Labels

Cari di blog ini

Cerpen Mikir Refleksi

Kenapa Aku Ada?

Silakan Ngomen
"Kenapa aku ada, kalo begitu? kalo ternyata keberadaanku hanya jadi pengacau bagi sekitarku?" Topan merenung, di atas sebuah motor biru tua yang tengah melaju kencang menyalip motor dan mobil di depannya.

"woi woi, sabar Brooo, gua ngeri nih dibonceng lu kayak gitu!" teriak suara Toha di belakang telinga si sopir motor itu. Topan memperlambat laju motornya, seiring melambatnya degup jantungnya. "lagi lagi kamu, menginterupsi setiap pertanyaanku!" Topan berbisik agak ketus.

"Bukankah aku ada untuk membantumu menemukan setiap jawaban atas pertanyaanmu, bukankah kita sepakat tentang itu, Top?" Toha tersenyum tenang, tatapan matanya sayu, seperti mencerminkan kelelahan dan rasa kasihan. "Kamu tahu, pertanyaanmu barusan adalah salahsatu dari pertanyaan eksistensial yang akan selalu dilontarkan setiap manusia yang sadar akan keberadaannya di dunia, yang tidak setiap manusia punya kesempatan untuk bertanya tentang hal itu"

"Kau tak perlu menyanjung, aku memang manusia. Aku berpikir, maka aku ada, begitu kan kata Descartes?"

"Begitulah kamu, sombong seperti biasanya hahaha.." celoteh Toha.

"Iya, aku memang sombong" tukas Topan. Wajahnya antara marah dan sedih, marah pada dirinya sendiri, sekaligus sedih karena tidak banyak yang bisa dia lakukan, atau lebih tepatnya yang dia ketahui tentang bagaimana merubah dirinya menjadi lebih baik.

"Lalu, sudahkah kau dapatkan jawabannya, kenapa kamu ada?" tanya Toha, alisnya naik.

"aku ga tau, kenapa aku ada. kenapa Allah menciptakan aku"

"lho, bukankah jawaban atas pertanyaan itu sudah ada?"

"bukan yang itu maksudku. Aku tahu dan aku berusaha yakin, atas jawaban yang sudah disediakan dengan begitu murahnya. kalo aku bertanya, kenapa Allah menciptakanku, jawabannya pasti karena supaya aku beribadah kepadaNya. Kalo aku bertanya lagi kenapa aku harus beribadah, jawabannya karena Allah telah menciptakanku. Hal itu akan selalu berputar di tempat."

"Lalu, masalahnya apa?" tanya Toha lagi, memancing.

"iya, lalu kenapa?" Topan mengangkat kedua bahu dan sebelah tangannya di samping.

"kenapa apa? pertanyaannya yang jelas dong hihi.." Toha ketawa kecil.

"iyaa.., kenapa, mesti seperti itu? Oke, biarkan aku mengeluarkan dulu semua yang ada di dalam pikiranku. Dan kalo kamu ga bisa membantuku mencari titik terangnya, kupikir kamu ga perlu lagi ada di sampingku."

"Baik, silakan"

"Oke. Aku ada. Disini, tapi entah dimana ini sebenarnya. Aku hidup bersama orang-orang disekitarku, tapi aku tidak pernah tahu siapa mereka sebenarnya. tempat-tempat itu, dan orang-orang itu, semuanya hanyalah identifikasi belaka yang dibuat oleh manusia untuk memudahkan mereka menyebut dan menemukan kembali. Bahkan tentang diriku sendiri. Siapa aku sebenarnya. Oke, itu pertanyaan yang lain. Yang pasti aku yakini, aku ada karena ada Tuhan yang menciptakanku. Aku menyebutnya Allah, sebagaimana Ia memperkenalkan diriNya di dalam kitabNya. Aku diciptakan oleh Allah, maka aku ada. Pemikiran ini tidak akan pernah ada andaikata aku tiada. Tapi, kalaupun aku tiada, orang yang kupanggil ibu sekarang tetap akan melahirkan anak dan menjadi keberadaan baru. Kalaupun aku tiada, istri dan anakku sekarang tetap hidup seperti halnya, dengan orang lain selain aku. Kalaupun aku tidak dilahirkan disini, dalam kondisi ini, mungkin aku akan tetap dilahirkan di tempat yang lain, sebagai orang lain, dengan kondisi yang lain. Mungkin aku yang sekarang adalah penolakan dari keberadaanku di tempat yang lain seperti pikiranku sekarang yang mempertanyakan keberadaanku hari ini. Dan itu sekaligus tidak mungkin karena pemikiran ini ada karena aku ada."

