Labels

Cari di blog ini

Tampilkan postingan dengan label Nonton. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Nonton. Tampilkan semua postingan
Daily Nonton Tafakur

Selalu Ada yang Harus Disyukuri Bahkan Ketika Terkena Musibah

4 comments

Judulnya kepanjangan. Judulnya itu sendiri adalah posting microblog. Sudaj cukup ngerti. Tapi ane pengen share pengalaman hari ini.

Ceritanya Codepolitan dapet dikasih tiket gratis buat nonton Star Wars The Force Awaken dari Dicoding. Dikasih 4 biji. Karena lokasi nontonnya di PVJ Bandung, maka kru yang di Bandunglah yang dapet jatah. Singkat cerita ane, Rinei my wife, Singgih dan Bagus yang berangkat.

Ini tiket bener-bener nikmat ga disangka2. Soalnya si Rinei pengen banget nonton, sedang dompet ane lagi kempes-kempesnya habis dipake belanja perlengkapan wisuda, seeehabis habisnya.

Beres jumatan langsunglah terbang ke PVJ, naek si Vario putih. Ntu Vario ban depannya udah sobek hampir seperempat lingkar ban sejak dua-tiga hari kebelakang. Jeroannya aja ampe hampir nyembul keluar. Ini mah tinggal nunggu waktu dan momen yang pas aja ampe si ban ini bocor atau meletus.

Kami berangkat dari kampus UPI ke PVJ sekitar setengah jam sebelum jadwal tayang. Stang motor udah makin kentara aja goyang-goyangnya karena sobekan ban depan tadi bikin bannya jadi benjol. Di pikiran ane kebayangnya gawat juga kalo ampe meletus atau paling tidak bocor pada saat itu. It can ruin this happy moment. Bisa bikin bete dan ketinggalan cerita. Niat bikin seneng si Rinei bisa gagal total. Ane inget saat itu ane berdoa dalam hati, mudah-mudahan ga bocor. Kalopun taqdirnya emang mesti bocor hari ini, rada didelay lah Boss paling tidak setelah beres nonton, jangan sekarang.

Alhamdulillah nyampe PVJ dengan selamat, bisa menikmati movie dengan sangat puasss. Rame lah, terutama karena udah ngikutin beberapa episode terdahulunya, jadi rada ngerti dan nyambung.

Pulangnya ampe padalarang malem2. Laa la la, masih kebayang itu efek2 filmnya yang keren bingits. Di jalan tiba-tiba ane sadar, kok ini motor udah ga goyang yah, apa benjolnya udah sembuh, atau justru sobeknya lebih merata jadi ga goyang lagi. Ane minggir dan cek bannya dan ternyata udah kempes. Ini ban masih bagus sebenernya, makanya ga terlalu kerasa pas lagi bocor. Cuma karena sobek aja.

Si rinei udah mulai keliatan bete hahaha. Udah mau nyampe rumah, cuma sekitar 2 kiloan lagi. Tapi apa daya, akhirnya belok dulu lah ke tukang tambal ban. Dari situ ane sadar. Ane ngerasa doa tadi siang itu diijabah. Boleh jadi emang taqdirnya ini ban bocor malem-malem. Tapi boleh jadi juga mestinya bocor siang tadi, tapi Allah delay karena ane berdoa minta delay. Who knows. Malem itu ane bersyukur banget. Meskipun si Rinei agak bete kayaknya, yang juga karena ane pinjem uang ke dia buat tambal dan ganti itu ban luarnya. Tapi rasanya itu masih mending daripada kalo bocornya siang tadi.

Overall, meskipun saat bocor ban itu adalah musibah, bukan berarti kebetean membuat ane jadi lupa bersyukur atas nikmat yang udah dikasih yang jauh lebih banyak dibanding musibah kecil ini. Pemikiran semacam itulah yang selalu ane coba terapkan kalo nemuin kasus serupa. Semata biar ga ada nikmat yang dilupakan.

