Labels

Cari di blog ini

Daily Nonton Tafakur

Selalu Ada yang Harus Disyukuri Bahkan Ketika Terkena Musibah

4 comments

Judulnya kepanjangan. Judulnya itu sendiri adalah posting microblog. Sudaj cukup ngerti. Tapi ane pengen share pengalaman hari ini.

Ceritanya Codepolitan dapet dikasih tiket gratis buat nonton Star Wars The Force Awaken dari Dicoding. Dikasih 4 biji. Karena lokasi nontonnya di PVJ Bandung, maka kru yang di Bandunglah yang dapet jatah. Singkat cerita ane, Rinei my wife, Singgih dan Bagus yang berangkat.

Ini tiket bener-bener nikmat ga disangka2. Soalnya si Rinei pengen banget nonton, sedang dompet ane lagi kempes-kempesnya habis dipake belanja perlengkapan wisuda, seeehabis habisnya.

Beres jumatan langsunglah terbang ke PVJ, naek si Vario putih. Ntu Vario ban depannya udah sobek hampir seperempat lingkar ban sejak dua-tiga hari kebelakang. Jeroannya aja ampe hampir nyembul keluar. Ini mah tinggal nunggu waktu dan momen yang pas aja ampe si ban ini bocor atau meletus.

Kami berangkat dari kampus UPI ke PVJ sekitar setengah jam sebelum jadwal tayang. Stang motor udah makin kentara aja goyang-goyangnya karena sobekan ban depan tadi bikin bannya jadi benjol. Di pikiran ane kebayangnya gawat juga kalo ampe meletus atau paling tidak bocor pada saat itu. It can ruin this happy moment. Bisa bikin bete dan ketinggalan cerita. Niat bikin seneng si Rinei bisa gagal total. Ane inget saat itu ane berdoa dalam hati, mudah-mudahan ga bocor. Kalopun taqdirnya emang mesti bocor hari ini, rada didelay lah Boss paling tidak setelah beres nonton, jangan sekarang.

Alhamdulillah nyampe PVJ dengan selamat, bisa menikmati movie dengan sangat puasss. Rame lah, terutama karena udah ngikutin beberapa episode terdahulunya, jadi rada ngerti dan nyambung.

Pulangnya ampe padalarang malem2. Laa la la, masih kebayang itu efek2 filmnya yang keren bingits. Di jalan tiba-tiba ane sadar, kok ini motor udah ga goyang yah, apa benjolnya udah sembuh, atau justru sobeknya lebih merata jadi ga goyang lagi. Ane minggir dan cek bannya dan ternyata udah kempes. Ini ban masih bagus sebenernya, makanya ga terlalu kerasa pas lagi bocor. Cuma karena sobek aja.

Si rinei udah mulai keliatan bete hahaha. Udah mau nyampe rumah, cuma sekitar 2 kiloan lagi. Tapi apa daya, akhirnya belok dulu lah ke tukang tambal ban. Dari situ ane sadar. Ane ngerasa doa tadi siang itu diijabah. Boleh jadi emang taqdirnya ini ban bocor malem-malem. Tapi boleh jadi juga mestinya bocor siang tadi, tapi Allah delay karena ane berdoa minta delay. Who knows. Malem itu ane bersyukur banget. Meskipun si Rinei agak bete kayaknya, yang juga karena ane pinjem uang ke dia buat tambal dan ganti itu ban luarnya. Tapi rasanya itu masih mending daripada kalo bocornya siang tadi.

Overall, meskipun saat bocor ban itu adalah musibah, bukan berarti kebetean membuat ane jadi lupa bersyukur atas nikmat yang udah dikasih yang jauh lebih banyak dibanding musibah kecil ini. Pemikiran semacam itulah yang selalu ane coba terapkan kalo nemuin kasus serupa. