Labels

Cari di blog ini

geje Mikir Refleksi

Sambil Menyelam Minum Air, karena Hauskah?

Silakan Ngomen
Kita pernah denger peribahasa yang berbunyi "Sambil menyelam minum air". Saya kadang masih ga habis pikir, kenapa peribahasanya mesti begitu, untuk menjelaskan multiple task. Makna peribahasa itu adalah "mengerjakan suatu pekerjaan, dapat pula menyelesaikan pekerjaan atau masalah yang lain (wikiquote)" Kalo kita cermati hubungannya kira-kira seperti ini. Saya menyelam. Sambil menyelam saya juga minum air. Jadi ada dua aktivitas di satu waktu.

Yang saya permasalahkan adalah, kalo menyelam memang kita punya tujuan tertentu misalnya menangkap ikan, mencari kerang atau mutiara, sekedar diving atau snorkling. Ada tujuan dari menyelam itu. Maka menyelamlah sebagai sesuatu aktivitas dalam mencapai suatu tujuan. Sekarang, minum air. Saya minum air ketika haus. Maka, ada dua kemungkinan gambaran, menyelam sambil minum air yang diselami itu, atau menyelam sambil bawa air yang bisa diminum lalu meminumnya sambil menyelam.

Gambaran pertama adalah gambaran yang mungkn paling sering muncul ketika mendegar atau membaca peribahasa ini. Sambil menyelam minum air, air yang diselami. Masalahnya, apakah air yang diselami itu air bersih dan bisa diminum? Kecuali menyelam di laut dan karena air laut tidak bisa diminum sedangkan pada saat menyelam sudah keburu haus, maka minumlah ia air yang bisa diminum yang dibekel. Dan itu berarti gambaran kedua, sambil menyelam minum air yang dibekel.

Saya masih mempertanyakan, minum yang seperti apa yang sepenting harus dilakukan ketika menyelam? Saya nemu tulisan yang lumayan relevan adn menambah pembahasan dari tema ini. Tulisannya ini http://hakadosh.wordpress.com/2011/03/30/maksud-tersembunyi-dikala-sambil-menyelam-minum-air/. Dia menerangkan maksud peribahasa itu dengan cerita Adonia saudara tua Salomo yang meminang Abisag janda dari Raja Daud. Salomo menangkap ada maksud tersembunyi Adonia meminang Abisag sehingga ia mengatakan kepada ibunya,

"Tetapi raja Salomo menjawab ibunya: “Mengapa engkau meminta hanya Abisag, gadis Sunem itu, untuk Adonia? Minta jugalah untuknya kedudukan raja! Bukankah dia saudaraku yang lebih tua, dan di pihaknya ada imam Abyatar dan Yoab, anak Zeruya?”
(1 Raja-Raja 2:22)


Dari kisah tersebut kita menangkap maksud dari minum air itu adalah minum air yang diselami. Adonia menyelam dengan meminang Abisag, sambil menyelam dia juga minum air, yang berarti dengan meminang Abisag, berarti dia menikahi janda Raja yang otomatis menjadi pengganti raja itu. Dalam kondisi ini, meminum air yang diselami menjadi sesuatu aktivitas yang dianggap penting. Meminum air disini tergantung dari apa maksud dari aktivitas menyelamnya. Maka cerita di atas otomatis menjadi validator atas apa yang saya pertanyakan tadi.

Kesimpulan saya untuk pembahasan ini adalah, peribahasa ini cocok diterapkan dalam satu kasus dimana seseorang menyelam, yang dengan maksud menyelam itu dia menganngap minum air yang diselami itu adalah suatu aktivitas yang penting. Demikian.
Bisnis Daily Refleksi

Saya Ingin, tapi Saya Malas, Gimana Dong

Silakan Ngomen

Sudah berapa banyak keinginan kamu yang belum tercapai? Atau saya ganti pertanyaannya, sudah berapa banyak keinginan yang sudah kamu tuliskan, dan sudah tercapai? Kenapa belum tercapai? Belum ada dana, modal, waktu? Belum ada niat? Atau masih males dan mending nunggu keinginan itu datang dengan sendirinya?? :P

