinlah pasti ada jalan keluar, meskipun jalan itu tak tampak karena terhalang semak. Itu nasihat buat diriku.

Aku yakin tidak ada orang yang tidak punya masalah dengan manusia lain. Sejatinya manusia memerlukan sesamanya untuk memenuhi segala kebutuhan hidupnya, dalam hal apapun. Singkatnya manusia tidak bisa hidup sendiri, pun ketika ada fakta manusia yang mampu hidup sendiri di tempat yang sepi tanpa populasinya. Dan kau pun tau, masalah yang selama ini kau hadapi, jauuuh, jauh lebih sederhana dari apa yang dialami oleh orang yang paling sabar di dunia ini. Kau tau siapa?

Kau tau kisah seorang kelaki yang setiap harinya mendatangi seorang nenek buta di salah satu sudut pasar, dia membawa makanan dan menyuapi wanita tersebut. Dia tetap melakukannya sekalipun wanita itu senantiasa menghina dan memfitnah nama seorang lelaki yang nyatanya adalah dirinya sang lelaki. Tetapi lelaki itu tetap melakukannya, setiap hari, dengan penuh kelembutan, tanpa kebencian, hingga akhir hayatnya.

Seorang sahabat lelaki tersebut meneruskan kebiasaannya setelah ia wafat, mendatangi wanita tua nan buta tersebut, membawakan makanan dan menyuapinya. Sang wanita tua marah dan berteriak,

“Siapa kamu…!!!”

Sang sahabat menjawab, “Aku orang yang biasa“

“Bukan…!!! Engkau bukan orang yang biasa mendatangiku.” sahut sang wanita buta itu.

“Apabila ia datang kepadaku, tidak susah tangan ini memegang dan tidak susah mulut ini mengunyah. Orang yang biasa mendatangiku itu selalu menyuapiku, tapi terlebih dahulu dihaluskannya makanan itu, baru setelah itu ia berikan makanan itu kepadaku.”

Mendengar itu sang sahabat menangis sambil berkata “Aku memang bukan yang biasa datang kepadamu. Aku adalah salah seorang dari sahabatnya. Orang yang mulia itu telah tiada. Ia adalah Muhammad, Rasulullah SAW.”

Mendengar itu sang wanita tua nan buta menangis. Ia hampir tak percaya, lelaki yang selama ini dihinanya dan difitnahnya, adalah orang yang setiap hari memberinya makanan, menyuapinya, dengan cara yang sangat lembut. Sang wanita dan sahabat itu, Abu Bakar, larut dalam tangis, sekali lagi merasakan kehilangan seorang lelaki yang mereka kagumi, mereka sayangi dan ia menyayangi mereka. Tak ada manusia lain yang menandingi kesabaran dan kasih sayangnya kepada sesama manusia.

Mengingat sosoknya, sekalipun tidak pernah bertemu, memunculkan kerinduan dalam hati ini. Bahkan sesekali 'meragukan', benarkah ada orang seperti itu di dunia ini? Seketika pandanganku tertuju kembali pada diriku. Apakah aku bisa sedemikian sabar dan penuh kasih sayang seperti lelaki mulia itu? Atau aku hanya seorang yang senang menyendiri bersama komputer, menghabiskan hari demi hari tanpa meninggalkan sesuatu yang berharga bagi orang di sekitarku?

Mengingat dirinya yang indah membantuku mengembalikan semangat diri, untuk senantiasa melangkah, menjadi lebih baik dari diriku di hari yang lalu. Setiap kali ada konflik dengan manusia, aku selalu ingat satu pesan darinya, "Mu'min yang berinteraksi dengan masyarakat dan bersabar atas celaan mereka lebih baik daripada yang tidak berinteraksi dengan masyarakat dan tidak bersabar atas gangguan mereka." (arti dari tulisan di foto)

Siap! Aku menyambut nasihatmu, wahai manusia mulia, yang kemuliaannya datang dari Yang Maha Mulia. Aku masih berharap, bisa bertemu denganmu suatu saat nanti, meski dengan kondisi diri yang rasanya tak pantas untuk bersanding dengan dirimu. Terima kasih atas nasihatnya. Aku akan melanjutkan perjalanan.

mumble Refleksi Tafakur

Terlalu banyak hal di luar kekuasaanku. Andaikata tiada Engkau, siapa lagi yang mampu menolongku menghadapi itu semua?

Silakan Ngomen
Daily Impression nglamun Refleksi

Senangnya Berinteraksi

2 comments
Sumber: pixabay.com

Suatu ketika salah seorang temanku berkata padaku tentang dirinya, "Urang mah jelemana te pandai bersosialisasi" (saya ini orang yang tidak pandai bersosialisasi).

Perkataan itu mengingatkanku pada diriku, yang beberapa tahun lalu aku sering sekali mengatakannya. Waktu itu, jaman-jaman SMA (Sekolah Madrasah Aliyah), yang mana aku baru sadar kalo aku ternyata waktu SMP sombong. Padahal dulu SMP itu orang-orang udah banyak bilang aku sombong, tapi aku ga peduli. Aku hanya membela diri. "Pendiam itu bukan berarti sombong kan, Bu?" kataku pada wali kelasku.
"Tapi kamu mah da engga pendiem" jawab bu guru.

Baru pada akhirnya aku mengakui hal itu, di kelas transisi, SMP bukan karena sudah lulus, SMA pun bukan karena belum terdaftar. Rasanya seperti penghuni ashabul a'raaf, masuk neraka engga, masuk surga pun belum bisa. Harus nunggu dulu. Tapi SMP ga serupa dengan neraka, kecuali tentang aku yang waktu itu sombong. Kelas itu bernama DW (Diniyah Wustha). Sayangnya posting ini bukan pengen jelasin kisah di DW. Mungkin lain waktu saja. Anggap aja flashback. Sekarang kembali ke alur maju.