Ane ngerasa lebih seneng lagi terutama karena momen tersebut terjadi oleh sebab ane berdoa dan doanya nyambung sama kejadian. Rasanya seperti diijabah doa. Dan mudah-mudahan ini adalah tanda ijabah doa. Ketika kita berdoa dan doa kita tidak kunjung diijabah, ada beberapa kemungkinan. Dan kemungkinan terburuk adalah karena ada pada diri kita hal-hal yang membuat doa kita tertahan untuk diijabah. So ketika kita menyadari ada doa kita ada yang diijabah, itu adalah seperti sebuah konfirmasi bahwa "tidak ada pada dirimu sesuatu yang membuat tertahannya sebuah doa untuk diijabah". Mudah2an ya Allaah.

Impression kreatif lagu Nonton videos

OK Go: Writing's on the Wall

Silakan Ngomen
Akhirnya, rilis video klip terbaru dari OK Go muncul. Seperti biasa, dengan segala keunikan idenya, OK Go kini menghadirkan video klip yang 'mempermainkan' sudut pandang kamera (Eyes Boggling) sehingga menampilkan kesan tertentu. Ya gitulah kira-kira. Mending liat aja langsung video klipnya. Saya yakin kamu juga akan bilang "WOW!"

Daily Nonton Tafakur

Ceritanya Mau Ngejelasin Racun Curare

2 comments
Akhir-akhir ini rasanya malam jadi susah tidur dan pagi jadi sering ngantuk. Mungkin karena beberapa minggu lalu ngerjain proyek sampe nginep-nginep di lab sambil begadang sampe subuh lalu tidur setelah solat shubuh, sehingga sepertinya jadwal tubuhku berubah. Seperti malam ini. Habis nonton bareng sama si Ayay. Ayay itu panggilan saya buat istri saya, dan itu khusus buat saya saja yang boleh pake. Kalo kamu mau manggil istri saya dengan sebutan selain nama, silakan pake nama Kibu. Iya, kami nonton film serial Arrow. Jangan tanya dari mana saya dapat, karena saya ga ngebajak. Cuma dikasih teman saja, itupun dia yang nawarin buat dikopiin ke harddisk saya.

Saya nonton ampe episode ke-3. Saat itu beres, si Kibu sudah ketiduran. Di episode ketiga itu saya dapet istilah curare. Saya serta merta mengingat-ingat kembali darimana saya dapet istilah itu sebelumnya. Ternyata saya ingat. Istilah itu juga digunakan di dalam film serial Sherlock BBC. Kalo episode keberapanya saya lupa dan males nginget-ngingetnya. Curare itu nama salahsatu jenis racun. Karena penasaran jadi saya googling deh. Nemu beberapa referensi dari blog-blog berbahasa Indonesia. Lumayan ada gambaran, tapi sepertinya ga selengkap dari apa yang saya temukan di Wikipedia. Yang bahasa Indonesianya ga ada. Pengen kontribusi, tapi lagi malas dan malas pake mantera "Allohumma, Paksakeun". Tautannya disini http://en.wikipedia.org/wiki/Curare. Kamu juga pasti bisa nemu kalo mau googling. Tapi kan ada malesnya kalo engga bener-bener niat pengen tau. Jadi saya jelasin sekilas disini, sebagai ganjaran dari kamu yang sudah bersusah payah buka blog saya. Penjelasan berikut saya rangkum dari tautan yang diatas itu.

Curare, adalah istilah umum yang digunakan untuk berbagai ekstrak tanaman alkaloid yang biasa digunakan sebagai racun panah, yang berasal dari Amerika tengah dan Selatan. Racun ini melemahkan otot-otot rangka dan pada dosis tertentu menyebabkan kematian oleh sesak napas karena kelumpuhan diafragma. Racun ini digunakan oleh orang-orang pribumi Amerika Selatan untuk berburu dan berperang.

Waduh panjang dan belibet gening penjelasannya. Yaudah kalo ada waktu dan niat, nanti saya sambung lagi. Udah malem, mesti tidur biar besok ga ngantuk di motor hehe..
Nonton Tafakur

Nyata atau Mimpi? (Nonton Inception)

Silakan Ngomen
sumber: http://www.dudeiwantthat.com/gear/gadgets/Inception-Totem-1382.jpg
Inception yang saya maksud adalah salahsatu film yang dibintangi Leonardo de Caprio (maap kalo salah nulis namanya ya, Le), yang bercerita tentang bagaimana manusia dapat menanamkan ide ke bawah sadar seseorang dengan memasuki mimpinya, kira2 seperti itu. Diceritakan bahwa manusia dapat bermimpi, bermimpi di dalam mimpi, begitu seterusnya. Ada relativitas waktu antar setiap lapisan mimpi. Satu jam di alam mimpi sama dengan lima menit di dunia nyata. Kalo tertidur di dalam mimpi tersebut misalkan selama satu jam, kemudian bermimpi lagi, maka mimpi di lapisan kedua akan berjalan selama 12 jam, dan begitu seterusnya untuk lapisan mimpi yang lebih dalam.

Si Leonardo ini ternyata sudah pernah bermimpi di lapis keempat. Artinya, dia bermimpi, kemudian di mimpinya itu dia bermimpi lagi, lalu di dalam mimpinya dia bermimpi lagi, dan di dalam mimpinya dia bermimpi lagi. Gitulah, ga perlu diitung berapa lama waktu yang dia habiskan untuk hidup di mimpi terdalamnya. Kalo mau lebih detail silakan nonton ehehe.. Disini saya bakal bahas ending filmnya, karena emang itu hal terkait yang ingin saya bahas di tulisan ini. Kalo belum nonton dan ga mau tau spoilernya, silakan nonton dulu baru lanjut lagi bacanya.

Akhir ceritanya ternyata si Leonardo masih di alam mimpi. Hal itu ditunjukkan oleh gasing yang dia putarkan di atas meja, yang kemudian dia tinggalkan karena melihat kedua anaknya menampakkan wajah mereka, sehingga si Leonardo merasa sudah yakin bahwa itu bukan lagi mimpi. Dia pergi menghampiri anak-anaknya dan meninggalkan gasing itu yang ternyata terus berputar. Kan asumsi yang dikemukakan di awal cerita itu, kalo gasingnya terus berputar selamanya berarti dia masih ada di alam mimpi. Udah ue habis filmnya. Kesimpulan akhir ceritanya diserahkan kepada penonton. Dalam beberapa kasus film, terkadang ini mengesalkan, karena secara umum orang pengen ending yang bahagia tiap kali nonton film. Tapi ending film Inception ini benar2 menggelitik saya buat berkhayal lagi sesudahnya.

Ending yang menurut saya mungkin, itu paling tidak ada dua. Pertama dia kembali pada gasingnya dan menyadari kalo ternyata dia masih berada di alam mimpi. Dari situ anggap saja dia akan bereaksi untuk mati di mimpi itu supaya bisa bangun atau menerima mimpi itu sebagai realita yang akan dia jalani. Kemungkinan kedua, dia tidak pernah menemukan gasing itu lagi, apakah karena ketemu duluan ama bapaknya atau anaknya, atau jatuh, atau skenario lain yang intinya dia menganggap dia sudah di alam nyata (yang padahal masih di alam mimpi) dan menjalani kehidupannya sampai dia mati.

Andai dia menjalani sisa hidupnya di mimpi tersebut dan kemudian mati, maka dia akan terbangun dari mimpi tersebut, dan kembali ke kehidupan nyata atau mimpi yang lebih atas yang kita tidak pernah tau, karena emang di awal posisi levelnya adalah selevel dengan dia di akhir cerita, yang ternyata mimpi. Jadi kita ga bisa mengasumsikan dia sedang berada di level mimpi keberapa karena emang ga ada petunjuk. Mungkin dia ada di level teratas mimpi yang setelahnya adalah kehidupan nyata, atau mungkin ada di level mimpi ke-(n-k) yang di atasnya masih level mimpi ke-(n-k+1) dengan n=0 yang artinya kehidupan nyata dan k=level mimpi yang kita ga dikasih tau oleh si sutradara.

Tapi, sedalam apapun level mimpi si Leonardo, artinya dia bermimpi lalu menjalani hidup sampai mati, lalu terbangun ke mimpi di level di atasnya, lalu dia menjalani hidup sampai mati, lalu terbangun ke mimpi yang di atasnya, dan begitu seterusnya sampai level teratas dengan nilai iterasi yang kita ga pernah tau, PASTI mesti ada mati yang terbangun ke kehidupan nyata. Begitu kan? Nah pertanyaannya sekarang adalah, setelah dia terbangun ke kehidupan nyata, lalu menjalani hidup sampai mati, kira2 terbangunnya ke alam mana ya? Andaikata alam nyata yang kita maksud tadi ternyata adalah mimpi (sama seperti asumsi si Leonardo yang menganggap dirinya sudah terbangun ke alam nyata yang ternyata mimpi), pertanyaan selanjutnya adalah mana yang merupakan alam nyata yang sebenarnya?? Toweew.. mind blowing..

Saya ulangin lagi pertanyaannya. Jadi sebenarnya alam nyata yang sebenarnya itu yang mana? Oke, anggap saja pembahasan tentang Inception tadi berakhir. Tapi toh, kita juga bermimpi kan ketika tidur. Kita seringkali menganggap mimpi kita itulah kenyataan. Kita baru menyadari bahwa kita itu bermimpi setelah kita terbangun. Setelah terbangun, kita baru nyadar kalo mimpi kita itu aneh, tidak realistis, yang padahal kita terima segala hukum fisika dan lain-lain yang ada di alam mimpi ketika kita bermimpi. Singkatnya, kita menghayati kehidupan di dalam mimpi itu sebagai realita pada saat kita bermimpi.

Sekarang Kamu lagi baca tulisan ini. Kamu merasa kamu sedang berada di alam nyata. Kamu meyakini semua hukum fisika dan lain-lainnya, dan menjalani kehidupan kamu sekarang. Bukankah itu hal yang sama yang kamu alami seperti saat kamu bermimpi? Kamu mungkin akan menjawab, bahwa alam nyata dan mimpi itu bisa dibedakan. Kita akan berdalih, ketika mimpi, ada bagian2 cerita yang ga realistis, bagian2 yang terpotong, yang ga bisa diingat, yang terlalu singkat, dan sebagainya. Saya katakan bahwa dalih tersebut muncul saat kamu berada di dunia nyata yang kamu maksud. Kamu menilai tentang mimpimu dari alam nyata. Kalo kamu menilai mimpimu dari alam mimpi, mungkin ceritanya akan beda, kamu akan menilai mimpi itu sebagai sebuah realita, alam nyata.

Tapi adakalanya ketika bermimpi, kita sadar bahwa kita sedang bermimpi. Kesadaran tersebut muncul karena ada perbandingan dengan alam nyata. Kita sadar kita bermimpi karena pada saat itu kita sudah tau seperti apa sebenarnya alam nyata itu. Nah, sampai titik ini, bisa ga kita katakan 'adakalanya' tersebut di alam nyata yang kita? Bisa ga kita sadari bahwa alam nyata yang kita maksud sekarang ini ternyata adalah mimpi? Atau dengan kata lain, andaikata alam nyata ini ternyata mimpi, bisakah kita menyadari bahwa kita sedang bermimpi? Saya katakan BISA, ketika kita sudah terbangun dari mimpi dan merasakan alam nyata yang sesungguhnya sebagai pembanding. Kapan kita bangun? Ya nanti kalo udah menjalani hidup dan mati.

Sebelum saya tutup, saya pengen mengutarakan testimoni saya tentang mimpi. Ketika saya mimpi, saya merasa mimpi saya itu pendek. Tau-tau sudah shubuh lagi. Hal ini nampak berkebalikan dengan konsep yang dijelaskan di film Inception. Tapi sebenarnya sama. Kalo dibandingin rentang waktu, pada saat mimpi, kita ngerasa lama di dalam mimpi. Tapi kita merasa mimpi itu pendek karena kita membandingkan mimpi kita dengan kehidupan nyata. Misalkan di mimpi kita bertualang, mungkin seharian atau berhari-hari. padahal kita tidur cuma 2-3 jam. Tapi kalo tidur malam, begitu bangun dari mimpi, kita ngerasa mimpi kita itu pendek. Mungkin lebih tepatnya kita merasa "perasaan baru tadi aja saya tidur jam sembilan malem, eh udah azan shubuh lagi". Padahal kita udah tidur 8 jam dan sudah berpetualang di alam mimpi, cuma kita ga inget aja alur dan terutama durasi mimpi kita.

Oke, saya akan menutup pembahasan ini dengan satu ayat alQuran yang senada dengan pembahasan saya. Jangan anggap tulisan di atas sebagai tafsir karena saya bukan ahli tafsir. Anggap saja hasil asosiasi dari berbagai pengetahuan dan asumsi yang ada di dalam pikiran saya. Ini ayat terakhir dari surat anNazi'at.

Pada hari mereka melihat hari berbangkit itu, mereka merasa seakan-akan tidak tinggal (di dunia) melainkan (sebentar saja) di waktu sore atau pagi hari.


Daily Family Nonton Pendidikan

The Comment, Acara Cerdik Penuh Intrik

Silakan Ngomen
sumber foto: http://ingazeblog.blogspot.com

Waktu dulu pertama muncul salah satu stasuin tv baru dan nyiarin ini acara saya sudah pantengin. Alasannya sederhana, karena diajakin istri aja buat nonton. Saya tertarik nyoba karena sejauh ini pada saat itu acara-acara yang ditampilkan oleh stasiun tv yang namanya mirip salah satu desktop framework Windows itu lumayan pada menghibur. Pas pertama nonton, wow! Ini saya baru nemu acara tv kayak begini. Belum pernah ada sebelumnya, acara komedi yang isinya ngomentarin video-video diiringi plesetan-plesetan garing yang pede banget. Ya saya bilang pede banget karena mereka cuek gitu ga (punya) malu bikin joke yang lokal dan mungkin hanya bisa dimengerti oleh orang Endonesa.

But, anyway until this time, ini acara malah terus saya tonton, bahkan ampe nonton acara sebelumnya (acara ini ditayangkan pukul 8 malam) buat nungguin acara ini. Wildan anak saya yang baru 2 tahun ampe ngikut-ngikut gerakannya sssshikatmiringg, gerakan weird yang dulu sempet dikampanyein di awal-awal kemunculannya. Entah kenapa, mungkin karena saya sejak dulu dikenal sebagai orang yang serius, bahkan kalo nonton acara komedi pun saya tidak banyak ikut tertawa. Dan mungkin The Comment inilah, acara komedi yang punya cara yang khas buat bisa ngajak saya tertawa.

Tapi sebenernya ada beberapa pelajaran, mungkin bisa saya bilang teknik marketing sosial yang bisa saya tangkap dari acara ini. Saya jelasin satu per satu.

Anti-encourage

Haha.. istilah sotoy itu saya buat sendiri. Maksudnya gini. Kita pastinya pernah ikut suatu seminar, atau nonton acara tv, dimana para host atau MC membuka acara dengan dengan semangat dan meng-encourage acara dan pematerinya. Ini berfungsi untuk menumbuhkan kepercayaan di pikiran audiens bahwa acara yang mereka ikuti itu penting dan bermanfaat buat mereka, bahwa pemateri yang akan berbicara adalah pakar yang punya ilmu yang bermanfaat untuk didengarkan. Hal ini dilakukan dengan harapan audiens dapat mengikuti acara dengan serius dan mendengarkan materi dengan seksama.

Tapi, kalo kamu suka nonton juga ini acara, kamu pasti ingat hampir di setiap episode, si Danang dan Darto (pembawa acara) selalu membuka acara dengan kalimat-kalimat yang terkesan merendahkan acaranya sendiri. Mereka suka bilang, kira-kira begini, "Pemirsa! Ketemu lagi dengan kami para host yang belum terkenal, kami sangat tidak menyarankan Anda untuk menonton acara ini, karena acara ini tidak bisa bikin Anda jadi pinter, jadi ganteng, kami seperti orang-orang biasanya yang cuma bisa komentar. Inilah dia, Theeeee Commeeeent..!"

Apa reaksi penonton? Mungkin ada, sedikit atau banyaknya yang tidak melanjutkan nonton acara ing ni, saya tidak tahu pasti. Tapi, saya pribadi dan istri saya, dan juga Wil yang masih kecil, tidak mengindahkan kata-kata pembuka si host untuk tidak melanjutkan menonton. Hal tersebut buat saya lebih seperti gurauan basa-basi (saya ga tau apa ada nama untuk teknik ini) yang justru terdengar menarik karena tidak biasa. Mungkin juga kata-kata tersebut buat beberapa orang jadi magnet yang memunculkan kepenasaranan buat terus ditonton. Buat saya ini adalah teknik yang keren!

Komentar Menarik

Inilah sepertinya alasan kenapa acaranya dinamakan The Comment. Kita sudah banyak menemukan acara-acara tv yang menyajikan kompilasi video yang dapet ngunduh dari yutub, Video tersebut dikelompokkan berdasarkan kesamaan adegan atau tema, lalu dikasih judul yang menarik. Terakhir dikasih komentar atau deskripsi. Awalnya ada satu stasiun tv yang bikin acara tersebut, kemudian stasiun tv lain berbondong-bondong pada bikin hal serupa. bahkan sampe ada yang logo acaranya pun mirip yutub. Saya melihat disini ada strategi untuk membuat acara yang menarik dengan meminimalisir cost structure. Kalo ga salah pake video yutub ga dikenai biaya kan?

Nah, di The Comment ini menyajikan penyegaran dari acara serupa. Tidak berhenti dengan hiburan dari video-video yang kocak dan bikin ketawa, si host acara ini juga memberikan komentar-komentar yang santai dan seger, bahkan 'terkadang' lucu. Emang sih seringnya jayus, but it doesn't matter. Mereka juga membawakannya dengan cuek, dan kondisi santai itu pun ditularkan ke para penonton dan pemirsa tv. Malem-malem pulang dari kerjaan atau kuliah, dihidangkan acara lucu dan santai. Yaa, mungkin dalihnya sama dengan ibu-ibu jaman dulu dan sekarang yang selesai beres-beres rumah atau pulang kerja, capek, butuh hiburan, maka disetellah sinetron. Mungkin bukan sebagai pelepas ketegangan, tapi karena emang adanya acara macem itu. Nah, sekalipun baik nonton sinetron dan The Comment sama-sama ngabisin waktu dengan acara yang geje, paling tidak The Comment menyajikan sesuatu yang lebih cerdas, paling tidak buat saya dan angkatan saya (soalnya para ortu pada kagak ngarti nonton beginian.. -_- ).

Kalo Engga Tamu yang Bening, Penonton yang Bening

Ini nih yang saya paling ngeh dari acara The Comment. Nyadar ga kalo acara ini selalu menampilkan atau mengundang tamu dari kalangan artis cewe yang (menurut kesepakatan umum mata lelaki) pada bening? Ini sudah jadi teknik usang yang masih selalu ampuh untuk diterapkan di bagian manapun dari sebuah acara. Kayaknya acara seminar kurang pas kalo ga di-MC-in ama cewe cantik, kayaknya kurang pol kalo jualan hape sampe mobil ga dipasangi cewe aduhay. Kayaknya kurang greget kalo acara tv ga diiringi sama cewe bening. Sifat dasar manusia, wanita senengnya diliat, laki-laki senengnya ngeliat (kata guru sosiologi SMA saya). Sama seperti masakan, novel atau film juga punya bumbu pelengkap, komedi dan seks (itu kata guru bahasa endonesa SMP saya). Nnaah di The Comment, semuanya lengkap! Alhasil wajar dong kalo cewe-cewe itu jadi daya tarik para lelaki buat nonton, selain daya tarik acaranya yang emang bagus (ga tau nih yang mana yang jadi daya tarik utamanya).