* * *

Sudah jadi kebiasaan dan kesepakatan saya dan istri, kalo ada kedai ramen baru di Bandung dan sekitarnya, pasti bakal kami sambangi buat kami coba. Ketertarikan kami pada ramen membuat kami ingin membuat kedai ramen sendiri. Sayangnya sampai saat ini keinginan tersebut belum juga terlaksana, padahal dari sekian kedai ramen yang pernah kami kunjungi ada satu kedai yang menawarkan ke saya buat buka cabang. Sayangnya, dan saya benci mengakuinya, belum juga terealisasi karena alasan modal. Bukan modal uang yang jadi faktor utama, tapi modal waktu. Saya masih ragu kalo harus buka toko atau kedai ramen sedang saya masih kuliah. Ada banyak kekhawatiran yang ga perlu, takut kuliah terbengkalai (padahal ga bisnis pun kuliah tetap berantakan), takut sepi (padahal dagang aja belum), dan lain sebagainya. Alhasil keinginan tinggal keinginan.

Ada banyak keinginan yang tidak kesampaian. Dulu, saya suka bikin poster-poster target pencapaian. Tapi dari sekian banyak poster yang saya bikin, mungkin cuma 5% saja yang berhasil dicapai. Masih untung sih, tapi mestinya bisa lebih banyak lagi.

Dari sini saya berkesimpulan, bahwa keinginan saja tidak cukup untuk mencapai sesuatu. Oke, saya tau ini nasihat usang. Saya sudah sering mendengarnya di banyak media seperti buku dan seminar. Tapi, ternyata tidak cukup nasihat untuk menggerakkan seseorang untuk mencapai sesuatu. Disinilah pentingnya sebuah kesadaran atau yang suka saya bilang dengan istilah ngeh. Ke-ngeh-an ini biasanya saya dapat ketika saya sudah mengalami atau menemukan sendiri sesuatu yang dulu masih katanya, kata orang tua, kata guru, kata dosen, kata ustadz, kata motivator. Kembali ke pembahasan tentang keinginan, hal ini saya alami sendiri. Keinginan hanyalah keinginan kalo kita tidak bergerak atau tergerak untuk beraksi.

Jadi, kalo judulnya "Tidak Cukup Ingin", maka sesuatu yang kurang untuk melengkapi keinginan itu adalah tindakan. Saya yakin, semua orang yang memiliki keinginan atau target, punya harapan supaya keinginannya terealisasi. Saya juga yakin, kalo semua orang termasuk saya, sudah pada-pada tau kalo keinginan tidak akan pernah terwujud kalo tidak disertai tindakan, betul? Yang menjadi masalah sebenarnya bukan keinginan yang tidak terealisasi karena tidak ada aksi. Masalahnya adalah banyak orang tidak tau bagaimana merealisasikan tindakan.

Kalo saya punya keinginan mendirikan kedai ramen, maka saya harus tau apa saja peralatan yang diperlukan untuk sebuah kedai ramen, bagaimana resepnya, bagaimana cara memasaknya, dan terutama bagaimana caranya supaya gambaran kedai ramen di pikiran saya bisa berwujud nyata di depan mata saya. Kalo saya punya keinginan untuk berlibur atau sekolah ke Jepang, maka saya harus tau dulu seperti apa Jepang, bagaimana cara berangkat ke Jepang, berapa ongkosnya, berapa biaya hidupnya, darimana saya bisa dapat informasi wisata dan kuliah di Jepang. Kalo kita tidak tau apa saja yang diperlukan untuk mencapai sesuatu, kita tidak akan pernah bertindak karena tidak tau harus mulai dari mana. Maka langkah pertama untuk merealisasikan tindakan adalah mencari tau ilmu tentang hal tersebut dan bagaimana cara membangunnya. Dengan bekal ilmu tersebut maka kita bisa melangkah ke step selanjutnya, yakni memetakan langkah.