Setelah sekitar dua tahun masuk kuliah, aku bertekad untuk mendobrak kebiasaanku dulu yang boleh dibilang antisosial. Dulu, lebih baik mencari jalan lain daripada harus papasan dengan temen atau guru. Dulu, alih-alih menyapa duluan, yang ada malah aku angkat telepon lalu ngobrol dengan telepon. Dulu, daripada nyusulin dosen buat memperbaiki nilai yang BL, aku lebih memilih mengulang ngontrak mata kuliah. Alasannya sama, sebisa mungkin meminimalisir interaksi dengan manusia. Parah pisan! Padahal akunya juga manusia. Setelah lewat beberapa tahun ini, aku merasa berkembang, meskipun sindrom itu terkadang muncul.

Ternyata setelah memaksakan diri berinteraksi, belajar berbasa-basi, memulai menyapa dan tersenyum, ada sesuatu yang baru yang belum pernah aku temukan sebelumnya. Ada pengetahuan yang belum pernah aku cicipi sebelumnya. Ada kesenangan dan keasyikan tersendiri ketika bertemu orang-orang. Semuanya kurasakan selalu baru. Aku jadi senang memperhatikan orang-orang, kepoin orang. Dan hasilnya sungguh menakjubkan! Aku sudah tau kalo setiap manusia itu unik, tapi sekarang aku menyadarinya!

Pernah dulu punya ide buat bikin database temen-temen (lagi jamannya kuliah basdat). Disitu aku masukin semua data dan informasi temen-temenku, mulai dari biodatanya, hobinya, dengan nama apa mereka senang dipanggil, sampai hasil pengamatanku tentang mereka. Kalo kemaren nonton Sherlock BBC season 3, mirip kayak si Magnussen, cuma dia menyimpan semua informasi itu di kepalanya.

Malem kemarin aku abis kepoin (bahasa apa sih kepoin?!) anak ilkom yang punya sodara yang badannya lebih gede padahal ia adiknya. Tadi malem baru kepoin lagi anak ilkom yang ternyata dia punya saudara kembar. Awalnya aku kira dia punya dua akun FB, karena kedua nama akunnya yang panjang itu cuma beda satu huruf. Dia punya blog bagus dan enak dibaca. Kisahnya dan tulisannya juga menarik. Sekali lagi Allah mengajarkanku tentang manusia dan kisah mereka yang unik dan menarik.

Aku inget punya temen namanya Ricko, dipanggilnya Cko. Dia pernah bilang kalo dia ga bisa konsen ngoding, ga mood kerja, kalo hasrat berinteraksinya belum terpenuhi. Dia sampe punya jatah waktu khusus buat berinteraksi dengan orang-orang setiap harinya. Aku berandai-andai gimana rasanya begitu. Makanya senin kemarin itu aku sampe mentargetkan diri untuk menyapa minimal 10 orang setiap harinya sebelum memulai bekerja. But you may know, sisa-sisa sindrom antisosial itu masih ada di dalam diriku. Aku tidak melawannya, aku cuma membiarkannya supaya mudah-mudahan ia bosan untuk menghasutku lagi.

Malam ini jam 2, masih ada 3 orang terjaga di lab, 4 denganku. Ada Kukuh yang lagi all out bikin something special buat someonenya, Raksa yang lagi chatting sama cewe, dan Ghiffari yang lagi golar-goler mikirin tubesnya, sampe bujalnya yang nyembul itu melototin aku seraya bilang "kapan lo mau tiduuur??"

Daily Impression Mikir nglamun Refleksi

Bersedihlah Pada Waktunya

Silakan Ngomen
sumber: pixabay.com

Serupa dengan ungkapan 'buanglah sampah pada tempatnya', bersedih juga harus pada waktunya.

Kita seringkali atau kadang-kadang, gimana orangnya, bersedih. Bersedih bisa kapan aja. Bersedih kadangkala tidak mengenal situasi. Kadang lagi ketawa-ketiwi sama temen, tiba-tiba dapet kabar yang tidak mengenakkan, maka jadilah bersedih. Tapi ada juga orang-orang yang tiap harinya bersedih melulu, mau lagi di tempat rame ataupun sepi. Tiap menit kerjaannya termenung, manyun, ngelamun. Kadang sampe nangis. Bantal sampe berlumuran ingus, atau kalo di tempat umum tissue bertebaran dimana-mana. Yang ada orang bukannya iba, tapi jijay (jijik ya ampyuuun..).

Jangan dikira saya menduga-duga, karena itu memang benar. Tapi yang pasti saya juga pernah mengalaminya. Lalu saya inget-inget lagi perkataan Pidi Baiq, "jangan bersedih oleh karena kita dilahirkan dari ayah ibu yang bersenang-senang". Dipikir-pikir, bener juga. Ngapain sedih mulu, terkecuali bagi orang-orang yang emang hobinya sedih, yang sedih itu baginya adalah kenikmatan. Tapi jangan laah. Ga usah laah. Sedihlah secukupnya. Emang kesedihan itu bisa menggugurkan dosa, tapi jangan dibuat-buat juga.

Naah, muncul deh kata 'dibuat-buat'. Begitulah adanya, disadari atau tidak, mesti disadari. Pernah ga, kamu mengingat tentang masa lalu yang ga enak, lalu kamu bersedih? Saya pernah. Pernah ga kamu berpikir tentang sesuatu yang kamu khawatirkan terjadi di masa depan, lalu kamu bersedih? Whuoo saya pernah. Misalnya ngebayangin gimana nanti kalo orang tua saya meninggal. Dari situ saya sedih bahkan sampe nangis. Padahal kan orang tua saya belum meninggal. Okelah kalo dari situ saya langsung samperin orang tua saya, bercengkerama, ngobrol, minta maaf atas kesalahan, sun tangan. Tapi kalo tiap hari mikirin itu, lalu tiap hari sedih, sampe pengen tiap hari bareng mama-papah, sampe pengen tidur sekasur lagi sama mereka, sampe pengen disuapin lagi kalo makan, asa kacida ue euy! (kebangetan dah!).

