Labels

Cari di blog ini

Tampilkan postingan dengan label Mikir. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Mikir. Tampilkan semua postingan
belajar Kewirausahaan Mikir Mindset Pendidikan Refleksi Tafakur

Kepatuhan Hadir Karena Adanya Pemahaman

Silakan Ngomen

Suatu hari saya mengikuti gathering BP di sebuah hotel di Bandung. Pematerinya adalah mas Adrian Maulana dan Mas Ade Rai. Yang akan saya bahas ini adalah diantara hal penting yang membangun mindset baru buat saya.


Sebagai muslim kita mampu taat untuk menjalankan kewajiban agama. Beberapa diantaranya bahkan kita sudah lakukan meskipun kita tidak sadar kalau agama pun memerintahkan hal tersebut.


Contohnya, kita rajin mendirikan sholat wajib 5 waktu. Kenapa kita mau dan rajin melakukannya? Karena kita tau pentingnya menjalankan hal tersebut, karena kita paham akibatnya kalau tidak menjalankan. Kita paham mengapa kita perlu mendirikan sholat, makanya kita berusaha keras untuk konsisten melakukannya. Orang yang masih belum konsisten mendirikan sholat artinya belum paham.


Contoh lain yang lebih sederhana. Kita mungkin pernah begadang saat ada pekerjaan yang menuntut diselesaikan malam itu. Padahal kita ngantuk, tapi kita terus berupaya menyelesaikannya. Kita melakukannya karena kita paham kalau tidak selesai, akan ada akibat yang cukup fatal yang kita dapatkan. 


Tapi ada juga orang yang begadang cuma buat sekedar scroll scroll medsos. Ga ada manfaat yang signifikan yang bisa didapatkan dari bersosmed tengah malam, tapi dia terus saja begitu meskipun terkantuk-kantuk. Dia artinya tidak paham kalau tidur itu lebih penting daripada begadang ga jelas. Andaikata dia paham, tentulah dia akan memaksakan diri tidur apalagi kalau sudah ngantuk ketimbang begadang.


Ada orang giat bekerja ngantor jam 9-5. Serajin itu dia pulang-pergi kerja karena dia paham kalau ga maksimal kerjanya, dia bisa dapat teguran dari bosnya, yang imbasnya ke terancamnya karir dia di kantor tersebut. Andaikata dia tidak paham akan hal itu dan masuk kerja seenaknya, tentulah dia akan cepat dipecat.


Hubungannya dengan kesehatan, Mas Ade Rai melajutkan pembahasan. Kalau kita bisa sedemikan patuh pada ajaran agama, kewajiban bekerja, dan sebagainya, mengapa tidak kita juga patuh untuk rajin berolahraga. Kebanyakan orang malas berolahraga karena dia tidak paham pentingnya olahraga. Dia hanya sekedar tau kalau olahraga itu penting, tapi dia tidak benar-benar paham bagaimana bisa hal itu penting untuk kesehatannya.


Maka di satu jam setengah sesi itu mas Ade Rai fokus membangun pemahaman kepada kami para audiens tentang pentingnya olahraga. Bahkan saya sendiri, dengan pemahaman baru yang beliau tanamkan, membuat saya dengan senang hati dan bersemangat untuk konsisten berolahraga. Dan itu adalah pengalaman yang luar biasa.


Mindset yang penting yang mengatakan bahwa Kepatuhan Hadir Karena Adanya Pemahaman dapat diterapkan di berbagai aspek. Dan itu bisa menjadi patokan hidup kita bahwa, apapun yang ingin kita lakukan dalam hidup secara konsisten dan senang hati, maka kita harus terlebih dahulu menemukan pemahaman akan hal tersebut.

belajar Daily Family Mikir

Progress Belajar Lagi Ilmu Nikah

Silakan Ngomen

Ditinggal Wafat Istri

Saat tulisan ini ditulis, sudah 8 bulan sejak kematian istri saya. Istri saya wafat pada tanggal 19 Desember 2019. Bulan-bulan awal adalah situasi yang sangat menyedihkan. Ga perlu dijelaskan bagaimana menyedihkannya karena memang sulit. Tapi satu hal yang selalu membuat saya merasa harus kuat adalah ingatan saya kepada Rasulullah Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam, yang punya perjalanan hidup yang jauh lebih berat dibanding apa yang saya sedang alami. Saya ditinggal wafat istri saya, sedangkan Rasulullah ditinggal wafat istri pertamanya Khadijah radhiyallahu anha dan juga paman terkasihnya Abu Thalib, yang selama itu mengurus, mendukung dan melindungi beliau selama berdakwah di Makkah. Keduanya meninggalkan Rasulullah di tahun yang sama. Lebih jauh lagi beliau sudah ditinggal ibu dan ayahnya sejak lama, dittinggal kakeknya juga. Allah masih menyisakan untuk saya 3 orang anak yang lucu dan baik, juga masih punya orang tua yang lengkap. Sedangkan Rasulullah diuji dengan ditinggal wafat semua anak-anak laki-lakinya saat kondisi masih balita. Kalau aku harus larut dalam kesedihan, maka sesungguhnya Rasulullah-lah yang jauh lebih pantas untuk berlarut dalam kesedihan. Tapi beliau tampil di depan ummat dengan gerakan move on yang luar biasa. Tiadalah beliau dapat demikian kecuali karena bergantungnya hanya kepada Allah, sehingga Allah menguatkan dan meneguhkan hati beliau. Maka dari itu, sudah sepantasnya bagi saya untuk juga bergantung hanya kepada Allah, dan memohon kekuatan kepadaNya.

Itu adalah satu paragraf yang akhirnya bisa saya tulis dan saya ringkas tentang perjalanan move on saya setelah ditinggal istri. Awalnya ingin dibuat artikel khusus. Tapi saya lebih ingin larut dalam doa mendoakan istri saya daripada larut dalam dalam sedih dan ratapan. Maka titik ini adalah titik move on saya atas kondisi tersebut. Bismillah.

Belajar Lagi Ilmu Nikah

Kira-kira sejak bulan ke-3 setelah kematian istri, baru mulai terpikirkan untuk menikah lagi. Terutama setelah salah satu guru saya menasihatkan kepada saya untuk menikah lagi. Beliau berkata, bahwa Imam Ahmad bin Hanbal saja menikah lagi di hari ke-3 setelah ditinggal wafat istrinya. Saat itu saya bilang kalau saya tidak sesoleh Imam Ahmad. Beliau lalu menimpali dengan bilang, "Ya minimal amalan menikah laginya dicontoh" hehe..

Setelah itu saya mulai berpikir untuk menikah lagi. Tapi banyak pertimbangan, jauh lebih banyak ketimbang saat mau menikah dulu. Sekarang saya punya anak tiga. Ada banyak kekhawatiran apakah istri saya nanti akan dapat berinteraksi dengan baik dengan anak-anak saya. Belakangan hal ini tidak terlalu menjadi kerisauan karena setelah bulan ke-4 saya mulai terbiasa dengan kondisi anak-anak sekarang yang tanpa ibu. Wildan dan Milki tinggal bersama saya di rumah mamah dan mamah yang lebih banyak mengurus mereka terutama saat saya pergi bekerja. Kia anak ketiga saya tinggal bersama ibu mertua saya dan saya selalu menengok dia satu sampai dua kali seminggu (yang mestinya lebih sering karena jarak dari rumah mamah ga jauh, cuma beda dua desa saja). Artinya istri baru saya mestinya tidak akan terlalu diberatkan nantinya setelah kami menikah.

Namun kemudian ada pemikiran baru, apakah ada wanita yang mau menikah dengan duda anak tiga hahaha.. teman-teman saya menghibur dengan berkata bahwa usia saya masih relatif muda untuk menikah lagi. Harusnya untuk saya tidak sulit menemukan pasangan hidup baru. Oke, itu cukup menghibur hehe..

Dari situ akhirnya saya mulai belajar lagi ilmu nikah. Saya upgrade pemahaman saya. Saya banyak mendengar materi-materi nikah dari para asatidz di Youtube, diantaranya dari ustadz Nuzul Dzikri dan ustadz Felix Xiauw. Ternyata banyak persepsi baru yang selama ini saya tidak miliki. Banyak muncul juga penyesalan di dalam diri, kenapa dulu selama 10 tahun menikah dengan Rinei saya tidak begini dan begitu. Saya berusaha keras menerima diri saya yang sangat banyak kekurangan dan kesalahan selama 10 tahun menikah. Akhirnya saya bisa menerima itu sebagai hasil belajar dari pengalaman saya. Kedepannya seharusnya saya bisa menjadi pribadi yang lebih baik lagi.