Kesini-kesini, tamunya mulai beragam. Ada tamu laki-laki, bapak-bapak, komedian dll. Saya melihat ini sebagai penyeimbang. Maaf, ini cuma prasangka saya aja, bukan berdasarkan riset atau survey. Pada kenyataannya, tamu undangannya udah jarang cewe, tapi penontonnya itu Brooo. Yang bening-bening dan bermakeup disimpen di kursi depan. Tiap beberapa menit disyut itu penonton, tidak jarang disyut per wajah. Bukankah ini strategi yang cerdik? :D

Saya tidak memprovokasi ini baik atau buruk. Itu semua kembali pada pola pikir pemirsa semuah. Tapi yang pasti saya mengagumi pengemasan acara dan strategi pemasarannya yang kreatif, tidak biasa, dinamis, dan out of the box. Cewe-cewenya? Okelah, anggap aja itu bumbu. Semoga tidak menimbulkan dampak yang tidak baik.

Penetrasi Tren

Sekali lagi saya sotoy bikin istilah. Tapi maksud saya, The Comment ibarat laboratorium massa untuk mencoba mengukur sejauh mana penerimaan masyarakat terhadap sesuatu hal yang baru, aneh dan tidak biasa. Contohnya, ketika awal-awal episodeThe Comment ngasih gerakan 'Shikat Miring'. Sesuatu yang baru ini menjadi demam yang menjangkiti beberapa golongan tertentu. Ketika acara ini membuat sayembara video shikatmiring, tidak sedikit pemirsa yang ngunggah video mereka. Dan banyak lagi hal-hal nyeleneh di luar keumuman. Saya melihat ini sebagai gejala kelelahan orang dari rutinitas dan kemapanan adat. Orang-orang butuh sesuatu yang baru yang mampu mengeksplorasi rasa malu mereka. Dan melalui media massa, mereka sukses membuat orang bersepakat untuk melakukan sesuatu yang memang melepaskan dahaga mereka akan sesuatu yang baru dan di luar kebiasaan. Dan saya pun mulai berbicara lebay dan sok mengintelek. @-@

***

Ya, paling tidak itulah yang saya rasakan dan amati. Sejauh ini The Comment nampaknya jadi acara hiburan terfavorit keluarga saya buat bersenda gurau dan menghabiskan waktu malam bersama, di samping acara keilmuan di salahsatu stasiun tv lain yang sukses mengenyangkan kelaparan saya akan wawasan baru. Kami, khususnya saya, punya sesuatu untuk dilakukan dalam rangka melepaskan kepenatan setelah bekerja, melupakan kegalauan dan memperkental keceriaan di dalam keluarga.

Sorri kalo judulnya rada provokatif. Kan istilah kerennya 'dina raraga'. Hehe..

Thanks buat The Comment, thanks juga buat hostnya juga cerdas dan pandai membawa alur komentarnya. Btw, waktu ada acara The Comment di Ciwalk dulu, saya sempet pingin hadir disana. Saya pingin ngedandanin Wil dengan baju rompi/jas yang sudah dibeli sebelumnya, dan minta mas Danang-Darto buat berfoto sama Wil. Asik asikan aja. Sayangnya ga kesampaian. Gpp. :)
Daily Nonton

Due Date Film Lucu yang Mengerikan

2 comments
sumber: http://tickertalksfilm.blogspot.com/2011/05/due-date-duly-noted.html

Ini film yang paling aneh yang pernah saya tonton. Eeh, sebenernya kata aneh bukan kata yang tepat untuk mewakili film tersebut, tapi saya ga bisa menemukan kata lain yang paling dekat untuk mendeskripsikan film tersebut. Baik, akan saya jelaskan aneh yang saya maksudkan.

