Labels

Cari di blog ini

Tampilkan postingan dengan label Tafakur. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tafakur. Tampilkan semua postingan
belajar Kewirausahaan Mikir Mindset Pendidikan Refleksi Tafakur

Kepatuhan Hadir Karena Adanya Pemahaman

Silakan Ngomen

Suatu hari saya mengikuti gathering BP di sebuah hotel di Bandung. Pematerinya adalah mas Adrian Maulana dan Mas Ade Rai. Yang akan saya bahas ini adalah diantara hal penting yang membangun mindset baru buat saya.


Sebagai muslim kita mampu taat untuk menjalankan kewajiban agama. Beberapa diantaranya bahkan kita sudah lakukan meskipun kita tidak sadar kalau agama pun memerintahkan hal tersebut.


Contohnya, kita rajin mendirikan sholat wajib 5 waktu. Kenapa kita mau dan rajin melakukannya? Karena kita tau pentingnya menjalankan hal tersebut, karena kita paham akibatnya kalau tidak menjalankan. Kita paham mengapa kita perlu mendirikan sholat, makanya kita berusaha keras untuk konsisten melakukannya. Orang yang masih belum konsisten mendirikan sholat artinya belum paham.


Contoh lain yang lebih sederhana. Kita mungkin pernah begadang saat ada pekerjaan yang menuntut diselesaikan malam itu. Padahal kita ngantuk, tapi kita terus berupaya menyelesaikannya. Kita melakukannya karena kita paham kalau tidak selesai, akan ada akibat yang cukup fatal yang kita dapatkan. 


Tapi ada juga orang yang begadang cuma buat sekedar scroll scroll medsos. Ga ada manfaat yang signifikan yang bisa didapatkan dari bersosmed tengah malam, tapi dia terus saja begitu meskipun terkantuk-kantuk. Dia artinya tidak paham kalau tidur itu lebih penting daripada begadang ga jelas. Andaikata dia paham, tentulah dia akan memaksakan diri tidur apalagi kalau sudah ngantuk ketimbang begadang.


Ada orang giat bekerja ngantor jam 9-5. Serajin itu dia pulang-pergi kerja karena dia paham kalau ga maksimal kerjanya, dia bisa dapat teguran dari bosnya, yang imbasnya ke terancamnya karir dia di kantor tersebut. Andaikata dia tidak paham akan hal itu dan masuk kerja seenaknya, tentulah dia akan cepat dipecat.


Hubungannya dengan kesehatan, Mas Ade Rai melajutkan pembahasan. Kalau kita bisa sedemikan patuh pada ajaran agama, kewajiban bekerja, dan sebagainya, mengapa tidak kita juga patuh untuk rajin berolahraga. Kebanyakan orang malas berolahraga karena dia tidak paham pentingnya olahraga. Dia hanya sekedar tau kalau olahraga itu penting, tapi dia tidak benar-benar paham bagaimana bisa hal itu penting untuk kesehatannya.


Maka di satu jam setengah sesi itu mas Ade Rai fokus membangun pemahaman kepada kami para audiens tentang pentingnya olahraga. Bahkan saya sendiri, dengan pemahaman baru yang beliau tanamkan, membuat saya dengan senang hati dan bersemangat untuk konsisten berolahraga. Dan itu adalah pengalaman yang luar biasa.


Mindset yang penting yang mengatakan bahwa Kepatuhan Hadir Karena Adanya Pemahaman dapat diterapkan di berbagai aspek. Dan itu bisa menjadi patokan hidup kita bahwa, apapun yang ingin kita lakukan dalam hidup secara konsisten dan senang hati, maka kita harus terlebih dahulu menemukan pemahaman akan hal tersebut.

Daily Nonton Tafakur

Selalu Ada yang Harus Disyukuri Bahkan Ketika Terkena Musibah

4 comments

Judulnya kepanjangan. Judulnya itu sendiri adalah posting microblog. Sudaj cukup ngerti. Tapi ane pengen share pengalaman hari ini.

Ceritanya Codepolitan dapet dikasih tiket gratis buat nonton Star Wars The Force Awaken dari Dicoding. Dikasih 4 biji. Karena lokasi nontonnya di PVJ Bandung, maka kru yang di Bandunglah yang dapet jatah. Singkat cerita ane, Rinei my wife, Singgih dan Bagus yang berangkat.

Ini tiket bener-bener nikmat ga disangka2. Soalnya si Rinei pengen banget nonton, sedang dompet ane lagi kempes-kempesnya habis dipake belanja perlengkapan wisuda, seeehabis habisnya.

Beres jumatan langsunglah terbang ke PVJ, naek si Vario putih. Ntu Vario ban depannya udah sobek hampir seperempat lingkar ban sejak dua-tiga hari kebelakang. Jeroannya aja ampe hampir nyembul keluar. Ini mah tinggal nunggu waktu dan momen yang pas aja ampe si ban ini bocor atau meletus.

Kami berangkat dari kampus UPI ke PVJ sekitar setengah jam sebelum jadwal tayang. Stang motor udah makin kentara aja goyang-goyangnya karena sobekan ban depan tadi bikin bannya jadi benjol. Di pikiran ane kebayangnya gawat juga kalo ampe meletus atau paling tidak bocor pada saat itu. It can ruin this happy moment. Bisa bikin bete dan ketinggalan cerita. Niat bikin seneng si Rinei bisa gagal total. Ane inget saat itu ane berdoa dalam hati, mudah-mudahan ga bocor. Kalopun taqdirnya emang mesti bocor hari ini, rada didelay lah Boss paling tidak setelah beres nonton, jangan sekarang.

Alhamdulillah nyampe PVJ dengan selamat, bisa menikmati movie dengan sangat puasss. Rame lah, terutama karena udah ngikutin beberapa episode terdahulunya, jadi rada ngerti dan nyambung.

Pulangnya ampe padalarang malem2. Laa la la, masih kebayang itu efek2 filmnya yang keren bingits. Di jalan tiba-tiba ane sadar, kok ini motor udah ga goyang yah, apa benjolnya udah sembuh, atau justru sobeknya lebih merata jadi ga goyang lagi. Ane minggir dan cek bannya dan ternyata udah kempes. Ini ban masih bagus sebenernya, makanya ga terlalu kerasa pas lagi bocor. Cuma karena sobek aja.

Si rinei udah mulai keliatan bete hahaha. Udah mau nyampe rumah, cuma sekitar 2 kiloan lagi. Tapi apa daya, akhirnya belok dulu lah ke tukang tambal ban. Dari situ ane sadar. Ane ngerasa doa tadi siang itu diijabah. Boleh jadi emang taqdirnya ini ban bocor malem-malem. Tapi boleh jadi juga mestinya bocor siang tadi, tapi Allah delay karena ane berdoa minta delay. Who knows. Malem itu ane bersyukur banget. Meskipun si Rinei agak bete kayaknya, yang juga karena ane pinjem uang ke dia buat tambal dan ganti itu ban luarnya. Tapi rasanya itu masih mending daripada kalo bocornya siang tadi.

Overall, meskipun saat bocor ban itu adalah musibah, bukan berarti kebetean membuat ane jadi lupa bersyukur atas nikmat yang udah dikasih yang jauh lebih banyak dibanding musibah kecil ini. Pemikiran semacam itulah yang selalu ane coba terapkan kalo nemuin kasus serupa. Semata biar ga ada nikmat yang dilupakan.

Ane ngerasa lebih seneng lagi terutama karena momen tersebut terjadi oleh sebab ane berdoa dan doanya nyambung sama kejadian. Rasanya seperti diijabah doa. Dan mudah-mudahan ini adalah tanda ijabah doa. Ketika kita berdoa dan doa kita tidak kunjung diijabah, ada beberapa kemungkinan. Dan kemungkinan terburuk adalah karena ada pada diri kita hal-hal yang membuat doa kita tertahan untuk diijabah. So ketika kita menyadari ada doa kita ada yang diijabah, itu adalah seperti sebuah konfirmasi bahwa "tidak ada pada dirimu sesuatu yang membuat tertahannya sebuah doa untuk diijabah". Mudah2an ya Allaah.

Daily Refleksi Tafakur

Putar, dan Rasakan

Silakan Ngomen
Judulnya engga banget hahaha.. Asbabun nuzulnya ialah, ketika barusan, yaitu malam hari sekitar jam sepuluh, saya merendam handuk kecil yang saya pakai ngelap ingus waktu flu minggu lalu. Itu handuk saya cuci buat nantinya saya pake ngompres istri saya yang lagi demam. Saya cuci dulu supaya ketika dipakai ngompres, tidak ada ingus kering yang jadi basah dan licin kembali lalu menempel di jidat istri saya. Meskipun dia tidak akan tau, tapi tidak tega rasanya kalo harus liat ada ingus nempel di jidatnya.

Bersambung ke asbabun nuzul judul. Saat hendak nyuci handuk kecil itu, warnanya oranye. Ketika mulai dicuci pun tetap oranye. Karena khawatir ingusnya tidak luntur, maka saya ingin tambahkan detergen. Detergennya ada di dalam toples plastik. Saya buka tutup toples itu. Lumayan susah. Saya coba lebih kuat lagi. Masih susah. Kok rasanya makin keras saya putar, makin susah dibuka yah. Saya lalu cuci dulu tangan saya. Maksudnya biar engga licin karena ada butiran detergen yang udah nempel di tangan saya.

Percobaan kedua saya buka lagi tutup toples itu dan, wow, mudah sekali. Saya lihat ke ember air, dan bertanya-tanya, apakah barusan saya baru saja mencuci tangan dengan air ajaib. Saya tutup lagi toples itu. Saya buka dengan keras dan sulit sekali terbuka. Saya kendorkan tenaga, dan, Wow.. mudah sekali terbukanya. Saya yakin, Kamu pun pasti pernah mengalaminya.

Seketika itu saya langsung teringat adegan film, entah film apa, yang mana adegannya ada orang tua yang kesulitan melepaskan tutup toples. Lalu di tengah keseriusannya membuka tutup toples itu, datang anak kecil meminta toples itu dan ia pun membukanya, dengan mudah. Orang tua itu terheran-heran sambil mengerungkan dahinya. Rasanya sulit dipercaya. Apakah itu cerita si Superman saat masih kecil? Entahlah, tapi mungkin itu adalah wow seperti wow yang saya lontarkan di awal tadi. Mungkin terlihat lucu, tapi itu sangat mungkin. You know lah, leher toples kejepit, gaya gesekan membesar, dan sebagainya dan sebagainya.

Hikmah yang bisa saya tangkap di malam yang panas ini, salah satunya adalah, seringkali kita bersikeras mencapai sesuatu tapi pada akhirnya kita kelelahan dan kecewa. Tapi ada kalanya kita memasrahkan sesuatu dan tiba-tiba sesuatu itu malah datang menghampiri. Yaa, dan sebagainya lah. Kalo Kamu, kira-kira hikmah apa yang kepikiran??
Daily Mikir Refleksi Tafakur

Bukan "Karena Cinta"-nya, tapi "Karena Allah"-nya

Silakan Ngomen
“Tidaklah seseorang dari kalian sempurna imannya, sampai ia mencintai untuk saudaranya sesuatu yang ia cintai untuk dirinya.” [HR Bukhari]
Sudahkah kita bersahabat dan bersaudara karena Allah? Lalu sudahkah kita mencintai seseorang, siapapun itu, karena Allah? Pernahkah kau mengatakan, atau terbesit dalam hati untuk mengatakan, kepada seseorang dari lawan jenismu, "aku mencintaimu karena Allah"? Kalo pernah, cobalah cek, mampukah kau merelakan orang yang kau cintai itu untuk saudaramu "karena Allah"? Wow, mungkin itu sesuatu yang berat, atau sangat berat. Tapi, sesungguhnya yang utama itu bukan 'cinta'-nya, tapi 'karena Allah'-nya.

Mari kita simak sepenggal kisah indah, antara Salman al-Farisi dan Abu Darda`, dua orang shahabat Nabi SAW. Salman berasal dari Persia, ikut rombongan hijrah Nabi ke Madinah. Setelah tiba di Madinah, Nabi SAW. kemudian mempersaudarakan para shahabat yang ikut hijrah, kita sebut Muhajirin, dengan shahabat dari Madinah yang menerima kedatangan para Muhajirin, yang kita sebut dengan shahabat Anshar. Salahsatu yang dipersaudarakan adalah Salman dan Abu Darda`.

Suatu waktu, Salman menyukai seorang wanita shalihah dari kaum Anshar. Sudah bulat tekadnya untuk meminangnya. Namun walau bagaimanapun Madinah masih terasa asing olehnya. Madinah bukan tempat ia dilahirkan dan tumbuh dewasa. Madinah punya bahasa dan adat kebiasaan yang belum terlalu dikenalnya. Harus ada orang yang akrab dengan adat Madinah untuk membantunya sebagai juru bicara saat khitbah. Maka disampaikanlah niatan hatinya kepada saudaranya, Abu Darda.

”Subhanallaah. . wal hamdulillaah. .”, Abu Darda’ senang mendengarnya. Keduanya tersenyum bahagia dan berpelukan. Mereka menyiapkan segala sesuatunya untuk mengkhitbah wanita shalihah yang menjadi tujuan hati Salman. Setelah persiapan dirasa cukup, mereka pun pergi ke rumah wanita itu.

”Saya adalah Abu Darda’, dan ini adalah saudara saya Salman seorang Persia. Allah telah memuliakannya dengan Islam dan dia juga telah memuliakan Islam dengan amal dan jihadnya. Dia memiliki kedudukan yang utama di sisi Rasulullah Shallallaahu ’Alaihi wa Sallam, sampai-sampai beliau menyebutnya sebagai ahli bait-nya. Saya datang untuk mewakili saudara saya ini melamar putri Anda untuk dipersuntingnya.”, fasih Abu Darda’ berbicara dalam logat Bani Najjar yang paling murni.

”Adalah kehormatan bagi kami”, ucap tuan rumah, ”menerima Anda berdua, shahabat Rasulullah yang mulia. Dan adalah kehormatan bagi keluarga ini bermenantukan seorang shahabat Rasulullah yang utama. Akan tetapi hak jawab ini sepenuhnya saya serahkan pada puteri kami.”

Abu Darda dan Salman menunggu dengan berdebar-debar. Hingga sang ibu muncul kembali setelah berbincang-bincang dengan puterinya.

”Maafkan kami atas keterusterangan ini”, kata suara lembut itu. Ternyata sang ibu yang bicara mewakili puterinya. ”Tetapi karena Anda berdua yang datang, maka dengan mengharap ridha Allah saya menjawab bahwa puteri kami menolak pinangan Salman. Namun jika Abu Darda’ kemudian juga memiliki urusan yang sama, maka puteri kami telah menyiapkan jawaban mengiyakan.”

Keterusterangan yang disampaikan sang ibu di luar dugaan kedua shahabat itu. Tapi apa reaksi Salman?

”Allahu Akbar!”, seru Salman, ”Semua mahar dan nafkah yang kupersiapkan ini akan aku serahkan pada Abu Darda’, dan aku akan menjadi saksi pernikahan kalian!”

Wow. Coba Kamu bayangkan, bagaimana kalo kita ada pada posisi Abu Darda`. Kalo saya pasti kikuk dan ga enak lah sama saudara saya sendiri. Ini benar-benar diluar dugaan. Yang dalam dugaan kan paling cuma dua jawabannya, menerima atau menolak. Tapi ini ada opsi lain. Menolak dan akan menerima kalo Abu Darda` yang melamarnya. Kalo di versi sinetron mungkin akan sangat lebay pisan.

Hey, coba bayangkan juga kalo kita ada di posisi Salman. Ditembak sama jawaban begitu oleh ibu sang wanita, kita harus mampu memberi respon yang tepat, atau lebih tepatnya, mengkondisikan hati untuk merespon jawaban tersebut. Saya bisa saja menjawab "ya sudah sama Kamu saja Bro", tapi apakah hati saya juga mampu mengatakan hal yang sama?

Hmmm.. Salman, sekalipun bukan saudara kandung, melainkan dipersaudarakan oleh Nabi, persaudaraan yang jauh lebih erat dari persaudaraan apapun, dengan senang hati merelakan apa yang dicintainya untuk saudaranya. Di satu sisi memang punya hak apa Salman melarang Abu Darda` untuk lantas meminang wanita tersebut. Tapi di luar hal tersebut, Salman punya kerelaan hati, yang saya yakin tidak akan pernah dimiliki oleh Salman kalo dia tidak mencintai karena Allah.

Bila Kamu dihadapkan oleh situasi yang serupa, apakah Kamu akan mempertahankan egomu untuk mencintai sang wanita meskipun cinta itu tidak akan pernah terbalas, yang mungkin akan berujung pada keretakan persaudaraanmu? Bisa saja kan endingnya, saudaramu mengalah dan kalian pulang dengan tangan hampa. Kamu tau saudaramu juga pasti ga enak hati dong, apalagi liat respon kamu kayak gitu. Tapi, terlepas dari saudaramu itu suka atau tidak sama wanita tadi, terlepas dari saudaramu akan melamar atau tidak wanita tadi, mampukah Kamu merelakan rasa cintamu untuk kemudian diberikan kepada saudaramu? That's the question. :)

Tambahan. Sekedar motivasi. Allah memberi jaminan perlindungan kepada 7 golongan orang di akhirat nanti. Salahsatunya adalah dua orang yang mencintai karena Allah, bertemu karena Allah dan berpisah karena Allah. Kalo Kamu mencintai seseorang, pastikan cintamu karena Allah. Bagaimana caranya mencintai karena Allah? Yaa, saya kira jawaban yang baru saja saya temukan, yang paling tepat hingga saat ini buat saya adalah, "bukan 'karena cinta'-nya, tapi 'karena Allah'-nya. Mampukah faktor 'karena Allah' itu tetap ada ketika cinta dan orang yang dicintai kandas?"


---
rujukan: http://blog.al-habib.info/id/2012/03/kisah-cinta-dan-kebesaran-hati-salman-al-farisi.html
Daily Impression Refleksi Tafakur videos

Jangan Pernah Bilang "Huh!", Walau Bagaimanapun

Silakan Ngomen
Pernahkah kau sebagai anak merasa kesal atau sebel karena dimintai tolong sama mamahmu buat beli ini itu ke warung? Atau pernahkah kau sebagai cucu merasa kesal karena kelakuan nenekmu yang cerewet? Saya pernah mengalami keduanya.

Tidak ada alasan untuk membenci ibu dan ayah kita, nenek dan kakek kita, walau bagaimanapun. Tidak akan pernah ada alasan yang cukup melegitimasi kita untuk mendengus, apalagi membentak mereka, walau bagaimanapun. Sebodoh apapun mereka, seburuk dan sejahat apapun mereka. Bahkan ketika orang tua kita menyuruh kita untuk berbuat durhaka kepada Allah, kita tetap wajib memperlakukan mereka dengan baik/ma'ruf.

Silakan saksikan video ini, semoga menginspirasi.


Daily Tafakur

Cuma Kurang Satu Menit Saja

Silakan Ngomen

Pulang dari kampus, setelah main-main bentar sama Wil lalu ngelonin dia (mamahnya sih yang ngelonin), akhirnya Wil pun tertidur, bersama saya yang kecapean. Si Kamah ngingetin saya supaya posting dulu karena hari ini belum posting. Tapi saya sudah terlanjur ngantuk dan berharap di detik-detik terakhir pergantian hari, saya bangun dan terjaga buat posting.

Benarlah, saya bangun tengah malam, dibangunin sama si Kamah. "A, udah jam 11:57, cepetan posting". Aku yang masih lulungu seketika loncat dari kasur dan membuka laptop. Syukurlah laptop sudah dinyalain sama si Kamah. Tapi masalahnya, modemnya belum nyolok. Rencananya saat itu yang penting bikin judul dulu kemudian posting. Kontennya nyusul kemudian.

Modem sudah dicolokin. Singggg... sunyi. Nunggu suara "Dongdeng.. Dengdong.." (suara notifikasi kalo ada perangkat yang terkoneksi dengan komputer. Saya pake Ubuntu). Satu menit sudah berlalu. Sambil nunggu koneksi masuk, saya buka browser. Singgg.... sunyi. Saya ketikkan blogger.com. Ga konek. Saya refresh berkali-kali. Berkali-kali. Masuklah ke blogger. Saya tekan tombol Buat Entri. Loading. Loading. Muncul halaman form entri. Udah 23:59. Saya ketikkan judul, lalu klik tombol Publikasikan. Loading. Loading. Halaman browser akhirnya kembali ke daftar post, yang tandanya sudah berhasil publis. Saat itu pukul 00:00, berarti sudah pindah hari.

Saya buka homepage, dan benarlah posting yang baru saja saya post itu ternyata terpasang di hari kamis. Cuma kurang satu menit saja padahal. Saya berpikir dan terheran-heran jadinya, kenapa 00:00 itu masuk ke hari yang baru, bukan menit terakhir hari yang sebelumnya -____-

Rasanya ingin geser menit, satu meniiit saja. Tapi tak ayal, itu jam settingan server si google, bukan jam di komputer saya, meskipun bisa saya manipulasi tanggalnya, tapi hati berkata "jangan.."

Satu menit begitu berharga. Bahkan mungkin itu dalam hitungan detik. Kita tidak bisa kembali mundur walau cuma satu detik. Baru kali ini saya merasakan ketegangan dikejar-kejar detik. Saya jadi inget satu kisah:
Dan belanjakanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kamu; lalu ia berkata:` Ya Tuhanku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian) ku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang saleh? Dan Allah sekali-kali tidak akan menangguhkan (kematian) seseorang apabila datang waktu kematiannya. Dan Allah Maha Mengenal apa yang kamu kerjakan.
Itu adalah gambaran seseorang setelah ia mati lalu dihidupkan kembali, sehingga ia dengan segala penyesalannya berharap untuk dihidupkan kembali dari kematian lalu menambal amal kebaikan yang kurang sehingga amalnya bisa menyelamatkannya, meskipun cuma satu menit saja. Sayangnya, Allah sekali-kali tidak akan pernah menangguhkan kematian seseorang apabila datang waktu kematiannya.

Kejadiannya persis seperti saya yang dikejar-kejar deadline 23:59. Sekali-kali waktu itu tidak dapat dimundurkan. Sekali-kali tidak dapat aku kembali ke menit-menit sebelumnya supaya postingnya lebih leluasa. Saat itu saya hanya tinggal menunggu waktu hingga ia tiba di angka 00:00 maka habislah waktu posting saya hari itu dan sekali-kali waktu tidak akan dapat ditangguhkan.

Semoga saya, dan keluarga saya, dan sahabat saya, tidak termasuk orang-orang yang melalaikan waktu meski hanya satu detik, untuk tertinggal amalan, sehingga menjadi kelompok orang yang merugi di akhirat seperti gambaran pada ayat di atas, al-Munafiqun: 10-11.

Sasya pun tidur lagi, sembari menghitung berapa banyak uang yang tersisa untuk bisa mentraktir teman-teman #ODOBP. Oh, ternyata masih banyak.
Daily Nonton Tafakur

Ceritanya Mau Ngejelasin Racun Curare

2 comments
Akhir-akhir ini rasanya malam jadi susah tidur dan pagi jadi sering ngantuk. Mungkin karena beberapa minggu lalu ngerjain proyek sampe nginep-nginep di lab sambil begadang sampe subuh lalu tidur setelah solat shubuh, sehingga sepertinya jadwal tubuhku berubah. Seperti malam ini. Habis nonton bareng sama si Ayay. Ayay itu panggilan saya buat istri saya, dan itu khusus buat saya saja yang boleh pake. Kalo kamu mau manggil istri saya dengan sebutan selain nama, silakan pake nama Kibu. Iya, kami nonton film serial Arrow. Jangan tanya dari mana saya dapat, karena saya ga ngebajak. Cuma dikasih teman saja, itupun dia yang nawarin buat dikopiin ke harddisk saya.

Saya nonton ampe episode ke-3. Saat itu beres, si Kibu sudah ketiduran. Di episode ketiga itu saya dapet istilah curare. Saya serta merta mengingat-ingat kembali darimana saya dapet istilah itu sebelumnya. Ternyata saya ingat. Istilah itu juga digunakan di dalam film serial Sherlock BBC. Kalo episode keberapanya saya lupa dan males nginget-ngingetnya. Curare itu nama salahsatu jenis racun. Karena penasaran jadi saya googling deh. Nemu beberapa referensi dari blog-blog berbahasa Indonesia. Lumayan ada gambaran, tapi sepertinya ga selengkap dari apa yang saya temukan di Wikipedia. Yang bahasa Indonesianya ga ada. Pengen kontribusi, tapi lagi malas dan malas pake mantera "Allohumma, Paksakeun". Tautannya disini http://en.wikipedia.org/wiki/Curare. Kamu juga pasti bisa nemu kalo mau googling. Tapi kan ada malesnya kalo engga bener-bener niat pengen tau. Jadi saya jelasin sekilas disini, sebagai ganjaran dari kamu yang sudah bersusah payah buka blog saya. Penjelasan berikut saya rangkum dari tautan yang diatas itu.

Curare, adalah istilah umum yang digunakan untuk berbagai ekstrak tanaman alkaloid yang biasa digunakan sebagai racun panah, yang berasal dari Amerika tengah dan Selatan. Racun ini melemahkan otot-otot rangka dan pada dosis tertentu menyebabkan kematian oleh sesak napas karena kelumpuhan diafragma. Racun ini digunakan oleh orang-orang pribumi Amerika Selatan untuk berburu dan berperang.

Waduh panjang dan belibet gening penjelasannya. Yaudah kalo ada waktu dan niat, nanti saya sambung lagi. Udah malem, mesti tidur biar besok ga ngantuk di motor hehe..
Daily doodle Refleksi Tafakur

Berlatih Doodle Berlatih Hidup

4 comments
Bingung nyari judul. Tapi maksudnya saya ingin bilang kalo selama seminggu terakhir belajar atau berlatih doodle, ada beberapa hikmah yang saya dapatkan tentang kehidupan dan beberapa formula untuk menjalani hidup.

Saya tertarik untuk berlatih doodle karena dari apa yang saya pahami, doodle punya karakteristik seni yang unik, diantaranya:

  • Secara bahasa doodle artinya coretan, gambar yang tak berarti, menggambar dengan melamun (kalo kata google translate). Doodle umumnya merujuk pada coretan yang dibuat seseorang ketika dia sedang menelepon, atau ketika lagi bete sama pelajaran di kelas, atau lagi ngelamun.
  • Sekarang doodle udah mulai dilirik sebagai suatu karya seni yang diperhitungkan karena karya-karya doodle sekarang sangat bisa dinikmati keindahannya, tidak sekedar coretan, tapi coretan yang rapi, enak dilihat, dan dapat diapresiasi, bisa jadi mengandung makna.
  • Doodle paling sederhana itu dibuat hanya menggunakan pensil atau pena. Yang rada serius biasanya pake beberapa jenis ukuran dan warna pena.
  • Karena judulnya coretan, jadi bisa dilakukan kapanpun dimanapun, tanpa beban.
  • Karena coretan, jadi ga ada alasan untuk menghapus bagian yang dianggap salah karena tidak ada yang salah dalam coretan.
  • Beberapa artis doodle mensketsa terlebih dahulu doodlenya menggunakan pensil baru kemudian ditegaskan oleh pena tinta.