Atau ada yang dibuat-buat yang lebih parah lagi. Misalnya, kamu yang punya pacar, ngebayangin gimana kalo nanti akhirnya putus sama pacar, lalu kamu bersedih saat itu, pernah ga? Setiap hari lagi mikir gitu. Tiap hari ga khusyu kuliah atau sekolah, gara-gara takut diputusin, padahal diputusin juga belum. Woi wooi, bangun, udah azan shubuh! Tapi saya pernah itu. Parah lah.

Malah ada yang lebih parah lagi. Kamu lagi suka sama cewe/cowo (yang lawan jenis okey..), terus tiap hari kepikiran aja wajah dia, senyum dia. Terus tiap hari juga kamu sedih. Sedih kenapa? Sedih, gimana kalo akhirnya kamu ga jadi sama cewe itu, atau gimana kalo ternyata dia jadian sama orang lain. Kamu galau. Eaa galauwww. Terus kamu mikir lagi, gimana kalo dia akhirnya nikah sama orang lain. Wadaaww, parah pisaaan. Belum jadian belum apa, udah takut ini itu. Mau jadi apa hidup, ga maju maju?? Eh, lu jangan tanya gue pernah apa engga yah, awas lu!

Udahlah, mending putuskan untuk menikmati hidup hari ini. Ga perlu risau dengan masa depan. Kebahagiaan itu katanya diciptakan, bukan dicari. Toh kesedihan pasti bakal datang. Ga ada orang yang ga pernah sedih. Maaf, orang yang katanya gila aja, saya pernah liat dia nangis! Udah itu ketawa lagi.

Poin utamanya adalah, bersedihlah pada waktunya. Jangan sia-siakan hidupmu hari ini dengan kesedihan yang ga perlu. Bersedihlah hanya pada situasi yang mengharuskanmu untuk bersedih. Emang bisa?? Cobain deh.. :)

Daily Impression puisi Refleksi Tafakur

Makan Bolu

Silakan Ngomen
Tiap aku makan kamu, enak, banget
lembut, manis, pulen

Tapi akan ada satu waktu
kau membuat dadaku meleg
selalu tiba-tiba

Seharusnya aku siapkan air ketika makan kamu
Atau sebaiknya aku tidak memakanmu lagi saja?

Cerpen Mikir Refleksi

Kenapa Aku Ada?

Silakan Ngomen
"Kenapa aku ada, kalo begitu? kalo ternyata keberadaanku hanya jadi pengacau bagi sekitarku?" Topan merenung, di atas sebuah motor biru tua yang tengah melaju kencang menyalip motor dan mobil di depannya.

"woi woi, sabar Brooo, gua ngeri nih dibonceng lu kayak gitu!" teriak suara Toha di belakang telinga si sopir motor itu. Topan memperlambat laju motornya, seiring melambatnya degup jantungnya. "lagi lagi kamu, menginterupsi setiap pertanyaanku!" Topan berbisik agak ketus.

"Bukankah aku ada untuk membantumu menemukan setiap jawaban atas pertanyaanmu, bukankah kita sepakat tentang itu, Top?" Toha tersenyum tenang, tatapan matanya sayu, seperti mencerminkan kelelahan dan rasa kasihan. "Kamu tahu, pertanyaanmu barusan adalah salahsatu dari pertanyaan eksistensial yang akan selalu dilontarkan setiap manusia yang sadar akan keberadaannya di dunia, yang tidak setiap manusia punya kesempatan untuk bertanya tentang hal itu"

"Kau tak perlu menyanjung, aku memang manusia. Aku berpikir, maka aku ada, begitu kan kata Descartes?"

"Begitulah kamu, sombong seperti biasanya hahaha.." celoteh Toha.

"Iya, aku memang sombong" tukas Topan. Wajahnya antara marah dan sedih, marah pada dirinya sendiri, sekaligus sedih karena tidak banyak yang bisa dia lakukan, atau lebih tepatnya yang dia ketahui tentang bagaimana merubah dirinya menjadi lebih baik.

"Lalu, sudahkah kau dapatkan jawabannya, kenapa kamu ada?" tanya Toha, alisnya naik.

"aku ga tau, kenapa aku ada. kenapa Allah menciptakan aku"

"lho, bukankah jawaban atas pertanyaan itu sudah ada?"

"bukan yang itu maksudku. Aku tahu dan aku berusaha yakin, atas jawaban yang sudah disediakan dengan begitu murahnya. kalo aku bertanya, kenapa Allah menciptakanku, jawabannya pasti karena supaya aku beribadah kepadaNya. Kalo aku bertanya lagi kenapa aku harus beribadah, jawabannya karena Allah telah menciptakanku. Hal itu akan selalu berputar di tempat."

"Lalu, masalahnya apa?" tanya Toha lagi, memancing.

"iya, lalu kenapa?" Topan mengangkat kedua bahu dan sebelah tangannya di samping.

"kenapa apa? pertanyaannya yang jelas dong hihi.." Toha ketawa kecil.

"iyaa.., kenapa, mesti seperti itu? Oke, biarkan aku mengeluarkan dulu semua yang ada di dalam pikiranku. Dan kalo kamu ga bisa membantuku mencari titik terangnya, kupikir kamu ga perlu lagi ada di sampingku."

