Labels

Cari di blog ini

Tampilkan postingan dengan label Kewirausahaan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kewirausahaan. Tampilkan semua postingan
belajar Kewirausahaan Mikir Mindset Pendidikan Refleksi Tafakur

Kepatuhan Hadir Karena Adanya Pemahaman

Silakan Ngomen

Suatu hari saya mengikuti gathering BP di sebuah hotel di Bandung. Pematerinya adalah mas Adrian Maulana dan Mas Ade Rai. Yang akan saya bahas ini adalah diantara hal penting yang membangun mindset baru buat saya.


Sebagai muslim kita mampu taat untuk menjalankan kewajiban agama. Beberapa diantaranya bahkan kita sudah lakukan meskipun kita tidak sadar kalau agama pun memerintahkan hal tersebut.


Contohnya, kita rajin mendirikan sholat wajib 5 waktu. Kenapa kita mau dan rajin melakukannya? Karena kita tau pentingnya menjalankan hal tersebut, karena kita paham akibatnya kalau tidak menjalankan. Kita paham mengapa kita perlu mendirikan sholat, makanya kita berusaha keras untuk konsisten melakukannya. Orang yang masih belum konsisten mendirikan sholat artinya belum paham.


Contoh lain yang lebih sederhana. Kita mungkin pernah begadang saat ada pekerjaan yang menuntut diselesaikan malam itu. Padahal kita ngantuk, tapi kita terus berupaya menyelesaikannya. Kita melakukannya karena kita paham kalau tidak selesai, akan ada akibat yang cukup fatal yang kita dapatkan. 


Tapi ada juga orang yang begadang cuma buat sekedar scroll scroll medsos. Ga ada manfaat yang signifikan yang bisa didapatkan dari bersosmed tengah malam, tapi dia terus saja begitu meskipun terkantuk-kantuk. Dia artinya tidak paham kalau tidur itu lebih penting daripada begadang ga jelas. Andaikata dia paham, tentulah dia akan memaksakan diri tidur apalagi kalau sudah ngantuk ketimbang begadang.


Ada orang giat bekerja ngantor jam 9-5. Serajin itu dia pulang-pergi kerja karena dia paham kalau ga maksimal kerjanya, dia bisa dapat teguran dari bosnya, yang imbasnya ke terancamnya karir dia di kantor tersebut. Andaikata dia tidak paham akan hal itu dan masuk kerja seenaknya, tentulah dia akan cepat dipecat.


Hubungannya dengan kesehatan, Mas Ade Rai melajutkan pembahasan. Kalau kita bisa sedemikan patuh pada ajaran agama, kewajiban bekerja, dan sebagainya, mengapa tidak kita juga patuh untuk rajin berolahraga. Kebanyakan orang malas berolahraga karena dia tidak paham pentingnya olahraga. Dia hanya sekedar tau kalau olahraga itu penting, tapi dia tidak benar-benar paham bagaimana bisa hal itu penting untuk kesehatannya.


Maka di satu jam setengah sesi itu mas Ade Rai fokus membangun pemahaman kepada kami para audiens tentang pentingnya olahraga. Bahkan saya sendiri, dengan pemahaman baru yang beliau tanamkan, membuat saya dengan senang hati dan bersemangat untuk konsisten berolahraga. Dan itu adalah pengalaman yang luar biasa.


Mindset yang penting yang mengatakan bahwa Kepatuhan Hadir Karena Adanya Pemahaman dapat diterapkan di berbagai aspek. Dan itu bisa menjadi patokan hidup kita bahwa, apapun yang ingin kita lakukan dalam hidup secara konsisten dan senang hati, maka kita harus terlebih dahulu menemukan pemahaman akan hal tersebut.