"Maka, .." Toha melontarkan kata setelah ia kira Topan selesai dengan renungannya.

"Maka apa, Toh?"

"Kau sudah tahu, dengan begitu kesimpulannya, keberadaanmu itu diluar batas kekuasaanmu, diluar sesuatu yang bisa kau pengaruhi"

"itu benar" Sejenak sepi, sepi dari obrolan. Yang terdengar hanya deru motor dan kendaraan lainnya di jalan itu. Setidaknya untuk Toha. Topan mungkin tengah asyik dengan keramaian di dalam pikirannya.

"Naah, berarti kembali lagi kan ke pertanyaanku tadi di awal? kenapa Allah menciptakanku? Kenapa Allah tidak menciptakan orang yang lain saja dan membiarkanku dalam ketiadaan??" Topan seperti menemukan jejak kakinya di padang pasir yang hilang tersapu angin.

"Pertanyaanmu seolah meniadakan penciptaan manusia" Toha, kali ini dengan nada agak berat.

"Maksudnya?" Topan bertanya dengan hati-hati.

"Ketika kamu bilang, kenapa Allah tidak menciptakan orang lain saja dan bukan kamu, kamu membayangkan dirimu dan manusia sebagai sesuatu yang memiliki kepala, dua tangan, dua kaki, memiliki tubuh seperti kamu sekarang"

"Lalu, aku masih belum menangkap apa maksudmu.."

"Pemikiranmu menolak untuk diciptakan itu muncul setelah kamu diciptakan. So, sekalipun Allah dahulu tidak menciptakan kamu dan menciptakan orang yang lain, apakah kamu bisa menjamin orang-orang itu bukanlah dirimu yang sekarang? Tidak ada yang tahu kecuali Allah. Intinya, Allah menciptakan siapapun, pasti tidak berharap pertanyaan itu muncul. Dan kamu tau apa artinya itu?" Tanya Toha.

"Itukah jawaban atas pertanyaanku?"

"Yap, bisa jadi. Kalo kamu bertanya kenapa Allah menciptakanmu, tujuan sebenarnya ada di dalam tujuan Allah menciptakanmu"

"Ibadah?"

"Yap, betul. Allah menciptakan Manusia dan Jin supaya mereka beribadah kepadaNya. Jawaban sebenarnya ada di dalam tujuan penciptaaan itu, ibadah. Wajar kalo kamu mempertanyakan hal itu. Sama seperti orang yang bertanya bagaimana rasanya eskrim paria, bisa dipastikan bahwa orang itu belum pernah mencobanya." Toha menjelaskan dengan apik.

"Dengan kata lain, beribadah itu tujuan dari penciptaan, tapi bukan alasan penciptaan. Beribadah itu jalan untuk menemukan alasan penciptaan itu. Begitukah?" Topan begitu gembiranya seperti menemukan sesuatu yang belum pernah ia dapatkan.

"Hahaha.. Boleh jadi. Kamu sendiri percaya kan kalo Allah tidak menciptakan sesuatu dengan sia-sia. Ada maksud di balik ini semua. Ada maksud di setiap masalah-masalah yang kamu temui. Aku kira, sepertinya kamu sudah membuka beberapa pintu rahasia. Pintu pertama adalah pertanyaan eksistensial. Bila seseorang sudah mulai mempertanyakan hal tersebut, maka itu artinya dia sudah membuka pintu pertama dan akan menemukan pintu kedua. Boleh jadi pintu kedua itu bukan pintu yang menutupi jawaban dari kehidupan ini. Boleh jadi ada pintu lagi di dalamnya dan ada pintu lagi didalamnya." Toha tersenyum. "Jadi kesimpulannya apa?"