Gagasan tentang Taaruf

Saya berdiskusi dengan banyak kawan dan sahabat saya. Salah satunya N yang juga tetangga seberang rumah saya. Dia belum menikah. Usianya mungkin 1-2 tahun di bawah saya. Dia membawa konsep taaruf sebelum menikah. Taaruf yang dimaksud adalah berkenalan lebih dalam dengan calon pasangan, baik itu sudah pernah kenal ataupun belum. Untuk teman taaruf yang baru kenal, kita menggunakan media CV taaruf. CV ini mirip seperti CV yang biasa kita gunakan saat melamar pekerjaan ke sebuah perusahaan. Isinya ada profil pribadi, riwayat pendidikan, riwayat pekerjaan, plus beberapa tambahan seperti gambaran fisik pribadi, harapan gambaran calon pasangan, visi misi pernikahan dan gambaran setelah menikah. Tujuan CV ini untuk menjadi filter awal kecocokan dengan calon pasangan nanti. Jadi sebelum bertemu atau berkomunikasi langsung, akan ada pihak penengah (biasanya asatidz di sebuah lembaga atau komunitas) yang akan mencocokkan CV laki-laki dan perempuan. Harapannya supaya saat dihubungkan untuk proses taaruf dan berdiskusi bisa lebih cepat dan fokus ke pembahasan yang lebih dalam.

Awalnya saya berpendapat lebih baik menikah dengan orang yang sudah pernah kenal sebelumnya. Sehingga penyesuaiannya bisa lebih mudah. Tapi N mengatakan justru proses taaruf, plus dengan bantuan CV taaruf ini kita bisa kenal lebih dalam, jauh lebih dalam dibanding dengan orang yang kita anggap pernah kenal sebelumnya. Dari CV taaruf saja sudah tertuang hal-hal spesifik dan cukup mendalam tentang calon pasangan kita. Di tahap taaruf pun masing-masing pihak sudah dalam kondisi siap membuka diri memberi penjelasan tentang kondisi yang perlu diketahui oleh lawan bicara. Satu hal yang juga penting, proses ini mesti ditempuh dalam koridor aturan syari, seperti tidak boleh berkhalwat, harus ada pihak ketiga yang menemani. Hal ini nampaknya akan sulit diterima bagi penganut kenalan dengan berpacaran.

Belakangan saya tawarkan gagasan taaruf ini kepada salah seorang sahabat saya S yang juga belum menikah. Dia adalah teman seangkatan di pesantren. Dan dia termasuk yang sulit untuk menerima gagasan taaruf ini. Alasannya karena katanya beda circle. Orang-orang yang menjalani proses taaruf ini biasanya ada di lingkaran santri, anak-anak remaja hijrah dan kalangan soleh lain yang dia merasa dia tidak cukup soleh untuk menempuh proses ini. Selain itu, dia juga berpikir akan sulit untuk menemukan kecocokan hanya dari proses yang singkat seperti ini. Dia harus mengenal calon pasangan dengan mengobrol lebih dalam dan intensif sampai ketemu kecocokan atau ketidakcocokannya.

Satu hal yang saya garis bawahi dari penjelasan S adalah, bahwa pernikahan itu adalah ibadah yang lama, sehingga tidak baik bila tergesa-gesa dalam mengambil keputusan siapa yang akan menjadi pasangan kita nantinya. Lebih baik menunggu sedikit lebih lama daripada terburu-buru menikah tapi akhirnya tidak bahagia karena menikah dengan pasangan yang tidak pas. Pendapat ini saya aminkan, sehingga yang tadinya saya cukup bersemangat untuk menyegerakan menikah, akhirnya mulai lebih tenang untuk melakukan persiapan lebih matang lagi. Saya pun memutuskan untuk belajar lagi. Saya merasa masih ada kepingan puzzle yang belum lengkap untuk hal ini.

Update Belajar Ilmu Menikah

Di hari saya menulis tulisan ini, saya mengikuti materi seminar dengan tema nikah. Seminar pertama adalah event Kuliah Pra Nikah online yang diselenggarakan oleh @KUASkuad. Seminar yang pertama diselenggarakan di waktu siang setelah waktu sholat zuhur. Kuliah pranikah ini sudah saya mendaftar beberapa hari sebelumnya dan merupakan rangkaian materi selama 3 hari kedepan.

Kuliah Pra Nikah materi pertama diisi oleh ustadz Hendra Ubay dan ustadz Rifky Jafar Thalib. Bentuknya lebih ke talkshow menjawab pertanyaan-pertanyaan umum seputar pranikah. Event ini disiarkan via Instagram live. Ada beberapa poin penting yang saya garisbawahi dari materi ini yang paling berkesan buat saya.

Pertama terkait kriteria kecocokan dengan calon pasangan. Awalnya saya punya kesimpulan bahwa kita harus memilih pasangan yang cocok dengan diri kita. Kecocokan ini mesti dibahas dari banyak sudut pandang, mulai dari level pemahaman agama, latar belakang keluarga, tingkat ekonomi, kesehatan fisik dan psikis, sampai penampilan fisik. Saya melihat ada tantangan untuk menggali kecocokan seperti ini, bahwa butuh waktu yang entah berapa lama untuk taaruf sampai kita merasa cocok atau tidak cocok. Ketika sudah merasa cocok pun, akan ada kekhawatiran akan hal-hal yang tidak dapat kita gali dan ketahui. Terkait kekhawatiran ini terjawablah di dalam kuliah materi pertama ini.

Ada pertanyaan seperti ini: "Kalau tidak pacaran ga akan bisa kenalan". Jawaban dari ustadz Rifky seperti ini. Bahwa persepsi itu adalah syubhat yang hari ini tengah menjangkiti kaum muda kita. Islam adalah pedoman hidup yang lengkap. Untuk urusan sederhana seperti makan dan buang air saja ada aturan rincinya. Apalagi urusan ibadah besar seperti nikah, maka mestilah Allah memberikan sarana untuk menempuh itu. Konsep yang ditawarkan oleh Islam adalah taaruf, yakni bertanya kepada calon pasangan terkait banyak hal sebelum menikah. Melalui taaruf ini, tentu kita tidak akan tau semua hal. Statemen beliau yang menarik tentang hal ini adalah bahwa dibalik ketidaktahuan kita tentang perkara yang tidak dapat diketahui selama taaruf, itu tersimpan husnuzhan kita kepada Allah atas calon pasangan kita. Saat itulah kita diuji oleh Allah bagaimana kita mampu berprasangka baik kepada Allah, bahwa tidak mungkin pasangan kita jauh dari sifat kita. Wanita baik untuk laki-laki baik, dan sebaliknya, sebagaimana firman Allah terkait hal ini. Tambahan dari kesimpulan pribadi saya tentang hal ini, bahwa ketika kita menerima pasangan kita melalui proses yang baik dengan niat yang baik, maka disitulah letak kepasrahan kita kepada Allah, bahwa kita yakin Allah selalu memberikan yang terbaik untuk kita.

Ada satu lagi pertanyaan menarik di sessi ini. Bagaimana tanggapan atas penyataan "bila kita menjalani proses taaruf yang cuma sebentar ini, bagaimana mungkin pertemuan sebentar ini bisa cinta sama calon pasangan. Saya kan butuh cinta nikah ini. Bagaimana saya menikah dengan orang yang tidak saya cintai?" Ustadz Rifky menjawab begini, "Nikah itu landasannya bukan cinta. Menikah itu landasannya taqwa." Bukan berarti menikah itu tidak butuh cinta, tapi ketika menikah itu landasan pondasinya taqwa kepada Allah, maka cinta yang tumbuh nanti adalah cinta yang suci, bukan cinta dari syahwat.

Ustadz Rifky kemudian mengisahkan shahabat Abu Dzar al-Ghifari, sahabat Nabi shallallahu alaihi wasallam yang dipuji oleh Nabi sebagai shahabat yang mulia, berwibawa dan punya kedudukan di sisi manusia dan di sisi Rasulullah. Ketika Abu Dzar hendak menikah, beliau berkata pada teman-temannya "Saya mau menikah, tolong carikan untukku wanita yang mengerti agama". Itu adalah standar dari Abu Dzar, hanya satu, paham agama. Ga ngasih kriteria lain yang lebih spesifik seperti tampang, nasab dan status ekonomi. Kemudian salah seorang temannya, dengan niat bercanda berkata "saya punya budak perempuan, hitam, jelek, tapi paham agama". Candaan ini diseriusin sama Abu Dzar dengan menjawab "Saya mau". Teman-temannya kaget. Dan beneran menikah. Karena yang dicari oleh manusia sekelas Abu Dzar bukan cinta karena fisik. Belakangan teman-teman Abu Dzar datang lagi untuk mengetes Abu Dzar dengan berkata "Kamu ga mau menikah dengan wanita yang cantik?". Abu Dzar kemudian menjawab "Istriku ini, dia yang membangunkanku ketika aku tertidur, dan dia yang mengingatkan aku ketika aku lupa, dan dia yang menguatkanku ketika aku lemah. Kalau nanti kalian tau bagaimana indah wajah istriku ini ketika Allah masukkan ia ke dalam surga, maka kalian akan menyesal kenapa bukan kalian yang dulu menikahinya". Maa syaa Allah. Artinya, cinta itu sesuatu yang dimunculkan setelah pernikahan, bukan sebelum menikah. Boleh sih cinta sebelum menikah. Tapi jangan sampai karena belum tumbuh cinta sebelum menikah, membuat kita jadi mengurungkan niat untuk menikah.