Beberapa hikmah yang saya dapatkan dari berlatih doodle:

1) Pertama kali membuat doodle, saya meniru doodle yang sudah ada. Saya mencermati setiap variasi bentuk dan kombinasi garis. Hidup juga sama. Dalam banyak hal kita lebih sering meniru orang ketimbang mencari tau sendiri. Tapi begitulah seharusnya kalo pingin efektif dalam hidup. Dalam hal berkarya, konsep Amati-Tiru-Modifikasi adalah konsep yang efektif dan efisien. Pengalaman adalah guru terbaik, tapi untuk menjadi sukses tidak mesti mengulang kesalahan yang orang lain pernah lakukan.

2) Ketika membuat doodle, seringkali saya merasa ragu untuk menarik garis. Padahal tarik ya tarik saja. Urusan nantinya garisnya mencong atau buletnya benjol, ya tinggal timpa dikit-dikit biar keliatan pantes. Memang menarik garis lurus, kurva atau bulat yang rapi dalam satu tarikan itu bukan hal yang mudah. Tapi kalo ragu terus ya ga akan jadi jadi doodlenya. Dari hal ini saya belajar tentang keberanian untuk melangkah dan mengambil keputusan. Banyak orang yang melakukan kesalahan, tapi lebih banyak lagi orang yang enggan mengambil keputusan karena ragu dan takut salah. Takut salah itu baik, tapi tidak melangkah maju itu tidak baik. Hari ini harus lebih baik dari kemarin bermakna harus ada kemajuan dalam hidup, harus ada peningkatan kualitas hidup. Kemajuan dan peningkatan kualitas hidup tidak akan didapatkan bila hanya berdiam diri tanpa ada keputusan-keputusan yang jelas yang harus diambil. Beranilah mengambil keputusan!

3) Kenyataannya, meskipun aneh, tapi tidak ada larangan doodle tidak boleh disketsa terlebih dahulu. Membuat sketsa berarti membuat perencanaan supaya doodlenya bisa lebih bagus dan lebih rapi sehingga lebih punya potensi dalam menyampaikan makna kepada orang yang melihat. Begitu pula perencanaan hidup. Kadangkala kita berpikir perencanaan itu tidak perlu. Biarkan hidup mengalir seperti air. Tapi percayalah, merencanakan hidup itu strategi supaya hidup lebih bermakna dari sekedar air yang lewat hingga bermuara ke laut membawa banyak buih, sampah dan kotoran.

4) Ketika membuat doodle, pernah saya sampe stuck dan bingung mau nambah objek apa lagi didalamnya. Saya sampe merasa doodle yang ini sudah tidak bisa dilanjutkan lagi. Dari situ saya merasa bersalah (#lebaymode), tidak memberikan makna seutuhnya pada doodle tersebut. Hidup juga sama. Mungkin beberapa di antara kita pernah berpikir hidup ini sudah gagal, tidak punya peluang lagi untuk jadi lebih baik, bahkan mungkin kepikiran untuk mengakhiri hidup, na'udzubillah. Wooi, doodle ya cuma doodle, terlepas ia bermakna atau tidak untuk orang lain. Tapi hidup harus bermakna buat orang lain, bilapun memang kamu merasa hidupmu sudah tidak bermakna buat dirimu sendiri!

5) Ada banyak kesalahan yang saya buat ketika membuat doodle. Tapi selalu bisa diakali supaya tetep keliatan enak dengan menambahkan garis dan meratakan bagian-bagian yang dirasa kurang seimbang. Begitu pula hidup. Setiap anak Adam selalu melakukan kesalahan, dan sebaik-baik pembuat kesalahan adalah yang senantiasa memperbaiki diri (bertaubat). Selalu ada upaya untuk memperbaiki bagian yang salah, meski bagian yang sudah terlanjur hitam sekalipun.

6) Doodle menjadi bernilai karena ia adalah goresan tinta yang mengalir tanpa bagian-bagian yang dihapus. Kalopun tidak ada larangan menghapus atau menimpa dengan tinta putih, tapi pasti akan ada bekas. Berlatih doodle, saya belajar bagaimana membayangkan gambar di dalam pikiran untuk kemudian dituangkan di atas kertas. Mungkin hidup juga gitu. Kita mesti cerdas membayangkan visi kita di masa depan untuk menentukan tindakan kita hari ini. Kita juga mesti cerdas menimbang akibat apa yang akan timbul esok bila kita melakukan sesuatu hal hari ini. Pena telah diangkat dan lembaran-lembaran telah mengering. Tidak ada undo dalam doodle, begitu juga kehidupan.

Pada akhirnya saya berkesimpulan, baik doodle maupun hidup, keduanya memerlukan latihan untuk menjadi lebih baik dari waktu ke waktu.
Daily Mikir Tafakur

Menentukan Nilai-nilai Hidup

Silakan Ngomen
Aku masih berfikir Jakarta adalah kota yang buas dengan pergaulan yang sangat bebas, hingga aku berkenalan dengan seorang teman dari temanku, sebut namanya Hary. Jakarta yang di mataku adalah tempat yang bebas untuk bersenang-senang dalam pergaulan bebas tanpa batas bahkan dalam urusan kelamin, runtuh setelah aku mengenal seorang Hary. Hikmah ini tentang keistiqomahan, konsistensi untuk menjadi diri sendiri, teguh di tengah derasnya arus metropolitan, tak bergeming meski berdiri di ujung bibir air terjun kesenangan dunia.

Hary memilih menjadi guru, ketika banyak pilihan profesi yang bisa diambil di Jakarta. Ia menjadi guru bukan karena tidak mampu menjadi yang lain. Dia lulusan IT di salahsatu universitas di Jakarta. Dia memilih lingkungan pendidikan, ketika dia tau ada banyak pilihan lingkungan untuk hidup di Jakarta.

Dia cerita bahwa dia punya niat untuk menikahi seorang wanita. Mendengar cerita itu kami para teman bertanya ini itu. Yang mengejutkan adalah, dia bahkan belum sekalipun bertemu dan mengobrol berdua dengan wanita tersebut. Kolega di sekolahnya yang menganjurkan kepadanya untuk menikahi wanita tersebut. Buat sebagian orang, ini adalah keputusan yang aneh. Pertama, ada orang mau berpayah-payah menikah di usia muda (usia Hary masih di bawah 25). Kedua, dia hendak menikahi wanita yang bahkan dia belum tau bagaimana sifat dan karakternya.