sumber: http://pixabay.com/en/if-the-sempio-noodle-feast-203499/

Misalkan sekarang saya sudah tau bagaimana cara merealisasikan sebuah kedai ramen. Saya sudah tau resepnya, sudah tau bahan-bahannya, peralatannya apa saja. Saya sudah punya target tempat yang bagus, saya sudah hitung keperluan untuk membangun kedainya (karena membangun usaha pasti butuh modal). Maka saatnya memetakan langkah. Untuk mendapatkan semua bahan dan peralatan maka saya harus punya modal untuk membelinya. Kalo tidak punya modal saya bisa cari teman yang bisa diajak kerjasama dan satu visi untuk membangun kedai ramen. Dicoba dulu resepnya, kalo sudah mantap berarti tinggal membangun kedai, kalo resep ramennya masih belum bisa mantap mungkin saya harus cari resep yang sudah teruji rasanya, apakah mengajak kerjasama teman dari jurusan tata boga atau ajak kerjasama orang yang sudah punya resep ramen dan sudah jualan dan rasanya enak. Kemudian bangun kedainya. Cari beberapa tempat yang cocok dan sesuai dengan target pasar ramen. Kesampingkan dulu harga sewa. Pilih salahsatu yang paling bagus. Hitung ulang anggaran. Kalo tidak bisa dapet investor buat sewa tempat dan membangun kedai, maka langkah alternatifnya adalah udunan bersama teman-teman dan cari lokasi yang ekonomis. Bangun kedainya. Pasang peralatan dan bahan untuk hari pertama, persiapan selesai. Kedai ramen sudah bisa dibuka.

Ketika saya memetakan langkah di atas, otak kritik saya terus saja menghalau, bagaimana kalo gini, bagaimana kalo gitu. Tulisan di atas saya buat agak simpel biar tidak ngayayay. Tapi intinya seperti itu. Maka kita lihat di tulisan itu saya buat beberapa kemungkinan dari yang paling ideal sampai yang realistis menurut otak kritik saya. Tidak apa-apa, jangan dilawan, tulis saja bagaimana dia mau. Tulis terus semua kemungkinan sampai kita menulis langkah terakhir menuju keinginan, sampai tulisan itu berhenti di kalimat apa yang kita inginkan. Maka, langkah kedua merealisasikan tindakan sudah terlaksana, memetakan langkah.

Catatan: sebenarnya ketika kita sudah melakukan dua aksi diatas, itu sudah berwujud tindakan. Tapi saya tidak memasukkan dua hal ini ke dalam tindakan mencapai keinginan, melainkan pra-tindakan karena dari dua aksi ini (cari informasi dan memetakan langkah) kita belum mencapai apapun dari keinginan, dan ada kemungkinan untuk keinginan itu tidak terealisasi dan tidak pernah terealisasi.

Langkah pertama mencari informasi sebenarnya lebih sulit daripada memetakan langkah. Tapi ada yang jauh lebih sulit dari dua tadi, yakni bagaimana supaya tubuh kita tergerak untuk menjalankan langkah yang sudah dibuat. Untuk itu diperlukan kesadaran atau ke-ngeh-an untuk memulai. Maka langkah ketiga adalah mencari kesadaran atau kengehan. Ini menjadi yang terpenting. Inilah kompor utama yang membuat kita mau bertindak.

Saya ga habis pikir, saya sudah tau banyak informasi tentang kedai ramen, saya sudah memetakan langkah, tinggal dijalankan saja tho?? Tinggal dijalankan saja itu langkah-langkahnya sesuai prosedur yang sudah dibuat, terlepas ada kendala lapangan atau tidak itu kan urusan belakangan, yang penting sudah mewujudkan tindakan! Ah, itu sih sayanya aja yang kelewat males atau kurang motivasi untuk merealisasikannya. Nnaaaah, ini dia masalahnya, yang membuat keinginan tidak pernah tercapai, atau yang membuat kita tidak pernah merealisasikan tindakan.

Ada satu faktor yang membuat kita bersemangat atau enggan melakukan sesuatu. Kuncinya ada disini. Kesadaran, consciousness. Bisa berbentuk kenikmatan, semangat, kegigihan, oportunis, perfeksionis, cinta, keterancaman, dan hal-hal lain yang bisa menggerakkan.

Ketika seseorang dikejar anjing, atau bahkan harimau di hutan, orang itu sontak akan berlari sekencangnya. Dia telah beraksi, bentuk aksinya berlari menghindari kejaran. Ada hal yang membuatnya ingin berlari dan akhirnya berlari sekencangnya. Saya bisa bilang hal penyebab tersebut adalah keterancaman. Dia membayangkan bagaimana kalo dia nanti ketangkep itu anjing atau harimau, betapa ngerinya. Kesadaran tersebut membuat (1) dia ingin berlari dan (2) akhirnya berlari. Kita lihat kesadaran ini mempengaruhi keduanya, keinginan dan tindakan. Can you realize that? :)