"Baik, silakan"

"Oke. Aku ada. Disini, tapi entah dimana ini sebenarnya. Aku hidup bersama orang-orang disekitarku, tapi aku tidak pernah tahu siapa mereka sebenarnya. tempat-tempat itu, dan orang-orang itu, semuanya hanyalah identifikasi belaka yang dibuat oleh manusia untuk memudahkan mereka menyebut dan menemukan kembali. Bahkan tentang diriku sendiri. Siapa aku sebenarnya. Oke, itu pertanyaan yang lain. Yang pasti aku yakini, aku ada karena ada Tuhan yang menciptakanku. Aku menyebutnya Allah, sebagaimana Ia memperkenalkan diriNya di dalam kitabNya. Aku diciptakan oleh Allah, maka aku ada. Pemikiran ini tidak akan pernah ada andaikata aku tiada. Tapi, kalaupun aku tiada, orang yang kupanggil ibu sekarang tetap akan melahirkan anak dan menjadi keberadaan baru. Kalaupun aku tiada, istri dan anakku sekarang tetap hidup seperti halnya, dengan orang lain selain aku. Kalaupun aku tidak dilahirkan disini, dalam kondisi ini, mungkin aku akan tetap dilahirkan di tempat yang lain, sebagai orang lain, dengan kondisi yang lain. Mungkin aku yang sekarang adalah penolakan dari keberadaanku di tempat yang lain seperti pikiranku sekarang yang mempertanyakan keberadaanku hari ini. Dan itu sekaligus tidak mungkin karena pemikiran ini ada karena aku ada."

"Maka, .." Toha melontarkan kata setelah ia kira Topan selesai dengan renungannya.

"Maka apa, Toh?"

"Kau sudah tahu, dengan begitu kesimpulannya, keberadaanmu itu diluar batas kekuasaanmu, diluar sesuatu yang bisa kau pengaruhi"

"itu benar" Sejenak sepi, sepi dari obrolan. Yang terdengar hanya deru motor dan kendaraan lainnya di jalan itu. Setidaknya untuk Toha. Topan mungkin tengah asyik dengan keramaian di dalam pikirannya.

"Naah, berarti kembali lagi kan ke pertanyaanku tadi di awal? kenapa Allah menciptakanku? Kenapa Allah tidak menciptakan orang yang lain saja dan membiarkanku dalam ketiadaan??" Topan seperti menemukan jejak kakinya di padang pasir yang hilang tersapu angin.

"Pertanyaanmu seolah meniadakan penciptaan manusia" Toha, kali ini dengan nada agak berat.

"Maksudnya?" Topan bertanya dengan hati-hati.

"Ketika kamu bilang, kenapa Allah tidak menciptakan orang lain saja dan bukan kamu, kamu membayangkan dirimu dan manusia sebagai sesuatu yang memiliki kepala, dua tangan, dua kaki, memiliki tubuh seperti kamu sekarang"

"Lalu, aku masih belum menangkap apa maksudmu.."

"Pemikiranmu menolak untuk diciptakan itu muncul setelah kamu diciptakan. So, sekalipun Allah dahulu tidak menciptakan kamu dan menciptakan orang yang lain, apakah kamu bisa menjamin orang-orang itu bukanlah dirimu yang sekarang? Tidak ada yang tahu kecuali Allah. Intinya, Allah menciptakan siapapun, pasti tidak berharap pertanyaan itu muncul. Dan kamu tau apa artinya itu?" Tanya Toha.

"Itukah jawaban atas pertanyaanku?"

"Yap, bisa jadi. Kalo kamu bertanya kenapa Allah menciptakanmu, tujuan sebenarnya ada di dalam tujuan Allah menciptakanmu"

"Ibadah?"

"Yap, betul. Allah menciptakan Manusia dan Jin supaya mereka beribadah kepadaNya. Jawaban sebenarnya ada di dalam tujuan penciptaaan itu, ibadah. Wajar kalo kamu mempertanyakan hal itu. Sama seperti orang yang bertanya bagaimana rasanya eskrim paria, bisa dipastikan bahwa orang itu belum pernah mencobanya." Toha menjelaskan dengan apik.

"Dengan kata lain, beribadah itu tujuan dari penciptaan, tapi bukan alasan penciptaan. Beribadah itu jalan untuk menemukan alasan penciptaan itu. Begitukah?" Topan begitu gembiranya seperti menemukan sesuatu yang belum pernah ia dapatkan.

"Hahaha.. Boleh jadi. Kamu sendiri percaya kan kalo Allah tidak menciptakan sesuatu dengan sia-sia. Ada maksud di balik ini semua. Ada maksud di setiap masalah-masalah yang kamu temui. Aku kira, sepertinya kamu sudah membuka beberapa pintu rahasia. Pintu pertama adalah pertanyaan eksistensial. Bila seseorang sudah mulai mempertanyakan hal tersebut, maka itu artinya dia sudah membuka pintu pertama dan akan menemukan pintu kedua. Boleh jadi pintu kedua itu bukan pintu yang menutupi jawaban dari kehidupan ini. Boleh jadi ada pintu lagi di dalamnya dan ada pintu lagi didalamnya." Toha tersenyum. "Jadi kesimpulannya apa?"

"Aku berarti, harus mencari tahu ada apa di balik ibadah itu. Memang benar, selama ini aku akui, ibadahku belum benar. Tentu saja. Kalo sudah benar, mungkin aku sudah temukan jawabannya. Begitukah?"

"Ya, gitulah kira-kira. Barangsiapa yang mengajarkan dan tentu saja mengamalkan apa yang sudah ia ketahui, maka Allah akan mengajarkan padanya apa-apa yang tidak ia ketahui" Toha tersenyum lebar.