Tambahan dari saya, bahwa kita perlu ingat salah satu nasihat dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam "Apabila seseorang yang kalian ridhai agama dan akhlaknya datang kepada kalian untuk meminang wanita kalian, maka hendaknya kalian menikahkan orang tersebut dengan wanita kalian." Ini adalah nasihat untuk pihak wanita dan keluarga wanita. Kriteria utamanya sama, agama. Kita tetap tidak boleh menafikan juga nasihat lain dari Rasulullah supaya melihat dulu pasangan kita sebelum memutuskan untuk menerima atau melamar. Artinya faktor kecocokan dari sudut pandang yang lain selain agama juga sangat diperbolehkan bahkan dianjurkan mencari yang setara. Bila ada sedikit kejomplangan, maka perlu dibicarakan sejak awal.

Maka pemahaman baru saya tentang hal ini adalah, bahwa kriteria itu boleh ada dan spesifik, tapi tidak mesti terlalu saklek. Asal pemahaman dan pengamalan agamanya baik sebagai kriteria agama, dan sekiranya kita dapat menerimanya pada kriteria yang lain yang masih bisa dikompromikan, maka jangan sia-siakan. Setelah itu, garis bawahi hal ini, bertawakkal dan berprasangka baiklah kepada Allah, bahwa Allah akan selalu menolong dan membimbing kita karena kita menikah dengan niat ibadah dan dengan landasan taqwa. Ini adalah jawaban atas kekhawatiran saya yang sebelumnya tentang hal-hal yang tidak memungkinkan diketahui selama proses taaruf.

Terakhir terkait pembahasan ini, di dalam surat Maryam ayat 96, Allah berfirman "Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, kelak Allah Yang Maha Pemurah akan menanamkan dalam (hati) mereka rasa kasih sayang." Di dalam ayat tersebut Allah menggunakan huruf sa pada kalimat sayaj'alu yang artinya "akan". Kata cinta atau kasih sayang yang digunakan pada ayat ini juga menggunakan kalimat wuddan, bukan hubban. Tafsirnya adalah, bahwa rasa cinta akan ditumbuhkan setelah manusia melalui proses pernikahan.

dosen mahasiswa Mikir my two cents pendapat

Four Types of Lecturer

Silakan Ngomen
Talking about college student, we are also talking about lecturer. After 6+ years of my college experience (ahem, and I'm still a college student*), I saw an interesting pattern about lecturers (I may applied to teaches in general too, I guess). The pattern is about how the lecturer interacted with the students, within and outside the formal class. If you have been a (college) student, you must have met a boring killer lecturer. You once said, "Man, I hate math class with Prof. A. You know I always fall asleep on his class." or "God, how can I be calm on studying while Prof. B yells every five minutes.". Sometimes we critisise the way they lecture us. And on the other time we blame them for our failure. And sometimes, we hate certain subject not because we don't like it, but because the lecturer. It's because “his way of teaching was wrong". Right?

Unfortunately, if we keep thinking that way, we would never learn neither be successful. As we grow up, we realise that cursing the lecturer won't make us any better. No matter how angry we are to them, no matter how hate we are to them, we can’t change that with cursing. If you are a college student, remember that you can't be cry baby like a highschoolers. You have to survive and you have responsibility upon yourself.

From that starting point, I think we should change our perspective about our lecturer. You know, when we're highschoolers, we were thinking about teacher as "a parents as school who have a deep knowledge about everything and we can't learn and pass the test without them", now we should start to see lecturer as a friend on learning, a friend we respect. I always think them as a respected friends even though they are far older than me. That way, I found learning is easier more enjoyable.

But in fact, we can't befriend every lecturer. This is the point of this post (sorry for the long epilogue). There are lecturers who are so close to his students and the other make distant from their students. There are lecturers who are so so so kind-hearted and even easy to give a grade, but the other are killer ones. Something interesting I found is that not every killer lecturers in class are bad. Here I made a clear explanation about it (according to my investigation and "research", by the way). I'm pretty sure you'll agree. And also I added a mighty awesome quadrants to ease things.


Type 1 : No Fun at Class and Outside
It seems that the lecturers always have a busy life. Maybe he has so many activities that he have no time to interact with his students outside the class. Even more, it seems class is not in flow. Other reason is.. maybe it's just who he is (a social awkward?).

Type 2 : No Fun at Class, But Fun Outside
Admit it, you have met one. He is so killer in class, making it so intense. Or he is too boring and you often fall asleep in his classes. But once you met him outside, you can easily hold a fun conversation, good discussion, and even exchange latest PC games. :D

Type 3 : Fun at Class, But No Fun Outside
This type is a little bit confusing. His teaching method and style is perfect. He is funny and we expect to engage more with him outside, but when we approach him.. Surprise! He’s so much different. He is cold and seemed to limit his interactions with student. Everything is just awkward. Personally, I chose to avoid meeting this lecturer and take another road. Hahaha..

Type 4 : Fun Both at Class and Outside
Whoaaa.. this type is awesome. Having discussion with him is always enjoyable. He takes teaching and lecturing his student in to the next level, because education need to happen not only inside the class. He’s aware about his profession (and maybe because it’s his trait, easy going). It doesn’t mean that other type is not professional or dedicated. We just can say that this type is such an ideal lecturer ;)

In conclusion, I must said that it’s not important which type of lecturer we are facing, the future is in our hands. Just because the lecturer is not an easy going on (a.k.a. type 1 or 3), it doesn’t mean you have a reason to give up on learning. Remember that he has a potential to be always like that, and if we didn’t change ourselves, we are doomed! However, as a student we still have to respect them. If you feel the lecturer is mean or anything, just remember that every human has a mistake, why not a lecturer? That's my two cents. :)

So, if you are about to be a teacher or lecturer, which type will you fall on?? :D

Maybe you can post your story too? Hendri, Zia, Raksa

* Yeeees I'm still a college student after 6+ years. I accept it as my fate hahaha.. Fortunately, it's not a dead-6-year because I got many opportunities to learn something outside college within that time range. It's not a good example of course. But since it happens to me, I positively face it and be grateful of it. Because each person has their own life and problematic. I will graduate soon, so, Life, I'm ready. Bismillah :D

This post is my entry for 'My College Diary' contest held by travel blog My Yatra Diary in collaboration with Collegedunia.com
Daily kuliah Menulis Mikir Pendidikan Refleksi

4 Tipe Dosen

2 comments
Sudah 6 tahun hidup di kampus. Kalo ditambah cuti berarti udah 7 tahun. Fiuhh.. Ada banyak pengalaman yang bisa saya nikmati, yang kalo kata dosen saya, ada pengalaman dan manfaat yang lebih gede lagi kalo udah lulus. Fiuhh.. Anyway, saya menikmatinya. Saya melihat ini sebagai bagian dari jalan hidup saya, dengan sekelumit problematika dan pengalaman yang belum tentu dialami juga oleh orang lain. Kita bisa saja bilang, orang lain yang sudah lulus duluan tentunya punya pengalaman yang mungkin lebih wow. Ya, who knows kan? So, kalo orang lain bisa bersyukur dengan hidupnya, kenapa saya tidak? :)

Bicara mahasiswa, berarti erat kaitannya dengan dosen, orang yang mengajar mahasiswa. Setelah sekian lama kuliah, saya melihat ada beberapa pola menarik dari dosen secara khusus, atau pengajar pada umumnya. Pola yang saya maksud adalah tentang bagaimana dosen berinteraksi dengan mahasiswa, di dalam dan di luar kelas. Kalo Kamu pernah jadi mahasiswa, atau minimalnya siswa, Kamu pasti akan selalu bertemu dengan yang namanya dosen. Pasti lah. Inget ga dulu waktu SMP atau SMA, Kamu atau temen Kamu pernah bilang hal semacam ini: "Ah gue ga mudeng belajar matematika sama si Pak Anu, bawaannya ngantuk", atau "Yaelah, gimana bisa tenang belajar, si Ibu Anu itu dikit-dikit bentak, yang ada malah tegang". Kita terkadang atau seringkali mengomentari sikap dan cara guru kita mengajar, dan adakalanya juga menyalahkan guru kita atas kegagalan kita dalam belajar. Kita mungkin pernah berpikir, kita jadi tidak suka suatu mata pelajaran gara-gara gurunya begini begitu. Betul apa benar?

Sayangnya kalo kita terus-terusan kayak gitu, artinya menyalahkan guru atas kegagalan belajar kita, selamanya kita tidak akan pernah sukses. Saya yakin seyakin-yakinnya. Tapi saya juga yakin, semakin dewasa kita, kita akan sadar bahwa bagaimanapun kita menyalahkan dan mengutuk seorang guru, itu tidak akan pernah membuat kita lebih sukses. Guru akan tetap dengan kehidupannya, dan kita pun akan tetap dengan kegagalan hahaha.

Kalo udah jadi mahasiswa, kita udah ga bisa lagi ngerengek nyalahin guru kayak waktu dulu sekolah. Ga peduli kayak gimana dosen Kamu mengajar, Kamu mesti bisa survive dan tuntas belajarnya. Kalo kita kerjaanya cuma nyalahin dosen, sekencang apapun Kita berteriak mengutuk dosen yang ngajarnya ga becus, ingatlah dosen itu akan tetap dengan kehidupannya, dan Kita sampai kapanpun ga akan pernah lulus. Kita ga akan bisa mengubah orang lain. Kita hanya punya kendali pada diri kita sendiri. Kalo kasarnya sih, 'yang mau lulus itu siapa, elu apa dosen?'

Bertolak dari hal itu, mestinya kita mulai beralih sudut pandang kita terhadap pengajar. Kalo dulu waktu sekolah, kita mungkin memandang guru sebagai orang tua yang ada di sekolah yang punya banyak ilmu yang tanpanya kita ga akan bisa belajar dan lulus sekolah. Kalo di perkuliahan, saya lebih suka memandang dosen sebagai teman dalam belajar, teman yang harus kita hormati dan serap ilmunya. Setua apapun dosen, saya lebih suka menempatkan mereka sebagai teman, mungkin teman yang lebih tua. Tentu saja saya tetap memandang mereka juga sebagai guru yang harus dihormati dan didoakan oleh sebab ilmu yang mereka ajarkan. Dengan cara memandang seperti itu, saya bisa belajar lebih nyaman dan menyenangkan.

Namun, nyatanya saya sadari tidak semua dosen bisa dijadiin teman. Ada dosen yang gaul sama mahasiswa, ada juga yang menutup diri dan menjaga jarak. Ada yang baik banget sampe-sampe gampang banget ngasih nilai, ada juga yang killer. Tapi yang lebih menarik lagi dari itu, yang saya garis bawahi di awal tulisan. Ternyata tidak semua dosen yang menyenangkan itu selamanya menyenangkan, dan ga semua dosen yang killer itu selamanya killer. Kalo saya buat batasan yang jelas, saya yakin Kamu juga pasti bisa mengamati hal tersebut. Batasan yang saya maksud adalah bagaimana cara mereka berinteraksi dengan mahasiswa, di luar dan di dalam kelas. Biar gampang, saya gambarkan ke dalam bentuk tabel kebenaran, dengan parameter A = asyik di dalam kelas dan B = asyik di luar kelas.

|-------------|
|   A  |   B  |
|-------------|
|   0  |   0  | tipe 1
|   0  |   1  | tipe 2
|   1  |   0  | tipe 3
|   1  |   1  | tipe 4
|-------------|

Ngerti ga? Kalo Kamu pernah belajar logika matematika atau logika informatika mestinya bisa ngerti. Atau gimana kalo saya gambarin dalam bentuk kuadran, seperti di bawah ini:

|-----------------------------------------------|
|                 |  ga asyik di  |   asyik di  |
|                 |  luar kelas   |  luar kelas |
|-----------------------------------------------|
|                 |               |             |
|   ga asyik di   |       1       |      2      |
|  dalam kelas    |               |             |
|                 |               |             |
|-----------------------------------------------|
|                 |               |             |
|    asyik di     |       3       |      4      |
|   dalam kelas   |               |             |
|                 |               |             |
|-----------------------------------------------|

Tipe 1 : Ga Asyik di Dalam Maupun di Luar Kelas

Kayaknya dosen begini sibuk sama urusannya sendiri. Mungkin dia punya banyak kesulitan dalam hidupnya yang membuatnya jangankan berinteraksi dengan mahasiswa di luar kelas, untuk fokus dan totalitas mengajar di dalam kelas pun udah kewalahan. Kalo tidak begitu, mungkin memang bawaan sifatnya seperti itu.

Tipe 2 : Ga asyik di Dalam Kelas tapi Asyik di Luar Kelas

Pasti pernah nemuin kan dosen kayak gini. Dia killer pas ngajar, atau mungkin bikin ngantuk karena ngajarnya pake metode khutbah jumat, atau alasan lain yang bikin kita ga asyik belajar di kelas, tapi kalo di luar kelas enak diajak ngobrol dan diskusi, bahkan ketawa-ketawa dan share game PC terbaru? :D

Tipe 3 : Asyik di Dalam Kelas, Tapi ga Asyik di Luar Kelas

Pernah ga nemuin dosen yang ngajarnya keren, suasana kelas terbangun, mahasiswa semarak menyambut celotehan dosen yang lucu dan cerdas, tapi kalo ketemu di luar kelas sikapnya dingin, kayak yang tidak mau berinteraksi dengan mahasiswa atau berinteraksi seadanya? Saya pribadi kalo ketemu dosen kayak gini saya lebih memilih menghindar dan ambil jalan memutar hahaha~

Tipe 4 : Asyik di Dalam dan di Luar Kelas

Whoaaa.. ini dosen keren abis. Dia mendedikasikan hidupnya muntuk mengajar dan mendidik mahasiswanya, karena sejatinya pendidikan tidak cukup hanya terjadi di dalam kelas saja. Dia dosen yang sadar betul akan profesinya. Dan mungkin juga karena memang bawaan sifatnya seperti itu. Bukan berarti dosen yang engga masuk kuadran 4 ini ga profesional atau ga berdedikasi. Cuma yang pasti tipe 4 inilah yang menjadi dambaan para mahasiswa ahay..

Sekali lagi saya katakan, terlepas oleh dosen bertipe berapapun kita diajar, kesuksesan perkuliahan ada di tangan kita sendiri sebagai mahasiswa. Jangan gara-gara dosennya ga asyik lantas kita jadi reaktif dan enggan kuliah. Kalo sampe kayak gitu, ingatlah, dosen itu akan tetap dengan kehidupannya, dan kita akan tetap dalam kerugian. Bagaimanapun dosen kita, kita sebagai pembelajar tetap punya kewajiban untuk menghormati ilmu dan ulama yang dalam hal ini dosen, kalo pengen belajarnya sukses dan barokah. Urusan sifat dosen yang buruk, bukankah setiap manusia tidak luput dari kesalahan?

Sebenernya pengen bahas juga bagaimana sifat mahasiswa dari kacamata dosen. Jangan salah, kalo kita sebagai mahasiswa kerap kali merasa terzhalimi oleh dosen, dosen juga katanya tidak jarang terzhalimi oleh mahasiswa, sering di-PHP-in lah, mahasiswa nyontek lah, dan sebagainya. Sayangnya saya tidak dalam kapasitas sebagai dosen atau pengajar. Mungkin suatu saat kalo ada kesempatan.

So, kalo Kamu jadi dosen atau guru nanti, mau jadi tipe berapa?? :D
Daily Mikir Refleksi Tafakur

Bukan "Karena Cinta"-nya, tapi "Karena Allah"-nya

Silakan Ngomen
“Tidaklah seseorang dari kalian sempurna imannya, sampai ia mencintai untuk saudaranya sesuatu yang ia cintai untuk dirinya.” [HR Bukhari]
Sudahkah kita bersahabat dan bersaudara karena Allah? Lalu sudahkah kita mencintai seseorang, siapapun itu, karena Allah? Pernahkah kau mengatakan, atau terbesit dalam hati untuk mengatakan, kepada seseorang dari lawan jenismu, "aku mencintaimu karena Allah"? Kalo pernah, cobalah cek, mampukah kau merelakan orang yang kau cintai itu untuk saudaramu "karena Allah"? Wow, mungkin itu sesuatu yang berat, atau sangat berat. Tapi, sesungguhnya yang utama itu bukan 'cinta'-nya, tapi 'karena Allah'-nya.

Mari kita simak sepenggal kisah indah, antara Salman al-Farisi dan Abu Darda`, dua orang shahabat Nabi SAW. Salman berasal dari Persia, ikut rombongan hijrah Nabi ke Madinah. Setelah tiba di Madinah, Nabi SAW. kemudian mempersaudarakan para shahabat yang ikut hijrah, kita sebut Muhajirin, dengan shahabat dari Madinah yang menerima kedatangan para Muhajirin, yang kita sebut dengan shahabat Anshar. Salahsatu yang dipersaudarakan adalah Salman dan Abu Darda`.

Suatu waktu, Salman menyukai seorang wanita shalihah dari kaum Anshar. Sudah bulat tekadnya untuk meminangnya. Namun walau bagaimanapun Madinah masih terasa asing olehnya. Madinah bukan tempat ia dilahirkan dan tumbuh dewasa. Madinah punya bahasa dan adat kebiasaan yang belum terlalu dikenalnya. Harus ada orang yang akrab dengan adat Madinah untuk membantunya sebagai juru bicara saat khitbah. Maka disampaikanlah niatan hatinya kepada saudaranya, Abu Darda.

”Subhanallaah. . wal hamdulillaah. .”, Abu Darda’ senang mendengarnya. Keduanya tersenyum bahagia dan berpelukan. Mereka menyiapkan segala sesuatunya untuk mengkhitbah wanita shalihah yang menjadi tujuan hati Salman. Setelah persiapan dirasa cukup, mereka pun pergi ke rumah wanita itu.

”Saya adalah Abu Darda’, dan ini adalah saudara saya Salman seorang Persia. Allah telah memuliakannya dengan Islam dan dia juga telah memuliakan Islam dengan amal dan jihadnya. Dia memiliki kedudukan yang utama di sisi Rasulullah Shallallaahu ’Alaihi wa Sallam, sampai-sampai beliau menyebutnya sebagai ahli bait-nya. Saya datang untuk mewakili saudara saya ini melamar putri Anda untuk dipersuntingnya.”, fasih Abu Darda’ berbicara dalam logat Bani Najjar yang paling murni.

”Adalah kehormatan bagi kami”, ucap tuan rumah, ”menerima Anda berdua, shahabat Rasulullah yang mulia. Dan adalah kehormatan bagi keluarga ini bermenantukan seorang shahabat Rasulullah yang utama. Akan tetapi hak jawab ini sepenuhnya saya serahkan pada puteri kami.”

Abu Darda dan Salman menunggu dengan berdebar-debar. Hingga sang ibu muncul kembali setelah berbincang-bincang dengan puterinya.

”Maafkan kami atas keterusterangan ini”, kata suara lembut itu. Ternyata sang ibu yang bicara mewakili puterinya. ”Tetapi karena Anda berdua yang datang, maka dengan mengharap ridha Allah saya menjawab bahwa puteri kami menolak pinangan Salman. Namun jika Abu Darda’ kemudian juga memiliki urusan yang sama, maka puteri kami telah menyiapkan jawaban mengiyakan.”

Keterusterangan yang disampaikan sang ibu di luar dugaan kedua shahabat itu. Tapi apa reaksi Salman?

”Allahu Akbar!”, seru Salman, ”Semua mahar dan nafkah yang kupersiapkan ini akan aku serahkan pada Abu Darda’, dan aku akan menjadi saksi pernikahan kalian!”

Wow. Coba Kamu bayangkan, bagaimana kalo kita ada pada posisi Abu Darda`. Kalo saya pasti kikuk dan ga enak lah sama saudara saya sendiri. Ini benar-benar diluar dugaan. Yang dalam dugaan kan paling cuma dua jawabannya, menerima atau menolak. Tapi ini ada opsi lain. Menolak dan akan menerima kalo Abu Darda` yang melamarnya. Kalo di versi sinetron mungkin akan sangat lebay pisan.

Hey, coba bayangkan juga kalo kita ada di posisi Salman. Ditembak sama jawaban begitu oleh ibu sang wanita, kita harus mampu memberi respon yang tepat, atau lebih tepatnya, mengkondisikan hati untuk merespon jawaban tersebut. Saya bisa saja menjawab "ya sudah sama Kamu saja Bro", tapi apakah hati saya juga mampu mengatakan hal yang sama?

Hmmm.. Salman, sekalipun bukan saudara kandung, melainkan dipersaudarakan oleh Nabi, persaudaraan yang jauh lebih erat dari persaudaraan apapun, dengan senang hati merelakan apa yang dicintainya untuk saudaranya. Di satu sisi memang punya hak apa Salman melarang Abu Darda` untuk lantas meminang wanita tersebut. Tapi di luar hal tersebut, Salman punya kerelaan hati, yang saya yakin tidak akan pernah dimiliki oleh Salman kalo dia tidak mencintai karena Allah.

Bila Kamu dihadapkan oleh situasi yang serupa, apakah Kamu akan mempertahankan egomu untuk mencintai sang wanita meskipun cinta itu tidak akan pernah terbalas, yang mungkin akan berujung pada keretakan persaudaraanmu? Bisa saja kan endingnya, saudaramu mengalah dan kalian pulang dengan tangan hampa. Kamu tau saudaramu juga pasti ga enak hati dong, apalagi liat respon kamu kayak gitu. Tapi, terlepas dari saudaramu itu suka atau tidak sama wanita tadi, terlepas dari saudaramu akan melamar atau tidak wanita tadi, mampukah Kamu merelakan rasa cintamu untuk kemudian diberikan kepada saudaramu? That's the question. :)

Tambahan. Sekedar motivasi. Allah memberi jaminan perlindungan kepada 7 golongan orang di akhirat nanti. Salahsatunya adalah dua orang yang mencintai karena Allah, bertemu karena Allah dan berpisah karena Allah. Kalo Kamu mencintai seseorang, pastikan cintamu karena Allah. Bagaimana caranya mencintai karena Allah? Yaa, saya kira jawaban yang baru saja saya temukan, yang paling tepat hingga saat ini buat saya adalah, "bukan 'karena cinta'-nya, tapi 'karena Allah'-nya. Mampukah faktor 'karena Allah' itu tetap ada ketika cinta dan orang yang dicintai kandas?"


---
rujukan: http://blog.al-habib.info/id/2012/03/kisah-cinta-dan-kebesaran-hati-salman-al-farisi.html
Bisnis Diary Rezeki Kewirausahaan Mikir

Sudut Pandang Baru dari
"Laba = Penjualan - Pembelian"

Silakan Ngomen
Dalam dunia usaha kita sudah terbiasa dengan rumus seperti pada judul di atas. Memang benar dan sederhana, dan dapat dipahami oleh orang bukan pedagang sekalipun. Laba adalah harga jual setelah dikurangi biaya produksi atau modal. Dalam kalimat lain dapat dikatakan, jika penjualan lebih besar dari pembelian, maka ia dikatakan laba atau untung, dan bila penjualan lebih kecil daripada pembelian, maka ia dikatakan rugi.

Sekarang mari kita lihat penerapan lain dari rumus ini, dikaitkan dengan konsep pasar.

Pasar
=
Permintaan / Konsumsi
-
Penawaran / Produksi
+∞
=
∞
-
0
-∞
=
0
-
∞

Pasar dikatakan ada atau tersedia ketika ada kebutuhan yang dipenuhi, ada permintaan yang terpenuhi oleh penawaran. Contoh sederhananya kita lihat secara real di pasar. Orang bertemu di pasar karena ada yang butuh sesuatu dan ada yang menyediakan barang yang dibutuhkan. Dari sini kita bisa lihat bahwa faktor permintaan menjadi pencetus munculnya pasar.

Baris selanjutnya adalah patokan penting yang tidak boleh diabaikan dalam berwirausaha. Ketika ada permintaan, meskipun kita tidak punya produk yang dibutuhkan, ini bisa jadi peluang pasar yang besar, atau saya beri tanda simbol +∞. Tapi bila kita punya faktor produksi, atau punya produk, yang mana tidak ada permintaan untuk produk tersebut, atau tidak ada orang yang butuh dengan produk kita, maka itu akan jadi kerugian yang tidak terbatas pula. Dari sinilah kita mesti berpegang pada kebutuhan pasar sebelum membuat produk.
Daily Mikir Tafakur

Menentukan Nilai-nilai Hidup

Silakan Ngomen
Aku masih berfikir Jakarta adalah kota yang buas dengan pergaulan yang sangat bebas, hingga aku berkenalan dengan seorang teman dari temanku, sebut namanya Hary. Jakarta yang di mataku adalah tempat yang bebas untuk bersenang-senang dalam pergaulan bebas tanpa batas bahkan dalam urusan kelamin, runtuh setelah aku mengenal seorang Hary. Hikmah ini tentang keistiqomahan, konsistensi untuk menjadi diri sendiri, teguh di tengah derasnya arus metropolitan, tak bergeming meski berdiri di ujung bibir air terjun kesenangan dunia.

Hary memilih menjadi guru, ketika banyak pilihan profesi yang bisa diambil di Jakarta. Ia menjadi guru bukan karena tidak mampu menjadi yang lain. Dia lulusan IT di salahsatu universitas di Jakarta. Dia memilih lingkungan pendidikan, ketika dia tau ada banyak pilihan lingkungan untuk hidup di Jakarta.

Dia cerita bahwa dia punya niat untuk menikahi seorang wanita. Mendengar cerita itu kami para teman bertanya ini itu. Yang mengejutkan adalah, dia bahkan belum sekalipun bertemu dan mengobrol berdua dengan wanita tersebut. Kolega di sekolahnya yang menganjurkan kepadanya untuk menikahi wanita tersebut. Buat sebagian orang, ini adalah keputusan yang aneh. Pertama, ada orang mau berpayah-payah menikah di usia muda (usia Hary masih di bawah 25). Kedua, dia hendak menikahi wanita yang bahkan dia belum tau bagaimana sifat dan karakternya.

Oke, kau boleh anggap ini hal yang aneh, tapi bagiku ini menakjubkan. Alih-alih berkenalan dengan wanita lalu kemudian berpacaran dengan dalih harus kenal dulu, harus tau dulu sifatnya, dan lain-lain baru kemudian memutuskan untuk menikahinya atau tidak. Hary mengambil keputusan yang sederhana dan tidak repot. Maksudnya tidak repot? Ya, bukankah Allah sudah menjanjikan akan memasang-masangkan manusia yang kadar keimanannya tidak terlalu jauh? Kenapa mesti khawatir pasangan kita nanti tidak cocok untuk kita, padahal Allah sudah mentakdirkan dirinya sebagai pasangan yang sederajat dengan kita? Hary memilih untuk menyerahkan segala urusan pasangannya kepada Allah, membiarkan Allah yang memilihkan untuknya, yang sesuai dengannya. Dengan begitu Hary sudah berhemat waktu, tenaga, dan biaya untuk memilih pasangan yang terbaik untuknya. Bukankah Allah lebih mengetahui apa yang terbaik bagi hambaNya?

Tanggal 20 kemarin Hary resmi mengkhitbah sang wanita. Ibunda Hary yang memasangkan cincin hadiah itu di jarinya. Aku melihat, ternyata Jakarta tidak seburuk yang ada di pikiranku sebelumnya. Jakarta ternyata cukup indah, dengan adanya Hary dan orang-orang baik lainnya. Hary berhasil menginternalisasikan nilai-nilai Islam yang dianggapnya sebagai kebenaran, ke dalam perilaku dan setiap keputusannya.

Kau tau, ketika kita menginternalisasikan nilai ke dalam diri kita, maka kita akan bersikap dan bertindak sesuai dengan nilai tersebut, apapun nilai yang kita anut. Internalisasi tidak sama dengan mengetahui, meskipun ia dimulai darinya. Internalisasi adalah menanamkan nilai ke dalam diri sebagai dasar pengambilan sikap dan keputusan serta cara berpikir. Ketika kita menganggap menyentuh wanita yang bukan muhrim itu bukan perkara dosa, maka kita akan menganggap biasa hal tersebut. Ketika kita menganggap Islam bukan nilai-nilai yang cocok untuk hidup di jaman sekarang, maka kau tentu punya nilai lain yang kau anggap cocok untuk diterapkan. Nilai hedonisme mungkin, liberalisme, atheisme, apapun. Nilai yang kau pilih itulah yang akan menemanimu dalam kehidupan. Tidak ada yang salah dengan internalisasi nilai-nilai, apapun nilainya. Kita hanya tinggal membayangkan dan memikirkan, apa dampak kedepannya bila kita hidup dengan memegang nilai-nilai itu.

Hary, jikalau dia mau, dia akan mudah memilih teman-teman yang sukanya clubbing, katanya di Jakarta acara semacam itu mudah ditemui, saya tidak tau. Jikalau mau, dia akan mudah memilih profesi yang lebih nyaman dan sesuai dengan hawa nafsu. Tapi dia memegang nilai-nilai yang menuntunnya untuk memilih jalan yang dia pilih sekarang. Di mana pun dia berdiri, tak peduli sebuas apapun tempat itu, dia akan bersikap dengan nilai-nilai yang dia yakini.

Setiap orang punya kehidupannya masing-masing, punya pilihan jalannya sendiri-sendiri, punya nilai-nilai yang dipegang teguh. Nilai-nilai itu seperti tali yang membantumu berdiri tegak di tengah kondisi yang tidak seimbang. Nilai itu pula yang akan menuntunmu menyusuri jalan hidup. Kalo kamu, nilai-nilai apa saja yang kamu pegang dengan teguh? :D

Daily Mikir Refleksi Tafakur

Keep Calm and Nikmati Interaksi

2 comments

Hadits ini adalah hiburan buatku, ketika aku lagi down terutama dalam mengatur diri dalam hal berinteraksi. Kamu mungkin tidak mengira tapi postinganku kemarin tentang senangnya berinteraksi adalah salahsatu bentuk sugesti diri untuk tetap semangat melangkah menuju perbaikan. Apapun masalah yang kamu hadapi, yakinlah pasti ada jalan keluar, meskipun jalan itu tak tampak karena terhalang semak. Itu nasihat buat diriku.

Aku yakin tidak ada orang yang tidak punya masalah dengan manusia lain. Sejatinya manusia memerlukan sesamanya untuk memenuhi segala kebutuhan hidupnya, dalam hal apapun. Singkatnya manusia tidak bisa hidup sendiri, pun ketika ada fakta manusia yang mampu hidup sendiri di tempat yang sepi tanpa populasinya. Dan kau pun tau, masalah yang selama ini kau hadapi, jauuuh, jauh lebih sederhana dari apa yang dialami oleh orang yang paling sabar di dunia ini. Kau tau siapa?

Kau tau kisah seorang kelaki yang setiap harinya mendatangi seorang nenek buta di salah satu sudut pasar, dia membawa makanan dan menyuapi wanita tersebut. Dia tetap melakukannya sekalipun wanita itu senantiasa menghina dan memfitnah nama seorang lelaki yang nyatanya adalah dirinya sang lelaki. Tetapi lelaki itu tetap melakukannya, setiap hari, dengan penuh kelembutan, tanpa kebencian, hingga akhir hayatnya.

Seorang sahabat lelaki tersebut meneruskan kebiasaannya setelah ia wafat, mendatangi wanita tua nan buta tersebut, membawakan makanan dan menyuapinya. Sang wanita tua marah dan berteriak,

“Siapa kamu…!!!”

Sang sahabat menjawab, “Aku orang yang biasa“

“Bukan…!!! Engkau bukan orang yang biasa mendatangiku.” sahut sang wanita buta itu.

“Apabila ia datang kepadaku, tidak susah tangan ini memegang dan tidak susah mulut ini mengunyah. Orang yang biasa mendatangiku itu selalu menyuapiku, tapi terlebih dahulu dihaluskannya makanan itu, baru setelah itu ia berikan makanan itu kepadaku.”

Mendengar itu sang sahabat menangis sambil berkata “Aku memang bukan yang biasa datang kepadamu. Aku adalah salah seorang dari sahabatnya. Orang yang mulia itu telah tiada. Ia adalah Muhammad, Rasulullah SAW.”

Mendengar itu sang wanita tua nan buta menangis. Ia hampir tak percaya, lelaki yang selama ini dihinanya dan difitnahnya, adalah orang yang setiap hari memberinya makanan, menyuapinya, dengan cara yang sangat lembut. Sang wanita dan sahabat itu, Abu Bakar, larut dalam tangis, sekali lagi merasakan kehilangan seorang lelaki yang mereka kagumi, mereka sayangi dan ia menyayangi mereka. Tak ada manusia lain yang menandingi kesabaran dan kasih sayangnya kepada sesama manusia.

Mengingat sosoknya, sekalipun tidak pernah bertemu, memunculkan kerinduan dalam hati ini. Bahkan sesekali 'meragukan', benarkah ada orang seperti itu di dunia ini? Seketika pandanganku tertuju kembali pada diriku. Apakah aku bisa sedemikian sabar dan penuh kasih sayang seperti lelaki mulia itu? Atau aku hanya seorang yang senang menyendiri bersama komputer, menghabiskan hari demi hari tanpa meninggalkan sesuatu yang berharga bagi orang di sekitarku?

Mengingat dirinya yang indah membantuku mengembalikan semangat diri, untuk senantiasa melangkah, menjadi lebih baik dari diriku di hari yang lalu. Setiap kali ada konflik dengan manusia, aku selalu ingat satu pesan darinya, "Mu'min yang berinteraksi dengan masyarakat dan bersabar atas celaan mereka lebih baik daripada yang tidak berinteraksi dengan masyarakat dan tidak bersabar atas gangguan mereka." (arti dari tulisan di foto)

Siap! Aku menyambut nasihatmu, wahai manusia mulia, yang kemuliaannya datang dari Yang Maha Mulia. Aku masih berharap, bisa bertemu denganmu suatu saat nanti, meski dengan kondisi diri yang rasanya tak pantas untuk bersanding dengan dirimu. Terima kasih atas nasihatnya. Aku akan melanjutkan perjalanan.

Daily Impression Mikir nglamun Refleksi

Bersedihlah Pada Waktunya

Silakan Ngomen
sumber: pixabay.com

Serupa dengan ungkapan 'buanglah sampah pada tempatnya', bersedih juga harus pada waktunya.

Kita seringkali atau kadang-kadang, gimana orangnya, bersedih. Bersedih bisa kapan aja. Bersedih kadangkala tidak mengenal situasi. Kadang lagi ketawa-ketiwi sama temen, tiba-tiba dapet kabar yang tidak mengenakkan, maka jadilah bersedih. Tapi ada juga orang-orang yang tiap harinya bersedih melulu, mau lagi di tempat rame ataupun sepi. Tiap menit kerjaannya termenung, manyun, ngelamun. Kadang sampe nangis. Bantal sampe berlumuran ingus, atau kalo di tempat umum tissue bertebaran dimana-mana. Yang ada orang bukannya iba, tapi jijay (jijik ya ampyuuun..).

Jangan dikira saya menduga-duga, karena itu memang benar. Tapi yang pasti saya juga pernah mengalaminya. Lalu saya inget-inget lagi perkataan Pidi Baiq, "jangan bersedih oleh karena kita dilahirkan dari ayah ibu yang bersenang-senang". Dipikir-pikir, bener juga. Ngapain sedih mulu, terkecuali bagi orang-orang yang emang hobinya sedih, yang sedih itu baginya adalah kenikmatan. Tapi jangan laah. Ga usah laah. Sedihlah secukupnya. Emang kesedihan itu bisa menggugurkan dosa, tapi jangan dibuat-buat juga.

Naah, muncul deh kata 'dibuat-buat'. Begitulah adanya, disadari atau tidak, mesti disadari. Pernah ga, kamu mengingat tentang masa lalu yang ga enak, lalu kamu bersedih? Saya pernah. Pernah ga kamu berpikir tentang sesuatu yang kamu khawatirkan terjadi di masa depan, lalu kamu bersedih? Whuoo saya pernah. Misalnya ngebayangin gimana nanti kalo orang tua saya meninggal. Dari situ saya sedih bahkan sampe nangis. Padahal kan orang tua saya belum meninggal. Okelah kalo dari situ saya langsung samperin orang tua saya, bercengkerama, ngobrol, minta maaf atas kesalahan, sun tangan. Tapi kalo tiap hari mikirin itu, lalu tiap hari sedih, sampe pengen tiap hari bareng mama-papah, sampe pengen tidur sekasur lagi sama mereka, sampe pengen disuapin lagi kalo makan, asa kacida ue euy! (kebangetan dah!).

Atau ada yang dibuat-buat yang lebih parah lagi. Misalnya, kamu yang punya pacar, ngebayangin gimana kalo nanti akhirnya putus sama pacar, lalu kamu bersedih saat itu, pernah ga? Setiap hari lagi mikir gitu. Tiap hari ga khusyu kuliah atau sekolah, gara-gara takut diputusin, padahal diputusin juga belum. Woi wooi, bangun, udah azan shubuh! Tapi saya pernah itu. Parah lah.

Malah ada yang lebih parah lagi. Kamu lagi suka sama cewe/cowo (yang lawan jenis okey..), terus tiap hari kepikiran aja wajah dia, senyum dia. Terus tiap hari juga kamu sedih. Sedih kenapa? Sedih, gimana kalo akhirnya kamu ga jadi sama cewe itu, atau gimana kalo ternyata dia jadian sama orang lain. Kamu galau. Eaa galauwww. Terus kamu mikir lagi, gimana kalo dia akhirnya nikah sama orang lain. Wadaaww, parah pisaaan. Belum jadian belum apa, udah takut ini itu. Mau jadi apa hidup, ga maju maju?? Eh, lu jangan tanya gue pernah apa engga yah, awas lu!

Udahlah, mending putuskan untuk menikmati hidup hari ini. Ga perlu risau dengan masa depan. Kebahagiaan itu katanya diciptakan, bukan dicari. Toh kesedihan pasti bakal datang. Ga ada orang yang ga pernah sedih. Maaf, orang yang katanya gila aja, saya pernah liat dia nangis! Udah itu ketawa lagi.

Poin utamanya adalah, bersedihlah pada waktunya. Jangan sia-siakan hidupmu hari ini dengan kesedihan yang ga perlu. Bersedihlah hanya pada situasi yang mengharuskanmu untuk bersedih. Emang bisa?? Cobain deh.. :)

chat Mikir nglamun Pendidikan Tafakur Tole

"Sudah Kuduga"

4 comments
Pernahkah dalam hati kamu bilang "sudah kuduga", ketika menghadapi suatu kejadian atau jawaban? Contohnya ada percakapan begini:

  • Hendro (baca artikel): Nasi sambel telur, cuma seribu rupiah. ckckck
  • Tole: dimana?
  • Hendro: di Jogja..
  • Tole: sudah kuduga.

Kenapa Tole bisa bilang "sudah kuduga"? Karena ketika dia bertanya "Dimana?", dia sudah punya praduga atas jawaban dari pertanyaannya. Dia sudah menduga kalo harga makanan pokok yang murah itu biasanya di Jogja, karena mungkin dia pernah menemui hal tersebut atau sekedar mendengar informasi tersebut. Kalo kita sadari, setiap orang hampir pernah mengalami hal tersebut. Hanya saja tiadak semua orang melafalkan "sudah kuduga"nya. Sebagian mereka mengucapkannya hanya di dalam hati.

Kenapa orang punya praduga atas suatu hal atau jawaban atas pertanyaan yang diajukannya? Karena setiap manusia memiliki informasi awal yang menghasilkan asosiasi atau perkiraan atas kenapa suatu hal bisa terjadi. Manusia mendengar, melihat, membaca informasi dari sekitarnya. Dari informasi yang terkumpul itu terbentuklah semacam asosiasi yang menghasilkan pola-pola tertentu yang mudah dikenali. Hal paling sederhana dari pola ini adalah hukum sebab akibat. Pola yang lebih kompleks muncul dari gabungan antar pola sebab akibat yang pernah dia temui.

Kalo di makalah ilmiah, kita menemukan istilah hipotesis. Hipotesis ini membantu mempersempit arah penelitian, dengan memanfaatkan sejumlah informasi dan menguji informasi tersebut berdasarkan perkiraan hasi pengujian. Disadari atau tidak, sebenernya kita semua senantiasa membuat hipotesis dalam banyak kasus kehidupan, bahkan yang sederhana seperti dialog di atas.

Dari fakta inilah, kita melihat pentingnya sebuah informasi. Informasi didapat dari memperhatikan, menyaksikan, mendengarkan dan membaca. Dengan mengetahui fakta ini, mudah-mudahan kita bisa lebih semangat dan berbahagia untuk mempelajari apapun. :D
Cerpen Mikir Refleksi

Kenapa Aku Ada?

Silakan Ngomen
"Kenapa aku ada, kalo begitu? kalo ternyata keberadaanku hanya jadi pengacau bagi sekitarku?" Topan merenung, di atas sebuah motor biru tua yang tengah melaju kencang menyalip motor dan mobil di depannya.

"woi woi, sabar Brooo, gua ngeri nih dibonceng lu kayak gitu!" teriak suara Toha di belakang telinga si sopir motor itu. Topan memperlambat laju motornya, seiring melambatnya degup jantungnya. "lagi lagi kamu, menginterupsi setiap pertanyaanku!" Topan berbisik agak ketus.

"Bukankah aku ada untuk membantumu menemukan setiap jawaban atas pertanyaanmu, bukankah kita sepakat tentang itu, Top?" Toha tersenyum tenang, tatapan matanya sayu, seperti mencerminkan kelelahan dan rasa kasihan. "Kamu tahu, pertanyaanmu barusan adalah salahsatu dari pertanyaan eksistensial yang akan selalu dilontarkan setiap manusia yang sadar akan keberadaannya di dunia, yang tidak setiap manusia punya kesempatan untuk bertanya tentang hal itu"

"Kau tak perlu menyanjung, aku memang manusia. Aku berpikir, maka aku ada, begitu kan kata Descartes?"

"Begitulah kamu, sombong seperti biasanya hahaha.." celoteh Toha.

"Iya, aku memang sombong" tukas Topan. Wajahnya antara marah dan sedih, marah pada dirinya sendiri, sekaligus sedih karena tidak banyak yang bisa dia lakukan, atau lebih tepatnya yang dia ketahui tentang bagaimana merubah dirinya menjadi lebih baik.

"Lalu, sudahkah kau dapatkan jawabannya, kenapa kamu ada?" tanya Toha, alisnya naik.

"aku ga tau, kenapa aku ada. kenapa Allah menciptakan aku"

"lho, bukankah jawaban atas pertanyaan itu sudah ada?"

"bukan yang itu maksudku. Aku tahu dan aku berusaha yakin, atas jawaban yang sudah disediakan dengan begitu murahnya. kalo aku bertanya, kenapa Allah menciptakanku, jawabannya pasti karena supaya aku beribadah kepadaNya. Kalo aku bertanya lagi kenapa aku harus beribadah, jawabannya karena Allah telah menciptakanku. Hal itu akan selalu berputar di tempat."

"Lalu, masalahnya apa?" tanya Toha lagi, memancing.

"iya, lalu kenapa?" Topan mengangkat kedua bahu dan sebelah tangannya di samping.

"kenapa apa? pertanyaannya yang jelas dong hihi.." Toha ketawa kecil.

"iyaa.., kenapa, mesti seperti itu? Oke, biarkan aku mengeluarkan dulu semua yang ada di dalam pikiranku. Dan kalo kamu ga bisa membantuku mencari titik terangnya, kupikir kamu ga perlu lagi ada di sampingku."

"Baik, silakan"

"Oke. Aku ada. Disini, tapi entah dimana ini sebenarnya. Aku hidup bersama orang-orang disekitarku, tapi aku tidak pernah tahu siapa mereka sebenarnya. tempat-tempat itu, dan orang-orang itu, semuanya hanyalah identifikasi belaka yang dibuat oleh manusia untuk memudahkan mereka menyebut dan menemukan kembali. Bahkan tentang diriku sendiri. Siapa aku sebenarnya. Oke, itu pertanyaan yang lain. Yang pasti aku yakini, aku ada karena ada Tuhan yang menciptakanku. Aku menyebutnya Allah, sebagaimana Ia memperkenalkan diriNya di dalam kitabNya. Aku diciptakan oleh Allah, maka aku ada. Pemikiran ini tidak akan pernah ada andaikata aku tiada. Tapi, kalaupun aku tiada, orang yang kupanggil ibu sekarang tetap akan melahirkan anak dan menjadi keberadaan baru. Kalaupun aku tiada, istri dan anakku sekarang tetap hidup seperti halnya, dengan orang lain selain aku. Kalaupun aku tidak dilahirkan disini, dalam kondisi ini, mungkin aku akan tetap dilahirkan di tempat yang lain, sebagai orang lain, dengan kondisi yang lain. Mungkin aku yang sekarang adalah penolakan dari keberadaanku di tempat yang lain seperti pikiranku sekarang yang mempertanyakan keberadaanku hari ini. Dan itu sekaligus tidak mungkin karena pemikiran ini ada karena aku ada."

"Maka, .." Toha melontarkan kata setelah ia kira Topan selesai dengan renungannya.

"Maka apa, Toh?"

"Kau sudah tahu, dengan begitu kesimpulannya, keberadaanmu itu diluar batas kekuasaanmu, diluar sesuatu yang bisa kau pengaruhi"

"itu benar" Sejenak sepi, sepi dari obrolan. Yang terdengar hanya deru motor dan kendaraan lainnya di jalan itu. Setidaknya untuk Toha. Topan mungkin tengah asyik dengan keramaian di dalam pikirannya.