Contoh barusan kita lihat salahsatu langkah untuk membangun kesadaran, dimana kesadaran untuk bertindak bisa ditumbuhkan justru dari motif awal kenapa kita ingin sesuatu. Untuk memanfaatkan teori ini kita bisa menerapkan teknik heaven approach dan hell approach, pendekatan surga dan pendekatan neraka hahaha.. Maksudnya, kita mencari dan mendaftar apa saja keuntungan yang bisa kita dapatkan kalo kia mencapai suatu keinginan dan apa kerugian yang diakibatkan kalo kita tidak merealisasikan keinginan tersebut. Hell approach katanya punya efek lebih besar dari heaven approach, tapi menurut saya dua-duanya harus ada. Heaven approach punya daya ketika kita lagi malas atau lesu saat berproses, heaven approach juga punya daya penyemangat dan membentuk visi/gambaran masa depan.

Kasus lain. Pernah ga kamu melakukan sesuatu yang awalnya keterpaksaan tapi lantas mejadi kebiasaan atau kamu mendapatkan keuntungan dari kegiatan yang dipaksakan tersebut? Pasti pernah, meskipun lupa apa aja hehe.. Nah, dengan keterpaksaan akhirnya kita bertindak, meskipun awalnya kita tidak ingin melakukan hal tersebut. Disini kita bisa lihat, tindakan terealisasi meskipun tidak memiliki keinginan. Nah, karena target kita adalah merealisasikan tindakan, maka cara ini juga bisa diterapkan.

Lalu bagaimana membentuk kesadaran terpaksa? Coba ingat-ingat lagi, kegiatan apa saja yang terpaksa yang pernah kita lakukan dan mengapa kita terpaksa melakukannya? Biasanya karena ada tekanan dari satu pihak, apakah orang tua, guru, tuhan, sekolah, kantor, yang biasanya pihak tersebut punya wewenang atau kekuatan untuk memberikan tekanan. Untuk mensimulasikan keterpaksaan ini, berarti kita harus cari satu pihak yang punya kekuatan untuk menekan. Misalnya, untuk contoh kasus kedai ramen, mungkin saya bisa coba pinjam uang ke orang tua atau sodara atau bank atau orang lain sehingga saya punya keterpaksaan untuk merealisasikan keinginan dan segera melunasi utang. Saya tidak menganjurkan hal ini, tapi biasanya keterpaksaan punya kekuatan yang besar untuk kita merealisasikan tindakan.

Contoh lain misalkan seperti yang saya dan teman-teman saya lakukan untuk menggiatkan blogging. Saya dan teman-teman saya di lab kampus punya keinginan blogging tiap hari. kami bersepakat untuk berkeinginan menulis blog tiap hari. Tapi kenyataannya keinginan seperti ini sudah lama dipunya dan selalu gagal terealisasi. Alhasil, kami menerapkan teknik kesadaran berupa keterpaksaan  untuk mendorong kami menulis. Kami bersepakat untuk blogging tiap hari, dan konsekuensi bagi yang tidak blogging hari itu harus mentraktir makan teman-teman lain. Dari sini muncullah keterpaksaan. Kami berpikir, mending nulis daripada nraktir. Maka muncullah hell approach. Bedanya, disini kita membentuk sendiri keterpaksaan itu. Alhasil hingga hari ini saya masih tetep menulis, dan mulai menikmati menulis. Yeeaaah.. Thanks Guys! Thanks God! ;D

Ada banyak hal yang bisa kita eksplorasi untuk membangun kesadaran dalam rangka merealisasika tindakan. Dari penjelasan ini kita bisa lihat orang yang rajin sekalipun tetep membutuhkan kesadaran akan sesuatu untuk tetap konsisten. Kesadaran orang yang rajin belajar bisa berupa kenikmatan belajar atau apapun. Coba tanya deh ke orang yang rajin kenapa dia rajin. Kalo saya orangnya malas, makanya saya cocok jadi programmer hehehe.. #what_the..

Intinya, saya pingin bilang, untuk mencapai keinginan itu diperlukan tindakan, dan untuk dapat bertindak kita mesti punya kesadaran atau motivasi yang dengan itu kita bisa bertindak. Tidak ada tindakan yang tidak bisa dilakukan, selama kita tau bagaimana kita melakukannya.
Bisnis Development Portfolio PyroCMS Repositori

Modul Simple Store untuk PyroCMS

Silakan Ngomen
Modul ini sudah saya buat sejak tahun 2012 untuk sebuah proyek toko online sederhana. Saya namai Simple Store karena memang sederhana fiturnya, bila dibandingkan dengan eCommerce lain yang sudah ada seperti Magento, Opencart, plugin WooCommerce untuk Wordpress dan modul FireSale untuk PyroCMS. Beberapa fitur yang sudah dimiliki oleh modul ini diantaranya:
  • Daftar produk
  • Multiple foto produk
  • Kustom atribut produk
  • Perhitungan harga promo
  • Daftar pemesanan
  • Add to cart
  • Notifikasi pemesanan
  • Invoice pembayaran via transfer bank
Udah segitu aja. Modul ini memang saya pertahankan sesederhana mungkin untuk keperluan toko online sederhana yang hanya memerlukan listing produk, pemesanan produk dan proses pembayaran via transfer bank. Kalo kamu perlu modul online store PyroCMS yang lebih lengkap dengan fitur payment gateway lain seperti PayPal, Kartu kredit dsb, bisa coba modul FireSale (https://github.com/firesale/firesale).

Siapapun boleh menggunakan dan mengembangka modul ini secara gratis di bawah lisensi MIT. Repositorinya saya simpan disini https://github.com/yllumi/PyroCMS-Simple-Store. Bagi kamu yang berminat buat bikin toko online sederhana, bisa japri saya saja langsung hehe.. #promosi.


Cerpen geje Tole

Postingan Pertama Tole

Silakan Ngomen
Namaku Tole. Aku ga ngerti kenapa dikasih nama itu. Orang tuaku sekalipun belum pernah cerita kenapa aku dikasih nama Tole. Sebenernya aku tinggal nanya, tapi aku orangnya suka tantangan. Jadi aku akan cari sendiri. Karena 'akan', jadi kamu tahulah kalo aku belum tahu alasannya.

Aku seorang programmer di salahsatu universitas ternama di Indonesia. Ternama maksudnya terkenal. Hehehe.. boong deng. Aku masih kelas 2 SMA. SMA disini bukan Sekolah Menengah Atas, tapi Santri Madrasah Aliyah. Iya gitu, kadang suka rada gengsi kalo kenalan sama orang-orang yang sekolahnya pake celana abu-abu. Jadi biar keliatan keren, kalo kenalan sama mereka, aku ngakunya sekolah di SMA 1 AL-Amin (nama sekolah disamarkan wkwk biar ga disangka aku yang nulis ini). Mudah-mudahan mereka ga tau kalo aku berbohong. Tapi aku curiga mereka tau, soalnya tiap kali kenalan begitu, mereka suka nanya "SMA ko celananya kayak celana PNS?" Aku jawab aja sekenanya, "iya SMA aku memang lulusannya langsung jadi PNS". Ah, aku berbohong lagi. Mudah-mudahan mereka percaya.

Kayaknya bakal tiap hari nulis di blog inih, berhubung baru kemaren aku dan temen-temen sekelas dan juga seangkatan semuanya dilantik jadi pengurus OSIS madrasah. Tapi disini namanya bukan OSIS, tapi RG. RG singkatan dari Rijalul Ghad, bahasa arab yang artinya lelaki esok hari. Keren ya namanya. Saya diangkat jadi sekretaris. Ini saya sudah pegang kunci kantor RG. Karena di madrasah sudah ada koneksi jadi saya bisa manfaatin dengan sebaik-baiknya. Mudah-mudahan bisa kuat iman. You know what I mean :P

Oke, anggap aja ini postingan pembuka. Mudah-mudahan bisa lanjut. Bismillah.

*lokasi: kantor RG MA Al-Amin, jam 9an, setelah selesai belajar malam lalu membuat organigram RG.
Bisnis Jadul

Dagangan Pertama

Silakan Ngomen



Ini dagangan pertama saya waktu awal-awal kuliah.
Cerpen Jadul Jaman SMA

Mau Apa Kamu??

2 comments
Suasana mulai tegang, seperti biasa, kalo guru itu datang masuk buat ngajar di kelas saya. Tapi tegangnya cuma di awal, kesananya pasti lemes, lemes karena kami sekelas ga henti-hentinya ketawa gara-gara joke si pak guru. Ketawa kami ikhlas ko, kami ketawa dari perut kami yang paling dalam, bukan karena takut atau segan, tapi karena memang joke beliau mengalir begitu saja, tidak tampak dibuat-buat. Dan yang lebih aneh lagi, beliau sitdown comedy (karena pak guru itu melucu sambil duduk) tanpa beliaunya sendiri tertawa, tidak seperti beberapa komedian di tv yang memaksakan tertawa untuk merangsang penonton tertawa. Sekali lagi saya bilang, tidak pernah beliau tertawa ketika melucu, kecuali satu kali yang kami ingat, yang itu nanti saya ceritakan di lain waktu.

Tapi ini settingnya di awal mulai pelajaran. Semua siswa, termasuk saya, tidak berani mengobrol atau berbisik sekalipun. Paling tidak, kami tahan suara kami sampai selesai diabsen satu per satu. Mestinya berlalu dengan lancar, ketika tiba-tiba beliau memanggil satu nama diantara kami dengan nada lebih tinggi dan cukup keras untuk membuat dada saya berdegup sampai kerasa ke kepala. Tidak berteriak, tapi suasana sunyi membuat suaranya yang tegas terasa begitu nonjok.

"Nanang! Mau apa kamu?"

Nanang, salahsatu anggota kelas kami melongo kaget. Kami semua serempak melihat ke arah Nanang. Nanang kikuk, mungkin juga takut. Ada apa gerangan. Ia berupaya keras mengeluarkan suara untuk menjawab pertanyaan pak guru.

"Aa.. ada apa, Pak?"

Ia nampak berhati-hati menanya balik, sambil berpikir keras apa kira-kira yang sudah dia lakukan. Dia memang dikenal oleh guru-guru sebagai salahsatu siswa yang aktif, dalam artian suka melanggar beberapa aturan standar asrama dan sekolah, seperti merokok atau kabur dari asrama.

"Iya, kamu mau apa?" pak guru balik nanya lagi. Kali ini sambil sedikit mengangkat dagu.

Kami yang lain juga berpikir keras, apa gerangan yang sudah dilakukan Nanang sebelum ini. Seingatku dia sudah lebih baik dari hari-hari sebelumnya: udah jarang keliatan merokok, dan jarang keluar asrama. Aah, suasana ini adalah suasana yang tidak nyaman, terutama buat belajar.

Pak guru lalu nanya lagi, "Kamu mau lana bukan?"
"Ii..iya Pak."
"Iya, saya kan nanya, kamu mau apa? Maulana kan?"
"Ii..iya Pak."

Sontak kelas meledak oleh tawa. Nanang cuma mengusap-usap dadanya sambil melemaskan badan yang sedari tadi menegang. Cukup lama kami berisik dengan tawa, sampai kami sadar kalo pak guru ternyata masih di kursinya.

Oke, masih huruf N, mari tertib lagi. ~
Daily Family Nonton Pendidikan

The Comment, Acara Cerdik Penuh Intrik

Silakan Ngomen
sumber foto: http://ingazeblog.blogspot.com

Waktu dulu pertama muncul salah satu stasuin tv baru dan nyiarin ini acara saya sudah pantengin. Alasannya sederhana, karena diajakin istri aja buat nonton. Saya tertarik nyoba karena sejauh ini pada saat itu acara-acara yang ditampilkan oleh stasiun tv yang namanya mirip salah satu desktop framework Windows itu lumayan pada menghibur. Pas pertama nonton, wow! Ini saya baru nemu acara tv kayak begini. Belum pernah ada sebelumnya, acara komedi yang isinya ngomentarin video-video diiringi plesetan-plesetan garing yang pede banget. Ya saya bilang pede banget karena mereka cuek gitu ga (punya) malu bikin joke yang lokal dan mungkin hanya bisa dimengerti oleh orang Endonesa.

But, anyway until this time, ini acara malah terus saya tonton, bahkan ampe nonton acara sebelumnya (acara ini ditayangkan pukul 8 malam) buat nungguin acara ini. Wildan anak saya yang baru 2 tahun ampe ngikut-ngikut gerakannya sssshikatmiringg, gerakan weird yang dulu sempet dikampanyein di awal-awal kemunculannya. Entah kenapa, mungkin karena saya sejak dulu dikenal sebagai orang yang serius, bahkan kalo nonton acara komedi pun saya tidak banyak ikut tertawa. Dan mungkin The Comment inilah, acara komedi yang punya cara yang khas buat bisa ngajak saya tertawa.

Tapi sebenernya ada beberapa pelajaran, mungkin bisa saya bilang teknik marketing sosial yang bisa saya tangkap dari acara ini. Saya jelasin satu per satu.

Anti-encourage

Haha.. istilah sotoy itu saya buat sendiri. Maksudnya gini. Kita pastinya pernah ikut suatu seminar, atau nonton acara tv, dimana para host atau MC membuka acara dengan dengan semangat dan meng-encourage acara dan pematerinya. Ini berfungsi untuk menumbuhkan kepercayaan di pikiran audiens bahwa acara yang mereka ikuti itu penting dan bermanfaat buat mereka, bahwa pemateri yang akan berbicara adalah pakar yang punya ilmu yang bermanfaat untuk didengarkan. Hal ini dilakukan dengan harapan audiens dapat mengikuti acara dengan serius dan mendengarkan materi dengan seksama.

Tapi, kalo kamu suka nonton juga ini acara, kamu pasti ingat hampir di setiap episode, si Danang dan Darto (pembawa acara) selalu membuka acara dengan kalimat-kalimat yang terkesan merendahkan acaranya sendiri. Mereka suka bilang, kira-kira begini, "Pemirsa! Ketemu lagi dengan kami para host yang belum terkenal, kami sangat tidak menyarankan Anda untuk menonton acara ini, karena acara ini tidak bisa bikin Anda jadi pinter, jadi ganteng, kami seperti orang-orang biasanya yang cuma bisa komentar. Inilah dia, Theeeee Commeeeent..!"

Apa reaksi penonton? Mungkin ada, sedikit atau banyaknya yang tidak melanjutkan nonton acara ing ni, saya tidak tahu pasti. Tapi, saya pribadi dan istri saya, dan juga Wil yang masih kecil, tidak mengindahkan kata-kata pembuka si host untuk tidak melanjutkan menonton. Hal tersebut buat saya lebih seperti gurauan basa-basi (saya ga tau apa ada nama untuk teknik ini) yang justru terdengar menarik karena tidak biasa. Mungkin juga kata-kata tersebut buat beberapa orang jadi magnet yang memunculkan kepenasaranan buat terus ditonton. Buat saya ini adalah teknik yang keren!

Komentar Menarik

Inilah sepertinya alasan kenapa acaranya dinamakan The Comment. Kita sudah banyak menemukan acara-acara tv yang menyajikan kompilasi video yang dapet ngunduh dari yutub, Video tersebut dikelompokkan berdasarkan kesamaan adegan atau tema, lalu dikasih judul yang menarik. Terakhir dikasih komentar atau deskripsi. Awalnya ada satu stasiun tv yang bikin acara tersebut, kemudian stasiun tv lain berbondong-bondong pada bikin hal serupa. bahkan sampe ada yang logo acaranya pun mirip yutub. Saya melihat disini ada strategi untuk membuat acara yang menarik dengan meminimalisir cost structure. Kalo ga salah pake video yutub ga dikenai biaya kan?

Nah, di The Comment ini menyajikan penyegaran dari acara serupa. Tidak berhenti dengan hiburan dari video-video yang kocak dan bikin ketawa, si host acara ini juga memberikan komentar-komentar yang santai dan seger, bahkan 'terkadang' lucu. Emang sih seringnya jayus, but it doesn't matter. Mereka juga membawakannya dengan cuek, dan kondisi santai itu pun ditularkan ke para penonton dan pemirsa tv. Malem-malem pulang dari kerjaan atau kuliah, dihidangkan acara lucu dan santai. Yaa, mungkin dalihnya sama dengan ibu-ibu jaman dulu dan sekarang yang selesai beres-beres rumah atau pulang kerja, capek, butuh hiburan, maka disetellah sinetron. Mungkin bukan sebagai pelepas ketegangan, tapi karena emang adanya acara macem itu. Nah, sekalipun baik nonton sinetron dan The Comment sama-sama ngabisin waktu dengan acara yang geje, paling tidak The Comment menyajikan sesuatu yang lebih cerdas, paling tidak buat saya dan angkatan saya (soalnya para ortu pada kagak ngarti nonton beginian.. -_- ).