"Aku berarti, harus mencari tahu ada apa di balik ibadah itu. Memang benar, selama ini aku akui, ibadahku belum benar. Tentu saja. Kalo sudah benar, mungkin aku sudah temukan jawabannya. Begitukah?"

"Ya, gitulah kira-kira. Barangsiapa yang mengajarkan dan tentu saja mengamalkan apa yang sudah ia ketahui, maka Allah akan mengajarkan padanya apa-apa yang tidak ia ketahui" Toha tersenyum lebar.

Topan merenung sejenak. Kembali sepi, selain hiruk pikuk jalan yang saat itu mulai macet. Namun kali ini kemacetan tidak membuat Topan gusar. Ada hal lain yang lebih menarik untuk dipikirkan dibanding mengeluhkan kemacetan.

Topan lalu bertanya lagi "Tapi, memangnya sesulit apakah mempertanyakan eksistensi? Terus kenapa harus mempertanyakan eksistensi?"

"Ada beberapa jalan seseorang menemukan kesadaran untuk mempertanyakan eksistensinya. Kamu, dengan kondisimu yang sedemikian sengsaranya, akan mempertanyakan kenapa ada begitu banyak masalah di dalam hidup, hingga akhirnya muncul pertanyaan kenapa aku hidup dan kenapa aku dilahirkan."

"Aku tidak sesengsara itu juga kali" Topan memicingkan mata.

"Hahaha.. tapi beruntunglah kamu memikirkannya ketika masih hidup. Masih ingatkah ayat yang menggambarkan penderitaan orang yang disiksa di akhirat sampai mereka berharap tidak pernah dilahirkan. Dengan demikian pertanyaan eksistensial yang muncul ketika seseorang masih hidup itu menjadi sesuatu yang penting." kata Toha sambil mengangkat telunjuknya.

"Baiklah. Kupikir, aku tidak perlu memikirkan apapun selain beribadah. Begitu kan?"

"Yups. Tetap ingat, ibadah untuk setiap tarikan nafasmu, bukan hanya untuk sekian menit sholatmu saja"

"In Syaa` Allah"

Topan melajukan motornya lebih cepat lagi. Kini dengan lebih mantap. Sekuat tenaga ia kesampingkan kesedihan dan sakit hati yang terus menggoda untuk singgah di hatinya. Tak ada seorang pun yang tahu bagaimana akhir hidupnya. Tak ada seorang pun yang dapat memastikan bagaimana nasibnya di akhirat kelak. Masalah datang dan pergi, seperti udara yang masuk dan keluar dari pernapasan.
Daily Reuni

SamBut at Walimah Chimotz

2 comments
Barudak SamBut di walimahan Cici, 17 November 2013, lokasi Rindu Alam Taman, Cipanas.
Tebak, saya yang mana? -_-

Daily Family

Renang Pertama Wil

Silakan Ngomen
Ini renang pertama kali waktu baru bisa duduk, sekitar umur sepuluh bulan,
di kolam renang kecil daerah padalarang

Ini renang kedua di Tirta Mulya, kolam aagak gede,
waktu wil udah bisa jalan, sekitar umur setahun setengah

Daily Family

Bobo Sama Kucing

Silakan Ngomen

Wildan pas lagi berkunjung ke rumah uyutnya di kulon. Tidur siang. Ditemani kucing rumah yang jadi kuncen kasur itu.
Designs HTML Templates Portfolio

HTML Template - March

Silakan Ngomen
Ini desain pertama yang saya buat secara lengkap mulai dari halaman-halamannya sampai panduan penggunaan dan modifikasi. Panduannya saya buat dalam bahasa Inggris, biar sekalian belajar.

Template March ini adalah one page HTML template atau template HTML yang setiap tautan halamannya ada di halaman yang sama. Desain ini sudah responsive untuk berbagai ukuran layar dan sudah saya sempurnakan setiap ukurannya agar tampilannya tetap stabil. Template ini dibuat menggunakan Bootstrap versi 2.3 dan memiliki beberapa skema warna yang sudah siap digunakan. Kalo kamu sudah tidak asing dengan Twitter Bootstrap kamu bisa memanggil fitur bootstrap yang lainnya.