Oke, kau boleh anggap ini hal yang aneh, tapi bagiku ini menakjubkan. Alih-alih berkenalan dengan wanita lalu kemudian berpacaran dengan dalih harus kenal dulu, harus tau dulu sifatnya, dan lain-lain baru kemudian memutuskan untuk menikahinya atau tidak. Hary mengambil keputusan yang sederhana dan tidak repot. Maksudnya tidak repot? Ya, bukankah Allah sudah menjanjikan akan memasang-masangkan manusia yang kadar keimanannya tidak terlalu jauh? Kenapa mesti khawatir pasangan kita nanti tidak cocok untuk kita, padahal Allah sudah mentakdirkan dirinya sebagai pasangan yang sederajat dengan kita? Hary memilih untuk menyerahkan segala urusan pasangannya kepada Allah, membiarkan Allah yang memilihkan untuknya, yang sesuai dengannya. Dengan begitu Hary sudah berhemat waktu, tenaga, dan biaya untuk memilih pasangan yang terbaik untuknya. Bukankah Allah lebih mengetahui apa yang terbaik bagi hambaNya?

Tanggal 20 kemarin Hary resmi mengkhitbah sang wanita. Ibunda Hary yang memasangkan cincin hadiah itu di jarinya. Aku melihat, ternyata Jakarta tidak seburuk yang ada di pikiranku sebelumnya. Jakarta ternyata cukup indah, dengan adanya Hary dan orang-orang baik lainnya. Hary berhasil menginternalisasikan nilai-nilai Islam yang dianggapnya sebagai kebenaran, ke dalam perilaku dan setiap keputusannya.

Kau tau, ketika kita menginternalisasikan nilai ke dalam diri kita, maka kita akan bersikap dan bertindak sesuai dengan nilai tersebut, apapun nilai yang kita anut. Internalisasi tidak sama dengan mengetahui, meskipun ia dimulai darinya. Internalisasi adalah menanamkan nilai ke dalam diri sebagai dasar pengambilan sikap dan keputusan serta cara berpikir. Ketika kita menganggap menyentuh wanita yang bukan muhrim itu bukan perkara dosa, maka kita akan menganggap biasa hal tersebut. Ketika kita menganggap Islam bukan nilai-nilai yang cocok untuk hidup di jaman sekarang, maka kau tentu punya nilai lain yang kau anggap cocok untuk diterapkan. Nilai hedonisme mungkin, liberalisme, atheisme, apapun. Nilai yang kau pilih itulah yang akan menemanimu dalam kehidupan. Tidak ada yang salah dengan internalisasi nilai-nilai, apapun nilainya. Kita hanya tinggal membayangkan dan memikirkan, apa dampak kedepannya bila kita hidup dengan memegang nilai-nilai itu.

Hary, jikalau dia mau, dia akan mudah memilih teman-teman yang sukanya clubbing, katanya di Jakarta acara semacam itu mudah ditemui, saya tidak tau. Jikalau mau, dia akan mudah memilih profesi yang lebih nyaman dan sesuai dengan hawa nafsu. Tapi dia memegang nilai-nilai yang menuntunnya untuk memilih jalan yang dia pilih sekarang. Di mana pun dia berdiri, tak peduli sebuas apapun tempat itu, dia akan bersikap dengan nilai-nilai yang dia yakini.

Setiap orang punya kehidupannya masing-masing, punya pilihan jalannya sendiri-sendiri, punya nilai-nilai yang dipegang teguh. Nilai-nilai itu seperti tali yang membantumu berdiri tegak di tengah kondisi yang tidak seimbang. Nilai itu pula yang akan menuntunmu menyusuri jalan hidup. Kalo kamu, nilai-nilai apa saja yang kamu pegang dengan teguh? :D

Daily Mikir Refleksi Tafakur

Keep Calm and Nikmati Interaksi

2 comments

Hadits ini adalah hiburan buatku, ketika aku lagi down terutama dalam mengatur diri dalam hal berinteraksi. Kamu mungkin tidak mengira tapi postinganku kemarin tentang senangnya berinteraksi adalah salahsatu bentuk sugesti diri untuk tetap semangat melangkah menuju perbaikan. Apapun masalah yang kamu hadapi, yakinlah pasti ada jalan keluar, meskipun jalan itu tak tampak karena terhalang semak. Itu nasihat buat diriku.

Aku yakin tidak ada orang yang tidak punya masalah dengan manusia lain. Sejatinya manusia memerlukan sesamanya untuk memenuhi segala kebutuhan hidupnya, dalam hal apapun. Singkatnya manusia tidak bisa hidup sendiri, pun ketika ada fakta manusia yang mampu hidup sendiri di tempat yang sepi tanpa populasinya. Dan kau pun tau, masalah yang selama ini kau hadapi, jauuuh, jauh lebih sederhana dari apa yang dialami oleh orang yang paling sabar di dunia ini. Kau tau siapa?

Kau tau kisah seorang kelaki yang setiap harinya mendatangi seorang nenek buta di salah satu sudut pasar, dia membawa makanan dan menyuapi wanita tersebut. Dia tetap melakukannya sekalipun wanita itu senantiasa menghina dan memfitnah nama seorang lelaki yang nyatanya adalah dirinya sang lelaki. Tetapi lelaki itu tetap melakukannya, setiap hari, dengan penuh kelembutan, tanpa kebencian, hingga akhir hayatnya.

Seorang sahabat lelaki tersebut meneruskan kebiasaannya setelah ia wafat, mendatangi wanita tua nan buta tersebut, membawakan makanan dan menyuapinya. Sang wanita tua marah dan berteriak,

“Siapa kamu…!!!”

Sang sahabat menjawab, “Aku orang yang biasa“

“Bukan…!!! Engkau bukan orang yang biasa mendatangiku.” sahut sang wanita buta itu.

“Apabila ia datang kepadaku, tidak susah tangan ini memegang dan tidak susah mulut ini mengunyah. Orang yang biasa mendatangiku itu selalu menyuapiku, tapi terlebih dahulu dihaluskannya makanan itu, baru setelah itu ia berikan makanan itu kepadaku.”

Mendengar itu sang sahabat menangis sambil berkata “Aku memang bukan yang biasa datang kepadamu. Aku adalah salah seorang dari sahabatnya. Orang yang mulia itu telah tiada. Ia adalah Muhammad, Rasulullah SAW.”

Mendengar itu sang wanita tua nan buta menangis. Ia hampir tak percaya, lelaki yang selama ini dihinanya dan difitnahnya, adalah orang yang setiap hari memberinya makanan, menyuapinya, dengan cara yang sangat lembut. Sang wanita dan sahabat itu, Abu Bakar, larut dalam tangis, sekali lagi merasakan kehilangan seorang lelaki yang mereka kagumi, mereka sayangi dan ia menyayangi mereka. Tak ada manusia lain yang menandingi kesabaran dan kasih sayangnya kepada sesama manusia.