Bisnis Diary Rezeki Kewirausahaan Mikir

Sudut Pandang Baru dari
"Laba = Penjualan - Pembelian"

Silakan Ngomen
Dalam dunia usaha kita sudah terbiasa dengan rumus seperti pada judul di atas. Memang benar dan sederhana, dan dapat dipahami oleh orang bukan pedagang sekalipun. Laba adalah harga jual setelah dikurangi biaya produksi atau modal. Dalam kalimat lain dapat dikatakan, jika penjualan lebih besar dari pembelian, maka ia dikatakan laba atau untung, dan bila penjualan lebih kecil daripada pembelian, maka ia dikatakan rugi.

Sekarang mari kita lihat penerapan lain dari rumus ini, dikaitkan dengan konsep pasar.

Pasar
=
Permintaan / Konsumsi
-
Penawaran / Produksi
+∞
=
-
0
-∞
=
0
-

Pasar dikatakan ada atau tersedia ketika ada kebutuhan yang dipenuhi, ada permintaan yang terpenuhi oleh penawaran. Contoh sederhananya kita lihat secara real di pasar. Orang bertemu di pasar karena ada yang butuh sesuatu dan ada yang menyediakan barang yang dibutuhkan. Dari sini kita bisa lihat bahwa faktor permintaan menjadi pencetus munculnya pasar.

Baris selanjutnya adalah patokan penting yang tidak boleh diabaikan dalam berwirausaha. Ketika ada permintaan, meskipun kita tidak punya produk yang dibutuhkan, ini bisa jadi peluang pasar yang besar, atau saya beri tanda simbol +∞. Tapi bila kita punya faktor produksi, atau punya produk, yang mana tidak ada permintaan untuk produk tersebut, atau tidak ada orang yang butuh dengan produk kita, maka itu akan jadi kerugian yang tidak terbatas pula. Dari sinilah kita mesti berpegang pada kebutuhan pasar sebelum membuat produk.
Bisnis Kewirausahaan

Menentukan Strategi Bisnis Berdasarkan Prioritas Kebutuhan Pasar

Silakan Ngomen
Bisnis berarti menjalankan seperangkat usaha untuk membuat atau mendistribusikan suatu produk atau jasa dalam rangka mengisi kebutuhan sekelompok orang sehingga mendapatkan manfaat profit dari usaha tersebut. Itu artinya untuk melakukan bisnis, terlebih dulu kita harus menentukan kebutuhan pasar apa yang ingin kita penuhi. Kebutuhan pasar berdasarkan prioritas pemenuhannya, terbagi menjadi tiga kelompok utama: kebutuhan primer, kebutuhan sekunder dan kebutuhan tersier/luxury.

Ketika manusia memenuhi kebutuhan hidupnya, maka tiga level kebutuhan tersebut berlaku. Orang akan terlebih dahulu memenuhi kebutuhan primer untuk bertahan hidup, baru kemudian kebutuhan sekunder dan kemudian kebutuhan tersier. Kebutuhan primer mencakup segala hal yang mempengaruhi kelangsungan hidup seperti makanan, pakaian, tempat tinggal, kesehatan, dan pendidikan. Kebutuhan sekunder adalah kebutuhan pelengkap menunjang efektifitas dalam hidup tapi tidak berpengaruh secara langsung terhadap kelangsungan hidup dan dipenuhi setelah kebutuhan primer terpenuhi, seperti transportasi, informasi dan hiburan. Kebutuhan tersier adalah kebutuhan yang akan dipenuhi setelah kebutuhan sekunder terpenuhi, mencakup segala hal yang lux/mewah.

Sedangkan berdasarkan Abraham Maslow, hierarki kebutuhan digambarkan seperti diagram berikut:



Baik konsep kirarki kebutuhan dasar maupun yang dikemukakan oleh Maslow, keduanya menggambarkan fakta bahwa semakin tinggi kebutuhan, maka semakin sedikit jumlah pasar. Atau dengan kata lain kebutuhan yang lebih bawah memiliki jumlah pasar yang lebih besar dari level kebutuhan yang di atasnya. Fakta inilah yang ingin saya tunjukkan sebagai salah satu patokan utama dalam merancang strategi usaha.

Maaf, bersambung..