Topan merenung sejenak. Kembali sepi, selain hiruk pikuk jalan yang saat itu mulai macet. Namun kali ini kemacetan tidak membuat Topan gusar. Ada hal lain yang lebih menarik untuk dipikirkan dibanding mengeluhkan kemacetan.

Topan lalu bertanya lagi "Tapi, memangnya sesulit apakah mempertanyakan eksistensi? Terus kenapa harus mempertanyakan eksistensi?"

"Ada beberapa jalan seseorang menemukan kesadaran untuk mempertanyakan eksistensinya. Kamu, dengan kondisimu yang sedemikian sengsaranya, akan mempertanyakan kenapa ada begitu banyak masalah di dalam hidup, hingga akhirnya muncul pertanyaan kenapa aku hidup dan kenapa aku dilahirkan."

"Aku tidak sesengsara itu juga kali" Topan memicingkan mata.

"Hahaha.. tapi beruntunglah kamu memikirkannya ketika masih hidup. Masih ingatkah ayat yang menggambarkan penderitaan orang yang disiksa di akhirat sampai mereka berharap tidak pernah dilahirkan. Dengan demikian pertanyaan eksistensial yang muncul ketika seseorang masih hidup itu menjadi sesuatu yang penting." kata Toha sambil mengangkat telunjuknya.

"Baiklah. Kupikir, aku tidak perlu memikirkan apapun selain beribadah. Begitu kan?"

"Yups. Tetap ingat, ibadah untuk setiap tarikan nafasmu, bukan hanya untuk sekian menit sholatmu saja"

"In Syaa` Allah"

Topan melajukan motornya lebih cepat lagi. Kini dengan lebih mantap. Sekuat tenaga ia kesampingkan kesedihan dan sakit hati yang terus menggoda untuk singgah di hatinya. Tak ada seorang pun yang tahu bagaimana akhir hidupnya. Tak ada seorang pun yang dapat memastikan bagaimana nasibnya di akhirat kelak. Masalah datang dan pergi, seperti udara yang masuk dan keluar dari pernapasan.
Daily Refleksi

Bukankah ini Hidup

Silakan Ngomen
Seberapa sering kita bekerja keras banting tulang banting hape demi mencari sesuap nasi atau segumpal emas? Seberapa lama kita dilanda kejenuhan dalam bekerja sampe-sampe lupa bagaimana caranya menikmati hidup? Atau, kita memang tidak tau bagaimana caranya mensyukuri kehidupan?

Apakah setiap hari kita tidak pernah lepas dari ketegangan? Ga di kantor ga di kampus ga di rumah. Apakah mesti seperti itu seterusnya? Seingatku, bukankah Allah memerintahkan kita untuk tumaninah dalam sholat, meresapi makna ayat saat mengaji, bersyukur dan bersabar dalam hidup, melainkan supaya kita hidup dalam ketenangan?

Saya sudah 5 tahun kuliah, belum lulus. Dalihnya kuliah sambil kerja. Sampai saat ini kuliah belum kelar, penghasilan dari kerjaan juga kadang ga bisa nutupin kebutuhan hidup tiap bulannya. Nah, dari sini saya bisa lihat, ada statement penghasilan tidak mencukupi kebutuhan hidup. Kalo memang tidak mencukupi, kenapa sampai sekarang masih hidup ya?? Kalo ternyata masih bisa hidup, kenapa harus bersusah hati mikirin yang ga/belum bisa dicapai? Oke, kesimpulannya memang, kebahagiaan datang dari kesadaran hati untuk berbahagia. Karena hal yang sama akan terus terulang meskipun penghasilan sudah melebihi gaji presiden.

Mungkin bukan kebutuhan hidup yang tidak terpenuhi, tapi keinginan hidup. Kalo bicara keinginan, maka akan banyak sekali keinginan yang ingin dipenuhi, tidak akan habis dan tidak akan pernah cukup uang sebanyak apapun. Jadi solusinya memang bagaimana kita bisa mensyukuri apa yang bisa didapat dan apa yang belum bisa didapat.

Lho, kok yang belum bisa didapat juga disyukuri? Ya iya lah, kalo yang belum bisa didapat itu tidak disyukuri, bagaimana kita bisa menikmati hidup? Bukankah yang sekarang sudah didapat itu dulunya masih diingini? Dan bukankah lebih banyak lagi yang kita dapat yang tidak pernah kita minta? Dengan mensyukuri apa yang ada, berarti kita menikmati sesuatu yang dulunya belum ada. Dengan mensyukuri apa yang belum didapat, berarti kita meyakini setiap apa yang diingini juga akan kita dapatkan. Kita senang dan bahagia sebenarnya karena kita menikmati 'saat-saat' kita mendapatkan sesuatu, bukan karena kita mendapatkan sesuatu. Maka mensyukuri sesuatu yang belum didapat itu menjadi penting karena kita sudah mampu berbahagia sekalipun itu sesuatu tidak pernah kita dapatkan.

Tanpa kesyukuran maka kita akan selalu mengejar apa yang kita inginkan. Maka waktu pun habis untuk mengejar ini itu yang belum didapat dan belum didapat. Kita sampai lupa meluangkan waktu untuk bermain bersama anak dan istri. Kita lupa untuk makan bareng dengan orang tua. Kita lupa untuk menikmati pagi dengan berolahraga. Kita lupa menikmati keindahan pemandangan dari atas gunung atau dari pinggir laut. Kita lupa senangnya nonton kartun. Kita lupa menyegarkan otak dengan menggambar dan mewarnai, bermain musik sekalipun tidak bisa, atau bermain game. Kita lupa merasakan lapangnya hati ketika menjenguk teman atau sodara yang sakit, atau sekedar berkunjung dan bersenda gurau.