"Naah, berarti kembali lagi kan ke pertanyaanku tadi di awal? kenapa Allah menciptakanku? Kenapa Allah tidak menciptakan orang yang lain saja dan membiarkanku dalam ketiadaan??" Topan seperti menemukan jejak kakinya di padang pasir yang hilang tersapu angin.

"Pertanyaanmu seolah meniadakan penciptaan manusia" Toha, kali ini dengan nada agak berat.

"Maksudnya?" Topan bertanya dengan hati-hati.

"Ketika kamu bilang, kenapa Allah tidak menciptakan orang lain saja dan bukan kamu, kamu membayangkan dirimu dan manusia sebagai sesuatu yang memiliki kepala, dua tangan, dua kaki, memiliki tubuh seperti kamu sekarang"

"Lalu, aku masih belum menangkap apa maksudmu.."

"Pemikiranmu menolak untuk diciptakan itu muncul setelah kamu diciptakan. So, sekalipun Allah dahulu tidak menciptakan kamu dan menciptakan orang yang lain, apakah kamu bisa menjamin orang-orang itu bukanlah dirimu yang sekarang? Tidak ada yang tahu kecuali Allah. Intinya, Allah menciptakan siapapun, pasti tidak berharap pertanyaan itu muncul. Dan kamu tau apa artinya itu?" Tanya Toha.

"Itukah jawaban atas pertanyaanku?"

"Yap, bisa jadi. Kalo kamu bertanya kenapa Allah menciptakanmu, tujuan sebenarnya ada di dalam tujuan Allah menciptakanmu"

"Ibadah?"

"Yap, betul. Allah menciptakan Manusia dan Jin supaya mereka beribadah kepadaNya. Jawaban sebenarnya ada di dalam tujuan penciptaaan itu, ibadah. Wajar kalo kamu mempertanyakan hal itu. Sama seperti orang yang bertanya bagaimana rasanya eskrim paria, bisa dipastikan bahwa orang itu belum pernah mencobanya." Toha menjelaskan dengan apik.

"Dengan kata lain, beribadah itu tujuan dari penciptaan, tapi bukan alasan penciptaan. Beribadah itu jalan untuk menemukan alasan penciptaan itu. Begitukah?" Topan begitu gembiranya seperti menemukan sesuatu yang belum pernah ia dapatkan.

"Hahaha.. Boleh jadi. Kamu sendiri percaya kan kalo Allah tidak menciptakan sesuatu dengan sia-sia. Ada maksud di balik ini semua. Ada maksud di setiap masalah-masalah yang kamu temui. Aku kira, sepertinya kamu sudah membuka beberapa pintu rahasia. Pintu pertama adalah pertanyaan eksistensial. Bila seseorang sudah mulai mempertanyakan hal tersebut, maka itu artinya dia sudah membuka pintu pertama dan akan menemukan pintu kedua. Boleh jadi pintu kedua itu bukan pintu yang menutupi jawaban dari kehidupan ini. Boleh jadi ada pintu lagi di dalamnya dan ada pintu lagi didalamnya." Toha tersenyum. "Jadi kesimpulannya apa?"

"Aku berarti, harus mencari tahu ada apa di balik ibadah itu. Memang benar, selama ini aku akui, ibadahku belum benar. Tentu saja. Kalo sudah benar, mungkin aku sudah temukan jawabannya. Begitukah?"

"Ya, gitulah kira-kira. Barangsiapa yang mengajarkan dan tentu saja mengamalkan apa yang sudah ia ketahui, maka Allah akan mengajarkan padanya apa-apa yang tidak ia ketahui" Toha tersenyum lebar.

Topan merenung sejenak. Kembali sepi, selain hiruk pikuk jalan yang saat itu mulai macet. Namun kali ini kemacetan tidak membuat Topan gusar. Ada hal lain yang lebih menarik untuk dipikirkan dibanding mengeluhkan kemacetan.

Topan lalu bertanya lagi "Tapi, memangnya sesulit apakah mempertanyakan eksistensi? Terus kenapa harus mempertanyakan eksistensi?"

"Ada beberapa jalan seseorang menemukan kesadaran untuk mempertanyakan eksistensinya. Kamu, dengan kondisimu yang sedemikian sengsaranya, akan mempertanyakan kenapa ada begitu banyak masalah di dalam hidup, hingga akhirnya muncul pertanyaan kenapa aku hidup dan kenapa aku dilahirkan."

"Aku tidak sesengsara itu juga kali" Topan memicingkan mata.

"Hahaha.. tapi beruntunglah kamu memikirkannya ketika masih hidup. Masih ingatkah ayat yang menggambarkan penderitaan orang yang disiksa di akhirat sampai mereka berharap tidak pernah dilahirkan. Dengan demikian pertanyaan eksistensial yang muncul ketika seseorang masih hidup itu menjadi sesuatu yang penting." kata Toha sambil mengangkat telunjuknya.

"Baiklah. Kupikir, aku tidak perlu memikirkan apapun selain beribadah. Begitu kan?"

"Yups. Tetap ingat, ibadah untuk setiap tarikan nafasmu, bukan hanya untuk sekian menit sholatmu saja"

"In Syaa` Allah"

Topan melajukan motornya lebih cepat lagi. Kini dengan lebih mantap. Sekuat tenaga ia kesampingkan kesedihan dan sakit hati yang terus menggoda untuk singgah di hatinya. Tak ada seorang pun yang tahu bagaimana akhir hidupnya. Tak ada seorang pun yang dapat memastikan bagaimana nasibnya di akhirat kelak. Masalah datang dan pergi, seperti udara yang masuk dan keluar dari pernapasan.
geje Mikir Refleksi

Sambil Menyelam Minum Air, karena Hauskah?

Silakan Ngomen
Kita pernah denger peribahasa yang berbunyi "Sambil menyelam minum air". Saya kadang masih ga habis pikir, kenapa peribahasanya mesti begitu, untuk menjelaskan multiple task. Makna peribahasa itu adalah "mengerjakan suatu pekerjaan, dapat pula menyelesaikan pekerjaan atau masalah yang lain (wikiquote)" Kalo kita cermati hubungannya kira-kira seperti ini. Saya menyelam. Sambil menyelam saya juga minum air. Jadi ada dua aktivitas di satu waktu.

Yang saya permasalahkan adalah, kalo menyelam memang kita punya tujuan tertentu misalnya menangkap ikan, mencari kerang atau mutiara, sekedar diving atau snorkling. Ada tujuan dari menyelam itu. Maka menyelamlah sebagai sesuatu aktivitas dalam mencapai suatu tujuan. Sekarang, minum air. Saya minum air ketika haus. Maka, ada dua kemungkinan gambaran, menyelam sambil minum air yang diselami itu, atau menyelam sambil bawa air yang bisa diminum lalu meminumnya sambil menyelam.

Gambaran pertama adalah gambaran yang mungkn paling sering muncul ketika mendegar atau membaca peribahasa ini. Sambil menyelam minum air, air yang diselami. Masalahnya, apakah air yang diselami itu air bersih dan bisa diminum? Kecuali menyelam di laut dan karena air laut tidak bisa diminum sedangkan pada saat menyelam sudah keburu haus, maka minumlah ia air yang bisa diminum yang dibekel. Dan itu berarti gambaran kedua, sambil menyelam minum air yang dibekel.

Saya masih mempertanyakan, minum yang seperti apa yang sepenting harus dilakukan ketika menyelam? Saya nemu tulisan yang lumayan relevan adn menambah pembahasan dari tema ini. Tulisannya ini http://hakadosh.wordpress.com/2011/03/30/maksud-tersembunyi-dikala-sambil-menyelam-minum-air/. Dia menerangkan maksud peribahasa itu dengan cerita Adonia saudara tua Salomo yang meminang Abisag janda dari Raja Daud. Salomo menangkap ada maksud tersembunyi Adonia meminang Abisag sehingga ia mengatakan kepada ibunya,

"Tetapi raja Salomo menjawab ibunya: “Mengapa engkau meminta hanya Abisag, gadis Sunem itu, untuk Adonia? Minta jugalah untuknya kedudukan raja! Bukankah dia saudaraku yang lebih tua, dan di pihaknya ada imam Abyatar dan Yoab, anak Zeruya?”
(1 Raja-Raja 2:22)


Dari kisah tersebut kita menangkap maksud dari minum air itu adalah minum air yang diselami. Adonia menyelam dengan meminang Abisag, sambil menyelam dia juga minum air, yang berarti dengan meminang Abisag, berarti dia menikahi janda Raja yang otomatis menjadi pengganti raja itu. Dalam kondisi ini, meminum air yang diselami menjadi sesuatu aktivitas yang dianggap penting. Meminum air disini tergantung dari apa maksud dari aktivitas menyelamnya. Maka cerita di atas otomatis menjadi validator atas apa yang saya pertanyakan tadi.

Kesimpulan saya untuk pembahasan ini adalah, peribahasa ini cocok diterapkan dalam satu kasus dimana seseorang menyelam, yang dengan maksud menyelam itu dia menganngap minum air yang diselami itu adalah suatu aktivitas yang penting. Demikian.