Labels

Cari di blog ini

Daily

Akhirnya Saya Kerja Juga

2 comments
Dulu sempet punya prinsip untuk tidak bekerja sebagai pegawai. Pinginnya bikin usaha sendiri, yang dengan itu juga bisa bantu sodara-sodara di rumah yang masih nganggur. Sampai akhirnya terjadilah diskusi dengan salah seorang teman kampus bernama Bram. Dia bilang bahwa untuk mendapatkan keamanan finansial ala cashflow quadrat, kita ga bisa berpindah dengan meloncat dari satu kuadran ke kuadran yang lain. Kita mesti melangkahkan satu kaki terlebih dahulu dan meninggalkan kaki yang satunya di kuadran yang lain.


Beuh, saat itu rasanya seperti bergeser duduk dari tempat nyaman ke tempat yang agak garinjul, dalam hal pergeseran paradigma. Benar juga kataku. Kalo kita berpindah kuadran dengan meloncat sekaligus, ada resiko kehilangan keamanan finansial di saat usaha kita runtuh. Misalnya, kita sebagai pekerja atau employee. Lalu kita ingin pindah profesi ke pebisnis. Maka, langkah paling aman adalah melangkahkan satu kaki ke kuadran bisnis, sambil tetap menjadi pekerja. Dengan demikian, ketika bisnis yang dirintis masih belum menghasilkan atau bangkrut, kita masih punya pegangan penghasilan sebagai pekerja. Begitu juga kalo kita mau ekspansi ke kuadran investasi, maka langkah paling bijak adalah melangkahkan kaki ke kuadran tersebut, sambil tetap mengatur usaha di kuadran bisnis, atau tetap berlaku sebagai pekerja.

Nah, dari situ saya mulai merenung lagi. Sekarang kenyataanya kondisi keluarga saya emang lagi bergoncang. Penghasilan pas-pasan, tanpa ada penghasilan tetap. Dulu saya pernah berpikir kalo penghasilan tidak mesti tetap apalagi sebagai wirausahawan, karena yang namanya bisnis penghasilan pastinya tidak akan tetap. Tapi sekarang saya paham bahwa yang dimaksud dengan tetap adalah penghasilan yang rutin selalu kita dapatkan setiap kali kita membutuhkan, terlepas dari jumlah nominalnya yang tetap atau berubah-ubah.

Akhirnya, saya memantapkan hati untuk mulai bekerja di sebuah perusahaan, sebagai programmer. Sebelumnya memang pernah punya niat untuk bekerja di salah satu perusahaan software house, yang mana teman kampus saya yang namanya Khalifa juga sudah bekerja disana. Tapi saya urungkan niat melihat tuntutan jam kerjanya yang 40 jam seminggu atau 8 jam sehari dari senin sampai jumat. Melihat konsumsi waktu seperti itu gimana saya bisa kuliah? Tapi kemantapan hati yang saya maksud di awal paragraf ini muncul dengan sempurna setelah saya memutuskan cuti kuliah. Fiuhh.. rasanya lega selega lulus kuliah, mungkin.

Saya pun datang ke perusahaan tersebut, dengan pakaian rapi dan sopan sebagaimana dandanan Pak Prabu di salahsatu acara sinetron RCTI. Gak usah berpikir kalo saya suka (baca:gemar) nonton sinetron. Ini hanya gara-gara nenek saya yang suka nonton sinetron tersebut setiap jam makan malam dan saya akhirnya ikutan nonton juga. Kembali ke perusahaan. Saya waktu itu cuma bawa satu lembar curriculum vitae yang dibungkus map warna oren. Lalu saya tiba disana bareng Khalifa dan saya diantar bertemu si bos yang punya itu perusahaan. Katanya yang ngurus programmernya lagi keluar, jadi saya sempet nunggu beberapa menit sampai akhirnya si bos programmer pun tiba di kantor tersebut.

Saya diminta mengisi beberapa lembar formulir pertanyaan sebagai ganti interview, supaya bisa didokumentasikan juga katanya. Wuih, saya demen gini caranya. Ga perlu banyak ngomong, si bos ga perlu banyak nanya, tinggal saya tulis dan si bos baca. Kalo ada yang kurang jelas baru deh ditanyakan. Simpel, se-user friendly sebuah aplikasi.

Oh ya, ada satu kesan yang unik ketika saya sampai di kantor tersebut. Kantornya bentuknya ruko karena emang sebuah ruko yang ada di kompleks pertokoan. Ada tiga lantai. Lantai pertama kosong, hanya ada dapur dan ruang kecil yang mungkin disiapkan untuk nyimpen motor. Lantai dua adalah lantai buat para karyawan, dan lantai tiga lantai the boss. Ketika pertama masuk, suasananya sepiiii bangeudh. Meskipun ada di kompleks pertokoan, tapi ketika pintu ditutup, suasananya langsung adem. Begitupun saat saya menaiki tangga. Saya sempet mengira kalo saat itu lagi pada libur jadi ga ada karyawan datang ke kantor. Nyatanya saya salah, dan mestinya sadar sejak awal. Di lantai dua, ada satu ruangan yang berjajar disitu meja-meja dan komputer, beserta beberapa belas orang pada mantengin komputernya masing-masing. Sekali lagi, sepiiii. Cukup sunyi untuk sebuah ruangan yang tidak terlalu besar dan ada banyak orang berdiam di dalamnya. Saya langsung cocok sama ini tempat!

Berselang beberapa hari setelah interview, saya nunggu-nunggu (engga juga sih) email kabar dari perusahaan tersebut. Katanya pemberitahuan selanjutnya via email karena mereka mau mempelajari dulu profil saya. Saya sempet pesimis (ga juga sih) ga keterima karena sudah lewat beberapa hari tak kunjung ada kabar. Khalifa bilang, tungguin aja, soalnya di kantor ada meja yang baru datang. Benarlah apa kata beliau, tepat 4 hari setelah interview, datanglah sebuah email yang mengabarkan bahwa saya diterima bekerja di perusahaan tersebut dengan masa percobaan 3 bulan dan mulai bekerja minggu depannya.

Yah, akhirnya bekerja jugalah saya. Tidak apa-apa. Ini dalam rangka menegakkan perekonomian keluarga, juga sebagai ancang-ancang supaya nanti dapet modal untuk memulai usaha mandiri. Yosh!

2 komentar:

  1. Alhamdulilah tong . semoga ini yang terbaik buat ente. Doa saya selalu menyertai.

    BalasHapus
  2. Amiin. Parah, baru juga posting, malahan lagi di sunting, ini udah ada yang komen lagi. Hatur nuhun supportnya Bang. Kalo ada proyekan, jangan sungkan untuk mengajak yah hehe..

    BalasHapus

terima kasih sebelumnya untuk tanggapannya ^_^