Jadi apa kesimpulannya?
geje Mikir Refleksi

Sambil Menyelam Minum Air, karena Hauskah?

Silakan Ngomen
Kita pernah denger peribahasa yang berbunyi "Sambil menyelam minum air". Saya kadang masih ga habis pikir, kenapa peribahasanya mesti begitu, untuk menjelaskan multiple task. Makna peribahasa itu adalah "mengerjakan suatu pekerjaan, dapat pula menyelesaikan pekerjaan atau masalah yang lain (wikiquote)" Kalo kita cermati hubungannya kira-kira seperti ini. Saya menyelam. Sambil menyelam saya juga minum air. Jadi ada dua aktivitas di satu waktu.

Yang saya permasalahkan adalah, kalo menyelam memang kita punya tujuan tertentu misalnya menangkap ikan, mencari kerang atau mutiara, sekedar diving atau snorkling. Ada tujuan dari menyelam itu. Maka menyelamlah sebagai sesuatu aktivitas dalam mencapai suatu tujuan. Sekarang, minum air. Saya minum air ketika haus. Maka, ada dua kemungkinan gambaran, menyelam sambil minum air yang diselami itu, atau menyelam sambil bawa air yang bisa diminum lalu meminumnya sambil menyelam.

Gambaran pertama adalah gambaran yang mungkn paling sering muncul ketika mendegar atau membaca peribahasa ini. Sambil menyelam minum air, air yang diselami. Masalahnya, apakah air yang diselami itu air bersih dan bisa diminum? Kecuali menyelam di laut dan karena air laut tidak bisa diminum sedangkan pada saat menyelam sudah keburu haus, maka minumlah ia air yang bisa diminum yang dibekel. Dan itu berarti gambaran kedua, sambil menyelam minum air yang dibekel.

Saya masih mempertanyakan, minum yang seperti apa yang sepenting harus dilakukan ketika menyelam? Saya nemu tulisan yang lumayan relevan adn menambah pembahasan dari tema ini. Tulisannya ini http://hakadosh.wordpress.com/2011/03/30/maksud-tersembunyi-dikala-sambil-menyelam-minum-air/. Dia menerangkan maksud peribahasa itu dengan cerita Adonia saudara tua Salomo yang meminang Abisag janda dari Raja Daud. Salomo menangkap ada maksud tersembunyi Adonia meminang Abisag sehingga ia mengatakan kepada ibunya,

"Tetapi raja Salomo menjawab ibunya: “Mengapa engkau meminta hanya Abisag, gadis Sunem itu, untuk Adonia? Minta jugalah untuknya kedudukan raja! Bukankah dia saudaraku yang lebih tua, dan di pihaknya ada imam Abyatar dan Yoab, anak Zeruya?”
(1 Raja-Raja 2:22)


Dari kisah tersebut kita menangkap maksud dari minum air itu adalah minum air yang diselami. Adonia menyelam dengan meminang Abisag, sambil menyelam dia juga minum air, yang berarti dengan meminang Abisag, berarti dia menikahi janda Raja yang otomatis menjadi pengganti raja itu. Dalam kondisi ini, meminum air yang diselami menjadi sesuatu aktivitas yang dianggap penting. Meminum air disini tergantung dari apa maksud dari aktivitas menyelamnya. Maka cerita di atas otomatis menjadi validator atas apa yang saya pertanyakan tadi.

Kesimpulan saya untuk pembahasan ini adalah, peribahasa ini cocok diterapkan dalam satu kasus dimana seseorang menyelam, yang dengan maksud menyelam itu dia menganngap minum air yang diselami itu adalah suatu aktivitas yang penting. Demikian.
Bisnis Daily Refleksi

Saya Ingin, tapi Saya Malas, Gimana Dong

Silakan Ngomen

Sudah berapa banyak keinginan kamu yang belum tercapai? Atau saya ganti pertanyaannya, sudah berapa banyak keinginan yang sudah kamu tuliskan, dan sudah tercapai? Kenapa belum tercapai? Belum ada dana, modal, waktu? Belum ada niat? Atau masih males dan mending nunggu keinginan itu datang dengan sendirinya?? :P

* * *

Sudah jadi kebiasaan dan kesepakatan saya dan istri, kalo ada kedai ramen baru di Bandung dan sekitarnya, pasti bakal kami sambangi buat kami coba. Ketertarikan kami pada ramen membuat kami ingin membuat kedai ramen sendiri. Sayangnya sampai saat ini keinginan tersebut belum juga terlaksana, padahal dari sekian kedai ramen yang pernah kami kunjungi ada satu kedai yang menawarkan ke saya buat buka cabang. Sayangnya, dan saya benci mengakuinya, belum juga terealisasi karena alasan modal. Bukan modal uang yang jadi faktor utama, tapi modal waktu. Saya masih ragu kalo harus buka toko atau kedai ramen sedang saya masih kuliah. Ada banyak kekhawatiran yang ga perlu, takut kuliah terbengkalai (padahal ga bisnis pun kuliah tetap berantakan), takut sepi (padahal dagang aja belum), dan lain sebagainya. Alhasil keinginan tinggal keinginan.

Ada banyak keinginan yang tidak kesampaian. Dulu, saya suka bikin poster-poster target pencapaian. Tapi dari sekian banyak poster yang saya bikin, mungkin cuma 5% saja yang berhasil dicapai. Masih untung sih, tapi mestinya bisa lebih banyak lagi.