Mengingat sosoknya, sekalipun tidak pernah bertemu, memunculkan kerinduan dalam hati ini. Bahkan sesekali 'meragukan', benarkah ada orang seperti itu di dunia ini? Seketika pandanganku tertuju kembali pada diriku. Apakah aku bisa sedemikian sabar dan penuh kasih sayang seperti lelaki mulia itu? Atau aku hanya seorang yang senang menyendiri bersama komputer, menghabiskan hari demi hari tanpa meninggalkan sesuatu yang berharga bagi orang di sekitarku?

Mengingat dirinya yang indah membantuku mengembalikan semangat diri, untuk senantiasa melangkah, menjadi lebih baik dari diriku di hari yang lalu. Setiap kali ada konflik dengan manusia, aku selalu ingat satu pesan darinya, "Mu'min yang berinteraksi dengan masyarakat dan bersabar atas celaan mereka lebih baik daripada yang tidak berinteraksi dengan masyarakat dan tidak bersabar atas gangguan mereka." (arti dari tulisan di foto)

Siap! Aku menyambut nasihatmu, wahai manusia mulia, yang kemuliaannya datang dari Yang Maha Mulia. Aku masih berharap, bisa bertemu denganmu suatu saat nanti, meski dengan kondisi diri yang rasanya tak pantas untuk bersanding dengan dirimu. Terima kasih atas nasihatnya. Aku akan melanjutkan perjalanan.

chat Mikir nglamun Pendidikan Tafakur Tole

"Sudah Kuduga"

4 comments
Pernahkah dalam hati kamu bilang "sudah kuduga", ketika menghadapi suatu kejadian atau jawaban? Contohnya ada percakapan begini:

  • Hendro (baca artikel): Nasi sambel telur, cuma seribu rupiah. ckckck
  • Tole: dimana?
  • Hendro: di Jogja..
  • Tole: sudah kuduga.

Kenapa Tole bisa bilang "sudah kuduga"? Karena ketika dia bertanya "Dimana?", dia sudah punya praduga atas jawaban dari pertanyaannya. Dia sudah menduga kalo harga makanan pokok yang murah itu biasanya di Jogja, karena mungkin dia pernah menemui hal tersebut atau sekedar mendengar informasi tersebut. Kalo kita sadari, setiap orang hampir pernah mengalami hal tersebut. Hanya saja tiadak semua orang melafalkan "sudah kuduga"nya. Sebagian mereka mengucapkannya hanya di dalam hati.

Kenapa orang punya praduga atas suatu hal atau jawaban atas pertanyaan yang diajukannya? Karena setiap manusia memiliki informasi awal yang menghasilkan asosiasi atau perkiraan atas kenapa suatu hal bisa terjadi. Manusia mendengar, melihat, membaca informasi dari sekitarnya. Dari informasi yang terkumpul itu terbentuklah semacam asosiasi yang menghasilkan pola-pola tertentu yang mudah dikenali. Hal paling sederhana dari pola ini adalah hukum sebab akibat. Pola yang lebih kompleks muncul dari gabungan antar pola sebab akibat yang pernah dia temui.

Kalo di makalah ilmiah, kita menemukan istilah hipotesis. Hipotesis ini membantu mempersempit arah penelitian, dengan memanfaatkan sejumlah informasi dan menguji informasi tersebut berdasarkan perkiraan hasi pengujian. Disadari atau tidak, sebenernya kita semua senantiasa membuat hipotesis dalam banyak kasus kehidupan, bahkan yang sederhana seperti dialog di atas.

Dari fakta inilah, kita melihat pentingnya sebuah informasi. Informasi didapat dari memperhatikan, menyaksikan, mendengarkan dan membaca. Dengan mengetahui fakta ini, mudah-mudahan kita bisa lebih semangat dan berbahagia untuk mempelajari apapun. :D
Daily Impression puisi Refleksi Tafakur

Makan Bolu

Silakan Ngomen
Tiap aku makan kamu, enak, banget
lembut, manis, pulen

Tapi akan ada satu waktu
kau membuat dadaku meleg
selalu tiba-tiba

Seharusnya aku siapkan air ketika makan kamu
Atau sebaiknya aku tidak memakanmu lagi saja?

Nonton Tafakur

Nyata atau Mimpi? (Nonton Inception)

Silakan Ngomen
sumber: http://www.dudeiwantthat.com/gear/gadgets/Inception-Totem-1382.jpg
Inception yang saya maksud adalah salahsatu film yang dibintangi Leonardo de Caprio (maap kalo salah nulis namanya ya, Le), yang bercerita tentang bagaimana manusia dapat menanamkan ide ke bawah sadar seseorang dengan memasuki mimpinya, kira2 seperti itu. Diceritakan bahwa manusia dapat bermimpi, bermimpi di dalam mimpi, begitu seterusnya. Ada relativitas waktu antar setiap lapisan mimpi. Satu jam di alam mimpi sama dengan lima menit di dunia nyata. Kalo tertidur di dalam mimpi tersebut misalkan selama satu jam, kemudian bermimpi lagi, maka mimpi di lapisan kedua akan berjalan selama 12 jam, dan begitu seterusnya untuk lapisan mimpi yang lebih dalam.

Si Leonardo ini ternyata sudah pernah bermimpi di lapis keempat. Artinya, dia bermimpi, kemudian di mimpinya itu dia bermimpi lagi, lalu di dalam mimpinya dia bermimpi lagi, dan di dalam mimpinya dia bermimpi lagi. Gitulah, ga perlu diitung berapa lama waktu yang dia habiskan untuk hidup di mimpi terdalamnya. Kalo mau lebih detail silakan nonton ehehe.. Disini saya bakal bahas ending filmnya, karena emang itu hal terkait yang ingin saya bahas di tulisan ini. Kalo belum nonton dan ga mau tau spoilernya, silakan nonton dulu baru lanjut lagi bacanya.

Akhir ceritanya ternyata si Leonardo masih di alam mimpi. Hal itu ditunjukkan oleh gasing yang dia putarkan di atas meja, yang kemudian dia tinggalkan karena melihat kedua anaknya menampakkan wajah mereka, sehingga si Leonardo merasa sudah yakin bahwa itu bukan lagi mimpi. Dia pergi menghampiri anak-anaknya dan meninggalkan gasing itu yang ternyata terus berputar. Kan asumsi yang dikemukakan di awal cerita itu, kalo gasingnya terus berputar selamanya berarti dia masih ada di alam mimpi. Udah ue habis filmnya. Kesimpulan akhir ceritanya diserahkan kepada penonton. Dalam beberapa kasus film, terkadang ini mengesalkan, karena secara umum orang pengen ending yang bahagia tiap kali nonton film. Tapi ending film Inception ini benar2 menggelitik saya buat berkhayal lagi sesudahnya.

Ending yang menurut saya mungkin, itu paling tidak ada dua. Pertama dia kembali pada gasingnya dan menyadari kalo ternyata dia masih berada di alam mimpi. Dari situ anggap saja dia akan bereaksi untuk mati di mimpi itu supaya bisa bangun atau menerima mimpi itu sebagai realita yang akan dia jalani. Kemungkinan kedua, dia tidak pernah menemukan gasing itu lagi, apakah karena ketemu duluan ama bapaknya atau anaknya, atau jatuh, atau skenario lain yang intinya dia menganggap dia sudah di alam nyata (yang padahal masih di alam mimpi) dan menjalani kehidupannya sampai dia mati.

Andai dia menjalani sisa hidupnya di mimpi tersebut dan kemudian mati, maka dia akan terbangun dari mimpi tersebut, dan kembali ke kehidupan nyata atau mimpi yang lebih atas yang kita tidak pernah tau, karena emang di awal posisi levelnya adalah selevel dengan dia di akhir cerita, yang ternyata mimpi. Jadi kita ga bisa mengasumsikan dia sedang berada di level mimpi keberapa karena emang ga ada petunjuk. Mungkin dia ada di level teratas mimpi yang setelahnya adalah kehidupan nyata, atau mungkin ada di level mimpi ke-(n-k) yang di atasnya masih level mimpi ke-(n-k+1) dengan n=0 yang artinya kehidupan nyata dan k=level mimpi yang kita ga dikasih tau oleh si sutradara.

Tapi, sedalam apapun level mimpi si Leonardo, artinya dia bermimpi lalu menjalani hidup sampai mati, lalu terbangun ke mimpi di level di atasnya, lalu dia menjalani hidup sampai mati, lalu terbangun ke mimpi yang di atasnya, dan begitu seterusnya sampai level teratas dengan nilai iterasi yang kita ga pernah tau, PASTI mesti ada mati yang terbangun ke kehidupan nyata. Begitu kan? Nah pertanyaannya sekarang adalah, setelah dia terbangun ke kehidupan nyata, lalu menjalani hidup sampai mati, kira2 terbangunnya ke alam mana ya? Andaikata alam nyata yang kita maksud tadi ternyata adalah mimpi (sama seperti asumsi si Leonardo yang menganggap dirinya sudah terbangun ke alam nyata yang ternyata mimpi), pertanyaan selanjutnya adalah mana yang merupakan alam nyata yang sebenarnya?? Toweew.. mind blowing..

Saya ulangin lagi pertanyaannya. Jadi sebenarnya alam nyata yang sebenarnya itu yang mana? Oke, anggap saja pembahasan tentang Inception tadi berakhir. Tapi toh, kita juga bermimpi kan ketika tidur. Kita seringkali menganggap mimpi kita itulah kenyataan. Kita baru menyadari bahwa kita itu bermimpi setelah kita terbangun. Setelah terbangun, kita baru nyadar kalo mimpi kita itu aneh, tidak realistis, yang padahal kita terima segala hukum fisika dan lain-lain yang ada di alam mimpi ketika kita bermimpi. Singkatnya, kita menghayati kehidupan di dalam mimpi itu sebagai realita pada saat kita bermimpi.

Sekarang Kamu lagi baca tulisan ini. Kamu merasa kamu sedang berada di alam nyata. Kamu meyakini semua hukum fisika dan lain-lainnya, dan menjalani kehidupan kamu sekarang. Bukankah itu hal yang sama yang kamu alami seperti saat kamu bermimpi? Kamu mungkin akan menjawab, bahwa alam nyata dan mimpi itu bisa dibedakan. Kita akan berdalih, ketika mimpi, ada bagian2 cerita yang ga realistis, bagian2 yang terpotong, yang ga bisa diingat, yang terlalu singkat, dan sebagainya. Saya katakan bahwa dalih tersebut muncul saat kamu berada di dunia nyata yang kamu maksud. Kamu menilai tentang mimpimu dari alam nyata. Kalo kamu menilai mimpimu dari alam mimpi, mungkin ceritanya akan beda, kamu akan menilai mimpi itu sebagai sebuah realita, alam nyata.

Tapi adakalanya ketika bermimpi, kita sadar bahwa kita sedang bermimpi. Kesadaran tersebut muncul karena ada perbandingan dengan alam nyata. Kita sadar kita bermimpi karena pada saat itu kita sudah tau seperti apa sebenarnya alam nyata itu. Nah, sampai titik ini, bisa ga kita katakan 'adakalanya' tersebut di alam nyata yang kita? Bisa ga kita sadari bahwa alam nyata yang kita maksud sekarang ini ternyata adalah mimpi? Atau dengan kata lain, andaikata alam nyata ini ternyata mimpi, bisakah kita menyadari bahwa kita sedang bermimpi? Saya katakan BISA, ketika kita sudah terbangun dari mimpi dan merasakan alam nyata yang sesungguhnya sebagai pembanding. Kapan kita bangun? Ya nanti kalo udah menjalani hidup dan mati.

Sebelum saya tutup, saya pengen mengutarakan testimoni saya tentang mimpi. Ketika saya mimpi, saya merasa mimpi saya itu pendek. Tau-tau sudah shubuh lagi. Hal ini nampak berkebalikan dengan konsep yang dijelaskan di film Inception. Tapi sebenarnya sama. Kalo dibandingin rentang waktu, pada saat mimpi, kita ngerasa lama di dalam mimpi. Tapi kita merasa mimpi itu pendek karena kita membandingkan mimpi kita dengan kehidupan nyata. Misalkan di mimpi kita bertualang, mungkin seharian atau berhari-hari. padahal kita tidur cuma 2-3 jam. Tapi kalo tidur malam, begitu bangun dari mimpi, kita ngerasa mimpi kita itu pendek. Mungkin lebih tepatnya kita merasa "perasaan baru tadi aja saya tidur jam sembilan malem, eh udah azan shubuh lagi". Padahal kita udah tidur 8 jam dan sudah berpetualang di alam mimpi, cuma kita ga inget aja alur dan terutama durasi mimpi kita.

Oke, saya akan menutup pembahasan ini dengan satu ayat alQuran yang senada dengan pembahasan saya. Jangan anggap tulisan di atas sebagai tafsir karena saya bukan ahli tafsir. Anggap saja hasil asosiasi dari berbagai pengetahuan dan asumsi yang ada di dalam pikiran saya. Ini ayat terakhir dari surat anNazi'at.

Pada hari mereka melihat hari berbangkit itu, mereka merasa seakan-akan tidak tinggal (di dunia) melainkan (sebentar saja) di waktu sore atau pagi hari.


Tafakur

Jadikan Aku yang Dirindu

Silakan Ngomen
Tiadalah kesenangan paling didamba
Ketika semua keberatan dunia melepas badan
Menuju haribaan, pelukan, kehangatan sambutan
KerinduanNya melebihi kerinduan seluruh semesta
Ooo.. jadilah aku yang dirindu, jadikanlah..