Template March cocok digunakan pada situs company profile atau situs portfolio personal. Di dalamnya sudah ada template halaman untuk menampilkan galeri karya atau hasil pekerjaan yang pernah dibuat. Saya juga sudah membuat beberapa shortcodes untuk keperluan beberapa bagian yang kustom dan sudah menyesuaikan stylenya dengan aturan bootstrap.

Bagi yang berminat silakan diunduh disini. free alias gratis :)
Cerpen Jadul Jaman SMA

We are SAMBA - Prolog

Silakan Ngomen
Edited by Adlism
Aku: "Apa itu kenangan, buat kalian?"
Ina : "ya ga mungkin lah disebutin satu satu"
Aku: "Bukan apa saja kenangan kalian, tapi buat kalian, kenangan itu apa sih?"
Opik: "Kenangan itu, masa lalu.." #sepi
May: "Kenangan itu, ibarat bunga"
Ina: "Kenangan itu, pelajaran, blabla ##dst gw lupa penjelasannya"
Irfan: "buat aku, ketika aku mendengar kata kenangan, yang muncul cuma satu kata, Ina"
O(≧∇≦)O

***

Aku masih ingat kakakku, sebenernya anak uwaku, dulu bilang waktu aku baru lulus SMP dan masih hanyut dalam kenangan dinamika SMP, "nanti juga kenangan SMP kamu akan kalah dengan kenangan SMAmu yang lebih indah, seperti halnya kenangan SDmu yang dulu kalah sama kenangan SMPmu sekarang". Benarlah demikian. Kini aku hampir tak bisa mengingat ramenya masa-masa SMP. Aku hanya ingat masa-masa SMA, setidaknya itulah kenangan yang paling rame dibanding kenangan di jenjang sebelumnya. Tapi anehnya kenangan di kampus tetap tidak mengalahkan kenangan SMA. Polanya tidak seperti yang sebelumnya.

Bagaimana tidak? Aku SMA di salahsatu pesantren di kota Tasikmalaya. Aku memaksa ibuku untuk mengizinkanku merantau kesana, mungkin karena dulu keinginanku untuk masuk Tsanawiyah selepas lulus SD tidak diamini. Di pesantren aku yakin dinamika sosialnya lebih kuat. Bayangkan setiap hari ketemu orang-orang yang itu-itu aja, satu asrama, satu kamar, satu kelas. Hampir tidak ada tirai yang bisa menutupi karakter setiap orang. Semua orang bisa melihat karakter asli temannya yang dalam waktu lama hidup bersama pastilah tidak akan dapat ditutupi. Kata orang, kalo pengen liat karakter asli seseorang, ajaklah ia berkemah atau camping di suatu tempat selama beberapa hari, hingga terasa sulitnya mencari makan dan beratnya perjalanan. Disitulah kita bisa melihat watak asli seseorang, dikala egonya sudah didesak oleh keperluan perut dan kelelahan tubuh. Di pesantren, kami tak perlu melakukan simulasi itu. Kami setiap hari ketemu, dari bangun tidur sampai disuruh tidur.

Ketika aku cerita tentang masa SMA pada seseorang, dia tidak akan merasakan kenangannya seperti yang aku rasakan, sekalipun dia mendengarkan dengan antusias, kecuali dia terlibat di dalam cerita itu. Setiap orang punya kenangannya sendiri, kenangan SMAnya masing-masing.