Saat awal saya menontonnya, saya lihat Robert Downey Jr yang menjadi pemeran tokoh utamanya. Oke, dari situ saya mulai membayangkan ceritanya bakal full action seperti film Iron Man, atau ilmiah dan kompleks seperti film Holmes. Beberapa menit berlangsung dan tanda-tanda kecocokan dengan gambaran pikiranku tidak juga muncul. Yang ada adalah, situasinya dia sebagai seorang pegawai yang hendak buru-buru pulang dengan menaiki pesawat karena istrinya hendak melahirkan. Tiba-tiba muncul seorang lelaki yang gambarannya belum pernah saya temui seumur hidup saya, maupun seumur-umur saya nonton film. Singkatnya lelaki itu, namanya Ethan, masuk ke kehidupan si Robert dan memunculkan banyak masalah buat si Robert: gagal berangkat naik pesawat, kehilangan dompet beserta semua kartu identitas, uang dan tabungan, kecelakaan lalu lintas, sampai tertembak di kaki. Pokoknya terrible pisan!

Nah, anehnya yang saya maksudkan itu begini. Dua puluh menit pertama saya udah ga pengen ngelajutin nonton. Ada perasaan aneh di dalam hati. Saya telusuri perasaan ini, seperti saya tidak bisa membayangkan untuk mampu menjalani hidup bersama orang aneh seperti Ethan yang super ceroboh, super aneh, pokoknya aneh! Kalo saya bilang aneh, berarti itu kata sifat untuk mendeskripsikan sesuatu atau seseorang yang diluar kebiasaan umum. Nah, saya bilang karakter Ethan ini super aneh karena ya, rasanya saya ga mau dan ga pernah mau ketemu sama karakter orang seperti itu. Bahkan untuk melanjutkan menonton atau membayangkan seperti apa jalan cerita selanjutnya pun saya tidak berani. Ya, itu, saya tidak mau dan tidak berani membayangkan kelanjutan ceritanya. Apalagi membayangkan kalo saya ketemu sama orang seperti itu. Kalo kamu para pembaca nonton film itu, saya yakin kamu juga tidak akan pernah ingin ketemu orang dengan karakter seperti Ethan. Alhasil, saya berhenti nonton. Ini film kayaknya lebih ngeri dari horor terseram yang pernah saya tonton. Pasalnya, kalo horor, saya masih bisa mengasumsikan bahwa itu fiksi dan bawah sadar saya ga memberi peluang untuk membayangkan itu terjadi dalam kehidupan saya. Tapi film ini bro, menyentuh sisi realita hidup yang bisa terjadi pada siapapun. Ngeri abis! Meskipun banyak lucunya juga sih, seperti adegan minum kopi dari abu bapaknya si Ethan. haha~

Akhirnya tadi malam saya memutuskan untuk melanjutkan menonton. Film produksi Warner Bross itu saya santap sampai habis, kali ini dengan nyali yang lebih gede. Oke, akhirnya happy ending, tapi kalo saya jadi si Robert, kayaknya saya sudah ga pikir panjang buat mutusin silaturahmi sama orang kayak gitu hahahaha~

Kesimpulannya, mungkin perasaan itu muncul karena saya tidak siap bila harus menghadapi situasi yang sama. Selama ini saya bergaul dengan orang yang saya anggap nyaman, dan tidak berekspansi mencari kenalan banyak sehingga yang saya kenal semuanya adalah orang-orang baik dan tidak aneh. Saya belum pernah menemukan karakter orang seperti Ethan dan saya yakin di dunia ini pasti ada dan ada yang lebih aneh lagi.

Pelajaran standar dari film ini kira-kira "jadilah orang yang sabar menghadapi manusia" dan "bersikaplah tawakkal dalam mengarungi hidup". Hikmah utama buat saya setelah nonton film ini justru tentang ketakutan menghadapi kenyataan dan masa depan. Hal inilah yang jadi PR untuk saya pelajari lebih dalam. Dan itu adalah indikasi bahwa saya masih sedemikian seriusnya menghadapi hidup ini. Fiuhh..