Dari sini saya berkesimpulan, bahwa keinginan saja tidak cukup untuk mencapai sesuatu. Oke, saya tau ini nasihat usang. Saya sudah sering mendengarnya di banyak media seperti buku dan seminar. Tapi, ternyata tidak cukup nasihat untuk menggerakkan seseorang untuk mencapai sesuatu. Disinilah pentingnya sebuah kesadaran atau yang suka saya bilang dengan istilah ngeh. Ke-ngeh-an ini biasanya saya dapat ketika saya sudah mengalami atau menemukan sendiri sesuatu yang dulu masih katanya, kata orang tua, kata guru, kata dosen, kata ustadz, kata motivator. Kembali ke pembahasan tentang keinginan, hal ini saya alami sendiri. Keinginan hanyalah keinginan kalo kita tidak bergerak atau tergerak untuk beraksi.

Jadi, kalo judulnya "Tidak Cukup Ingin", maka sesuatu yang kurang untuk melengkapi keinginan itu adalah tindakan. Saya yakin, semua orang yang memiliki keinginan atau target, punya harapan supaya keinginannya terealisasi. Saya juga yakin, kalo semua orang termasuk saya, sudah pada-pada tau kalo keinginan tidak akan pernah terwujud kalo tidak disertai tindakan, betul? Yang menjadi masalah sebenarnya bukan keinginan yang tidak terealisasi karena tidak ada aksi. Masalahnya adalah banyak orang tidak tau bagaimana merealisasikan tindakan.

Kalo saya punya keinginan mendirikan kedai ramen, maka saya harus tau apa saja peralatan yang diperlukan untuk sebuah kedai ramen, bagaimana resepnya, bagaimana cara memasaknya, dan terutama bagaimana caranya supaya gambaran kedai ramen di pikiran saya bisa berwujud nyata di depan mata saya. Kalo saya punya keinginan untuk berlibur atau sekolah ke Jepang, maka saya harus tau dulu seperti apa Jepang, bagaimana cara berangkat ke Jepang, berapa ongkosnya, berapa biaya hidupnya, darimana saya bisa dapat informasi wisata dan kuliah di Jepang. Kalo kita tidak tau apa saja yang diperlukan untuk mencapai sesuatu, kita tidak akan pernah bertindak karena tidak tau harus mulai dari mana. Maka langkah pertama untuk merealisasikan tindakan adalah mencari tau ilmu tentang hal tersebut dan bagaimana cara membangunnya. Dengan bekal ilmu tersebut maka kita bisa melangkah ke step selanjutnya, yakni memetakan langkah.

sumber: http://pixabay.com/en/if-the-sempio-noodle-feast-203499/

Misalkan sekarang saya sudah tau bagaimana cara merealisasikan sebuah kedai ramen. Saya sudah tau resepnya, sudah tau bahan-bahannya, peralatannya apa saja. Saya sudah punya target tempat yang bagus, saya sudah hitung keperluan untuk membangun kedainya (karena membangun usaha pasti butuh modal). Maka saatnya memetakan langkah. Untuk mendapatkan semua bahan dan peralatan maka saya harus punya modal untuk membelinya. Kalo tidak punya modal saya bisa cari teman yang bisa diajak kerjasama dan satu visi untuk membangun kedai ramen. Dicoba dulu resepnya, kalo sudah mantap berarti tinggal membangun kedai, kalo resep ramennya masih belum bisa mantap mungkin saya harus cari resep yang sudah teruji rasanya, apakah mengajak kerjasama teman dari jurusan tata boga atau ajak kerjasama orang yang sudah punya resep ramen dan sudah jualan dan rasanya enak. Kemudian bangun kedainya. Cari beberapa tempat yang cocok dan sesuai dengan target pasar ramen. Kesampingkan dulu harga sewa. Pilih salahsatu yang paling bagus. Hitung ulang anggaran. Kalo tidak bisa dapet investor buat sewa tempat dan membangun kedai, maka langkah alternatifnya adalah udunan bersama teman-teman dan cari lokasi yang ekonomis. Bangun kedainya. Pasang peralatan dan bahan untuk hari pertama, persiapan selesai. Kedai ramen sudah bisa dibuka.

Ketika saya memetakan langkah di atas, otak kritik saya terus saja menghalau, bagaimana kalo gini, bagaimana kalo gitu. Tulisan di atas saya buat agak simpel biar tidak ngayayay. Tapi intinya seperti itu. Maka kita lihat di tulisan itu saya buat beberapa kemungkinan dari yang paling ideal sampai yang realistis menurut otak kritik saya. Tidak apa-apa, jangan dilawan, tulis saja bagaimana dia mau. Tulis terus semua kemungkinan sampai kita menulis langkah terakhir menuju keinginan, sampai tulisan itu berhenti di kalimat apa yang kita inginkan. Maka, langkah kedua merealisasikan tindakan sudah terlaksana, memetakan langkah.

Catatan: sebenarnya ketika kita sudah melakukan dua aksi diatas, itu sudah berwujud tindakan. Tapi saya tidak memasukkan dua hal ini ke dalam tindakan mencapai keinginan, melainkan pra-tindakan karena dari dua aksi ini (cari informasi dan memetakan langkah) kita belum mencapai apapun dari keinginan, dan ada kemungkinan untuk keinginan itu tidak terealisasi dan tidak pernah terealisasi.

Langkah pertama mencari informasi sebenarnya lebih sulit daripada memetakan langkah. Tapi ada yang jauh lebih sulit dari dua tadi, yakni bagaimana supaya tubuh kita tergerak untuk menjalankan langkah yang sudah dibuat. Untuk itu diperlukan kesadaran atau ke-ngeh-an untuk memulai. Maka langkah ketiga adalah mencari kesadaran atau kengehan. Ini menjadi yang terpenting. Inilah kompor utama yang membuat kita mau bertindak.