Kalo Engga Tamu yang Bening, Penonton yang Bening

Ini nih yang saya paling ngeh dari acara The Comment. Nyadar ga kalo acara ini selalu menampilkan atau mengundang tamu dari kalangan artis cewe yang (menurut kesepakatan umum mata lelaki) pada bening? Ini sudah jadi teknik usang yang masih selalu ampuh untuk diterapkan di bagian manapun dari sebuah acara. Kayaknya acara seminar kurang pas kalo ga di-MC-in ama cewe cantik, kayaknya kurang pol kalo jualan hape sampe mobil ga dipasangi cewe aduhay. Kayaknya kurang greget kalo acara tv ga diiringi sama cewe bening. Sifat dasar manusia, wanita senengnya diliat, laki-laki senengnya ngeliat (kata guru sosiologi SMA saya). Sama seperti masakan, novel atau film juga punya bumbu pelengkap, komedi dan seks (itu kata guru bahasa endonesa SMP saya). Nnaah di The Comment, semuanya lengkap! Alhasil wajar dong kalo cewe-cewe itu jadi daya tarik para lelaki buat nonton, selain daya tarik acaranya yang emang bagus (ga tau nih yang mana yang jadi daya tarik utamanya).

Kesini-kesini, tamunya mulai beragam. Ada tamu laki-laki, bapak-bapak, komedian dll. Saya melihat ini sebagai penyeimbang. Maaf, ini cuma prasangka saya aja, bukan berdasarkan riset atau survey. Pada kenyataannya, tamu undangannya udah jarang cewe, tapi penontonnya itu Brooo. Yang bening-bening dan bermakeup disimpen di kursi depan. Tiap beberapa menit disyut itu penonton, tidak jarang disyut per wajah. Bukankah ini strategi yang cerdik? :D

Saya tidak memprovokasi ini baik atau buruk. Itu semua kembali pada pola pikir pemirsa semuah. Tapi yang pasti saya mengagumi pengemasan acara dan strategi pemasarannya yang kreatif, tidak biasa, dinamis, dan out of the box. Cewe-cewenya? Okelah, anggap aja itu bumbu. Semoga tidak menimbulkan dampak yang tidak baik.

Penetrasi Tren

Sekali lagi saya sotoy bikin istilah. Tapi maksud saya, The Comment ibarat laboratorium massa untuk mencoba mengukur sejauh mana penerimaan masyarakat terhadap sesuatu hal yang baru, aneh dan tidak biasa. Contohnya, ketika awal-awal episodeThe Comment ngasih gerakan 'Shikat Miring'. Sesuatu yang baru ini menjadi demam yang menjangkiti beberapa golongan tertentu. Ketika acara ini membuat sayembara video shikatmiring, tidak sedikit pemirsa yang ngunggah video mereka. Dan banyak lagi hal-hal nyeleneh di luar keumuman. Saya melihat ini sebagai gejala kelelahan orang dari rutinitas dan kemapanan adat. Orang-orang butuh sesuatu yang baru yang mampu mengeksplorasi rasa malu mereka. Dan melalui media massa, mereka sukses membuat orang bersepakat untuk melakukan sesuatu yang memang melepaskan dahaga mereka akan sesuatu yang baru dan di luar kebiasaan. Dan saya pun mulai berbicara lebay dan sok mengintelek. @-@

***

Ya, paling tidak itulah yang saya rasakan dan amati. Sejauh ini The Comment nampaknya jadi acara hiburan terfavorit keluarga saya buat bersenda gurau dan menghabiskan waktu malam bersama, di samping acara keilmuan di salahsatu stasiun tv lain yang sukses mengenyangkan kelaparan saya akan wawasan baru. Kami, khususnya saya, punya sesuatu untuk dilakukan dalam rangka melepaskan kepenatan setelah bekerja, melupakan kegalauan dan memperkental keceriaan di dalam keluarga.

Sorri kalo judulnya rada provokatif. Kan istilah kerennya 'dina raraga'. Hehe..

Thanks buat The Comment, thanks juga buat hostnya juga cerdas dan pandai membawa alur komentarnya. Btw, waktu ada acara The Comment di Ciwalk dulu, saya sempet pingin hadir disana. Saya pingin ngedandanin Wil dengan baju rompi/jas yang sudah dibeli sebelumnya, dan minta mas Danang-Darto buat berfoto sama Wil. Asik asikan aja. Sayangnya ga kesampaian. Gpp. :)