Labels

Cari di blog ini

Daily Mikir Tafakur

Menentukan Nilai-nilai Hidup

Silakan Ngomen
Aku masih berfikir Jakarta adalah kota yang buas dengan pergaulan yang sangat bebas, hingga aku berkenalan dengan seorang teman dari temanku, sebut namanya Hary. Jakarta yang di mataku adalah tempat yang bebas untuk bersenang-senang dalam pergaulan bebas tanpa batas bahkan dalam urusan kelamin, runtuh setelah aku mengenal seorang Hary. Hikmah ini tentang keistiqomahan, konsistensi untuk menjadi diri sendiri, teguh di tengah derasnya arus metropolitan, tak bergeming meski berdiri di ujung bibir air terjun kesenangan dunia.

Hary memilih menjadi guru, ketika banyak pilihan profesi yang bisa diambil di Jakarta. Ia menjadi guru bukan karena tidak mampu menjadi yang lain. Dia lulusan IT di salahsatu universitas di Jakarta. Dia memilih lingkungan pendidikan, ketika dia tau ada banyak pilihan lingkungan untuk hidup di Jakarta.

Dia cerita bahwa dia punya niat untuk menikahi seorang wanita. Mendengar cerita itu kami para teman bertanya ini itu. Yang mengejutkan adalah, dia bahkan belum sekalipun bertemu dan mengobrol berdua dengan wanita tersebut. Kolega di sekolahnya yang menganjurkan kepadanya untuk menikahi wanita tersebut. Buat sebagian orang, ini adalah keputusan yang aneh. Pertama, ada orang mau berpayah-payah menikah di usia muda (usia Hary masih di bawah 25). Kedua, dia hendak menikahi wanita yang bahkan dia belum tau bagaimana sifat dan karakternya.

Oke, kau boleh anggap ini hal yang aneh, tapi bagiku ini menakjubkan. Alih-alih berkenalan dengan wanita lalu kemudian berpacaran dengan dalih harus kenal dulu, harus tau dulu sifatnya, dan lain-lain baru kemudian memutuskan untuk menikahinya atau tidak. Hary mengambil keputusan yang sederhana dan tidak repot. Maksudnya tidak repot? Ya, bukankah Allah sudah menjanjikan akan memasang-masangkan manusia yang kadar keimanannya tidak terlalu jauh? Kenapa mesti khawatir pasangan kita nanti tidak cocok untuk kita, padahal Allah sudah mentakdirkan dirinya sebagai pasangan yang sederajat dengan kita? Hary memilih untuk menyerahkan segala urusan pasangannya kepada Allah, membiarkan Allah yang memilihkan untuknya, yang sesuai dengannya. Dengan begitu Hary sudah berhemat waktu, tenaga, dan biaya untuk memilih pasangan yang terbaik untuknya. Bukankah Allah lebih mengetahui apa yang terbaik bagi hambaNya?

Tanggal 20 kemarin Hary resmi mengkhitbah sang wanita. Ibunda Hary yang memasangkan cincin hadiah itu di jarinya. Aku melihat, ternyata Jakarta tidak seburuk yang ada di pikiranku sebelumnya. Jakarta ternyata cukup indah, dengan adanya Hary dan orang-orang baik lainnya. Hary berhasil menginternalisasikan nilai-nilai Islam yang dianggapnya sebagai kebenaran, ke dalam perilaku dan setiap keputusannya.

Kau tau, ketika kita menginternalisasikan nilai ke dalam diri kita, maka kita akan bersikap dan bertindak sesuai dengan nilai tersebut, apapun nilai yang kita anut. Internalisasi tidak sama dengan mengetahui, meskipun ia dimulai darinya. Internalisasi adalah menanamkan nilai ke dalam diri sebagai dasar pengambilan sikap dan keputusan serta cara berpikir. Ketika kita menganggap menyentuh wanita yang bukan muhrim itu bukan perkara dosa, maka kita akan menganggap biasa hal tersebut. Ketika kita menganggap Islam bukan nilai-nilai yang cocok untuk hidup di jaman sekarang, maka kau tentu punya nilai lain yang kau anggap cocok untuk diterapkan. Nilai hedonisme mungkin, liberalisme, atheisme, apapun. Nilai yang kau pilih itulah yang akan menemanimu dalam kehidupan. Tidak ada yang salah dengan internalisasi nilai-nilai, apapun nilainya. Kita hanya tinggal membayangkan dan memikirkan, apa dampak kedepannya bila kita hidup dengan memegang nilai-nilai itu.

Hary, jikalau dia mau, dia akan mudah memilih teman-teman yang sukanya clubbing, katanya di Jakarta acara semacam itu mudah ditemui, saya tidak tau. Jikalau mau, dia akan mudah memilih profesi yang lebih nyaman dan sesuai dengan hawa nafsu. Tapi dia memegang nilai-nilai yang menuntunnya untuk memilih jalan yang dia pilih sekarang. Di mana pun dia berdiri, tak peduli sebuas apapun tempat itu, dia akan bersikap dengan nilai-nilai yang dia yakini.

Setiap orang punya kehidupannya masing-masing, punya pilihan jalannya sendiri-sendiri, punya nilai-nilai yang dipegang teguh. Nilai-nilai itu seperti tali yang membantumu berdiri tegak di tengah kondisi yang tidak seimbang. Nilai itu pula yang akan menuntunmu menyusuri jalan hidup. Kalo kamu, nilai-nilai apa saja yang kamu pegang dengan teguh? :D

0 tanggapan:

Posting Komentar

terima kasih sebelumnya untuk tanggapannya ^_^