Saya ga habis pikir, saya sudah tau banyak informasi tentang kedai ramen, saya sudah memetakan langkah, tinggal dijalankan saja tho?? Tinggal dijalankan saja itu langkah-langkahnya sesuai prosedur yang sudah dibuat, terlepas ada kendala lapangan atau tidak itu kan urusan belakangan, yang penting sudah mewujudkan tindakan! Ah, itu sih sayanya aja yang kelewat males atau kurang motivasi untuk merealisasikannya. Nnaaaah, ini dia masalahnya, yang membuat keinginan tidak pernah tercapai, atau yang membuat kita tidak pernah merealisasikan tindakan.

Ada satu faktor yang membuat kita bersemangat atau enggan melakukan sesuatu. Kuncinya ada disini. Kesadaran, consciousness. Bisa berbentuk kenikmatan, semangat, kegigihan, oportunis, perfeksionis, cinta, keterancaman, dan hal-hal lain yang bisa menggerakkan.

Ketika seseorang dikejar anjing, atau bahkan harimau di hutan, orang itu sontak akan berlari sekencangnya. Dia telah beraksi, bentuk aksinya berlari menghindari kejaran. Ada hal yang membuatnya ingin berlari dan akhirnya berlari sekencangnya. Saya bisa bilang hal penyebab tersebut adalah keterancaman. Dia membayangkan bagaimana kalo dia nanti ketangkep itu anjing atau harimau, betapa ngerinya. Kesadaran tersebut membuat (1) dia ingin berlari dan (2) akhirnya berlari. Kita lihat kesadaran ini mempengaruhi keduanya, keinginan dan tindakan. Can you realize that? :)

Contoh barusan kita lihat salahsatu langkah untuk membangun kesadaran, dimana kesadaran untuk bertindak bisa ditumbuhkan justru dari motif awal kenapa kita ingin sesuatu. Untuk memanfaatkan teori ini kita bisa menerapkan teknik heaven approach dan hell approach, pendekatan surga dan pendekatan neraka hahaha.. Maksudnya, kita mencari dan mendaftar apa saja keuntungan yang bisa kita dapatkan kalo kia mencapai suatu keinginan dan apa kerugian yang diakibatkan kalo kita tidak merealisasikan keinginan tersebut. Hell approach katanya punya efek lebih besar dari heaven approach, tapi menurut saya dua-duanya harus ada. Heaven approach punya daya ketika kita lagi malas atau lesu saat berproses, heaven approach juga punya daya penyemangat dan membentuk visi/gambaran masa depan.

Kasus lain. Pernah ga kamu melakukan sesuatu yang awalnya keterpaksaan tapi lantas mejadi kebiasaan atau kamu mendapatkan keuntungan dari kegiatan yang dipaksakan tersebut? Pasti pernah, meskipun lupa apa aja hehe.. Nah, dengan keterpaksaan akhirnya kita bertindak, meskipun awalnya kita tidak ingin melakukan hal tersebut. Disini kita bisa lihat, tindakan terealisasi meskipun tidak memiliki keinginan. Nah, karena target kita adalah merealisasikan tindakan, maka cara ini juga bisa diterapkan.

Lalu bagaimana membentuk kesadaran terpaksa? Coba ingat-ingat lagi, kegiatan apa saja yang terpaksa yang pernah kita lakukan dan mengapa kita terpaksa melakukannya? Biasanya karena ada tekanan dari satu pihak, apakah orang tua, guru, tuhan, sekolah, kantor, yang biasanya pihak tersebut punya wewenang atau kekuatan untuk memberikan tekanan. Untuk mensimulasikan keterpaksaan ini, berarti kita harus cari satu pihak yang punya kekuatan untuk menekan. Misalnya, untuk contoh kasus kedai ramen, mungkin saya bisa coba pinjam uang ke orang tua atau sodara atau bank atau orang lain sehingga saya punya keterpaksaan untuk merealisasikan keinginan dan segera melunasi utang. Saya tidak menganjurkan hal ini, tapi biasanya keterpaksaan punya kekuatan yang besar untuk kita merealisasikan tindakan.

Contoh lain misalkan seperti yang saya dan teman-teman saya lakukan untuk menggiatkan blogging. Saya dan teman-teman saya di lab kampus punya keinginan blogging tiap hari. kami bersepakat untuk berkeinginan menulis blog tiap hari. Tapi kenyataannya keinginan seperti ini sudah lama dipunya dan selalu gagal terealisasi. Alhasil, kami menerapkan teknik kesadaran berupa keterpaksaan  untuk mendorong kami menulis. Kami bersepakat untuk blogging tiap hari, dan konsekuensi bagi yang tidak blogging hari itu harus mentraktir makan teman-teman lain. Dari sini muncullah keterpaksaan. Kami berpikir, mending nulis daripada nraktir. Maka muncullah hell approach. Bedanya, disini kita membentuk sendiri keterpaksaan itu. Alhasil hingga hari ini saya masih tetep menulis, dan mulai menikmati menulis. Yeeaaah.. Thanks Guys! Thanks God! ;D

Ada banyak hal yang bisa kita eksplorasi untuk membangun kesadaran dalam rangka merealisasika tindakan. Dari penjelasan ini kita bisa lihat orang yang rajin sekalipun tetep membutuhkan kesadaran akan sesuatu untuk tetap konsisten. Kesadaran orang yang rajin belajar bisa berupa kenikmatan belajar atau apapun. Coba tanya deh ke orang yang rajin kenapa dia rajin. Kalo saya orangnya malas, makanya saya cocok jadi programmer hehehe.. #what_the..

Intinya, saya pingin bilang, untuk mencapai keinginan itu diperlukan tindakan, dan untuk dapat bertindak kita mesti punya kesadaran atau motivasi yang dengan itu kita bisa bertindak. Tidak ada tindakan yang tidak bisa dilakukan, selama kita tau bagaimana kita melakukannya.