Bisnis Kewirausahaan Nyankod

Analisis SWOT - Contoh Analisis

Silakan Ngomen
Salahsatu referensi yang bagus menjelaskan tentang analisis SWOT bisa dilihat di artikel berikut http://www.academia.edu/5090849/Pengertian_analisis_SWOT. Pada tulisan kali ini saya akan langsung membahas contoh implementasi analisis SWOT untuk Nyankod. Tulisan ini sebenernya off the record. Tapi karena keperluan kuliah saya di mata kuliah kewirausahaan, jadi saya akan posting dalam rentang waktu yang terbatas.

Dalam artikel pada link di atas dijelaskan, nenurut Fredy Rangkuti, salahsatu pakar SWOT Indonesia, "analisa SWOT adalah identifikasi berbagai faktor secara sistematis untuk merumuskan strategi perusahaan. Analisa ini didasarkan pada hubungan atau interaksi antara unsur-unsur internal, yaitu kekuatan dan kelemahan, terhadap unsur-unsur eksternal yaitu peluang dan ancaman”. Dari sini ada dua langkah dalam analisis SWOT, yaitu 1) mengidentifikasi strength, weakness, opportunity dan threat dari perusahaan, dan 2) menganalisis keterkaitan antara faktor-faktor internal dan eksternal untuk menghasilkan strategi bisnis.

Identifikasi SWOT Nyankod

Bisnis Kewirausahaan

Analisis SWOT - Pentingnya Mengenali Diri dan Lingkungan

Silakan Ngomen
Analisis SWOT adalah analisis kondisi internal maupun eksternal suatu organisasi yang selanjutnya akan digunakan sebagai dasar untuk merancang strategi dan program kerja. Analisis internal meliputi peniaian terhadap faktor kekuatan (Strength) dan kelemahan (Weakness). Sementara, analisis eksternal mencakup faktor peluang (Opportunity) dan tantangan (Threat). (disadur dari http://daps.bps.go.id/file_artikel/66/Analisis%20SWOT.pdf)

Intermezzo

Saya pencinta batagor. Hampir tiap jalan-jalan kemana gitu, saya cari tukang batagor dekat situ dan mencicipinya. Suatu hari, saya lagi jalan-jalan ke BEC Bandung. Saya lalu lapar dan pengen beli batagor. Sayangnya batagor langganan saya di sekitar situ udah tutup karena di tempat mangkalnya mulai dibangun gedung baru. Akhirnya saya cari tukang batagor lain, kebetulan di seberangnya juga ada satu tukang batagor lagi yang kualitas dan harganya ga jauh beda. Entah karena saat itu lagi hujan atau faktor apa yang saya lupa, saya akhirnya nyampe di tukang batagor yang agak bergeser lokasinya, bukan yang saya maksud barusan. Okelah saya beli disitu, mungkin emang rejeki si mang batagor yang ini. Saya beli satu porsi batagor kuah. Dan, cukup mengecewakan. Karena menurut saya penyajian batagor yang ini ga memenuhi standar, paling tidak standar dagang antar batagor di sekitar situ. Bayangin aja, batagornya dingin, kuahnya juga hangat, ga panas. Terus gitu, keruh lagi kuahnya, cuma kayak air pake bumbu penyedap. Ga pake bawang, ga pake seledri. Minta sambel juga habis katanya. Polos pokoknya, cuma air dan batagor. Dalam hati sempat menggerutu juga, tapi kalo begitu terus, artinya saya ga bersyukur dong, batagor pun ga bisa dinikmati. Okelah saya habisin tanpa banyak mikir. Abis itu, saya bayar, dan harganya 8 ribu. Gerutuan saya naik lagi ke permukaan. Saya bilang,  "delapan ribu? biasanya juga enam ribuan mang..". Si mang batagor jawabnya karena harga tahu lagi naek. Okelah, mau gimana lagi, batagor udah masuk perut. Salahnya saya mestinya nanya dulu harganya di awal. Itu kebiasaan buruk yang mesti dirubah.