Orang yang tidak mampu bertahan menghadapi karakter teman hidup dan lingkungannya akan menyingkir dengan sendirinya. Maka yang tersisa adalah orang-orang yang bersatu padu, menerima apa adanya karakter temannya, dan saling mengingatkan dalam kebenaran dan kesabaran. Sampai akhirnya tiba, ketika detik itu adalah detik terakhir mereka berkumpul di satu atap, ketika itu adalah sholat terakhir mereka berjamaah, ketika itu potret terakhir yang diambil di depan latar kamar mereka, aku yakin, itulah ikatan terkuat yag pernah tersambung, ikatan yang hingga setiap kali kami bertemu di luar pesantren, rasanya jauh lebih kuat untuk erat memeluk dan lekat memandang. Karena kami sudah tidak lagi seatap hari ini, tidak lagi makan sebaskom bareng-bareng, tidak lagi berebut kamar mandi dan wc, tidak lagi ngabring ketika berangkat ke kelas. Tapi, dinamika sebenarnya baru saja dimulai. Dinamika kehidupan yang menjadi ujung tombak keselamatan mereka di kehidupan selanjutnya.

Nyatanya, pesantren yang dengan segala kekurangan, cela, dan ketidaksempurnaan, hanyalah simulasi dari lingkungan sebenarnya yang jauh lebih keras, jauh lebih rusak, dan jauh lebih menantang.

Kehidupan baru saja dimulai.
Cerpen

Hinakan Aku dengan Baktiku

Silakan Ngomen
Apakah selalu hal ini yang menjadi alasan pertama seorang pria memantapkan hati untuk mengetuk pintu hati seorang wanita? Aku tahu aku tidak secantik banyak wanita, atau teman-temanku, yang kini sudah boleh berjalan bergandengan. Aku tahu bahkan sebagian dari mereka juga punya rupa yang rata-rata pria menyatakan ketidaktertarikan di dalam hatinya, kini sudah mampu merenggangkan jemarinya untuk digenggam.

Aku yakin, sang pangeran sudah siap untuk datang padaku, atau pria biasa tak apa, di ujung sana entah dimana, yang dia bahkan masih mencariku atau orang lain yang dia adalah aku. Aku yakin hari itu akan datang. Hari ketika aku merengkuh tangannya dengan gemetar dan menciumnya dengan penuh penghormatan.

Namun hilir mudik waktu di depan mataku membuatku semakin gundah akan yakinku. Aku tahu aku harus membantu sang pria yang entah siapa itu, sampai padaku, menemukanku. Tapi apakah aku harus melambaikan tanganku ke atas sepanjang waktu, atau membuka tanganku dan menunggu di pinggir jalan, berharap sang pria yang aku tak tahu ia yang mana, lewat, dan menyambut tanganku? Apakah aku sehina itu untuk mengemis kasih kepada sesuatu yang bahkan aku tak tahu apakah ia nahkoda yang baik untuk kapalku?

Namun sayang hilir mudik waktu di depan hidungku, mengikis yakinku akan hadirnya hari itu, hari ketika Tuhanku akhirnya mengungkap rahasia yang selama ini membuat cemas akan masa depanku. Kupakai pakaian terbaik yang bisa kuperoleh dengan baik, pakaian rapi untuk pria yang rapi. Berharap dengan ini Tuhanku berkenan menghentikan langkah pencarian sang pria itu di tempatku berdiri. Berharap Tuhanku menutup matanya untuk dapat menilaiku dari cantikku, dan membuka hatinya untuk menyambut penghormatanku. Penghormatan ini, adalah jerih payah terbaik yang mampu kupersembahkan untuk orang terbaik, sang pria yang aku tak tahu ia yang mana, yang menilai wanita dari kerapihan budi. Tak perlu ia menilaiku dari parasku, karena aku tahu Tuhanku tidak hendak menghinakanku dengan karya terbaiknya, sekalipun itu kini jadi alasan pertama pria untuk tidak bahkan sekedar melirikku apalagi meyodorkan sebongkah hatinya untukku.

Aku tetap dengan penghormatanku. Sekalipun hingga ujung jalan ini sang pria bahkan tidak pernah ada untukku. Bukan hanya karena aku sepi, tapi juga karena wanita terbaik yang melahirkanku punya harapan yang lebih tinggi daripada aku. Aku tetap demi Tuhanku. Meski dunia berubah dan materi adalah alasan semua orang untuk melanjutkan hidup.

Aku hanya ingin membahagiakan ibu, dengan kebahagiaanku. Maka hadirkanlah ia, wahai Tuhanku, atau hinakanlah aku dengan baktiku ini.