Besoknya kebetulan saya ke BEC lagi. Kali itu saya beli batagor yang satu lagi yang saya maksud di awal. Nah yang itu sesuai standar. Maksud saya, pas lah komposisinya. Batagornya panas, kuahnya juga panas, ada bawang goreng dan seledri. Sambelnya pedes dan unlimited lagi, Seger kan? Dan tebak berapa harganya? Yap, masih 6 ribu. Dalam hati kasian juga ama penjual batagor yang kemarinnya saya beli. Apa dia bisa berkompetisi dengan kondisi dia yang sekarang. Mudah-mudahan dia cepat belajar.

SWOT

Kembali ke pembahasan awal. Intermezzo di atas nanti akan saya singgung di bawah.

Ada 4 variabel analisis, diantaranya adalah strength, weakness, opportunity dan threat. Strength dan weakness atau kalo diartikan menjadi kekuatan dan kelemahan, adalah faktor internal sebuah bisnis. Sedangkan opportunity dan threat yang artinya peluang dan ancaman/tantangan, adalah faktor eksternal dari sebuah bisnis. Keempat faktor ini mesti dicari dan diuraikan, karena 4 faktor inilah yang mempengaruhi secara langsung terhadap kesuksesan sebuah usaha, apapun usahanya.

Setelah kita mampu mendefinisikan keempat faktor tersebut dalam usaha kita, maka boleh dibilang kita sudah tau dimana dan bagaimana kedudukan kita sekarang. Setelah kita mengenali kondisi usaha kita barulah kita dapat merancang strategi untuk mencapai tujuan dari usaha kita. Kalo kita ga tau apa kekuatan kita, kelemahan kita, peluang apa yang ingin kita manfaatkan, dan tantangan apa yang mesti kita lalui, lalu tiba-tiba kita buka usaha, besar kemungkinan usaha kita akan gagal. Kenapa? Karena membuka usaha berarti membuat produk atau jasa dalam kondisi ketidakpastian yang ekstrem. Kalo kita ujug-ujug membuat produk, bagaimana kita yakin produk kita dapat diterima oleh pasar? Kalo bisa diterima, apakah produk kita benar-benar bermanfaat buat pelanggan? Lebih jauh lagi, adakah produk lain yang sejenis yang kualitas dan harganya lebih bisa diterima daripada produk kita? Apakah kita bisa bikin produk tersebut dengan kualitas yang lebih bagus? Banyak pertanyaan-pertanyaan semacam itu yang harus kita jawab terlebih dahulu sebelum memulai usaha. Pertanyaan-pertanyaan semacam itu ga akan kejawab kalo kita ga tau bagaimana posisi kita saat ini, bagaimana kondisi kita dan apa sebenarnya yang akan kita tuju dengan bisnis kita.

By the way, saya termasuk orang yang setuju dengan pernyataan "udah ga usah banyak mikir, buka aja sono usahanya, kalo udah dibuka, baru dipikirin lagi". Buka aja usaha, jangan dipikirin mulu tapi ga pernah direalisasikan. Tapi inget, tetep harus dipikirin, apalagi kalo udah dibuka usahanya. Kalo engga, nanti kasusnya sama kayak cerita penjual batagor di atas. Dia ga tau seperti apa kebutuhan pelanggan yang sebenarnya, dia juga ga tau kondisi pesaing. Saya yakin mestinya dia bisa menyesuaikan diri dengan lingkungan kompetisi. Dia gagal (pada saat itu) karena dia tidak tau apa kekuatan dan kelemahan dirinya untuk dapat bersaing. Dia bahkan ga tau bagaimana kondisi persaingan batagor di sekitar situ. Hanya buka, dan tunggu pelanggan. Kalo ga segera belajar dan berfikir lagi, saya yakin akan semakin banyak potensi pelanggan baru yang kecewa dan ga akan datang lagi kesitu.

Bersambung ke bagian dua Analisis SWOT - Contoh Analisis :)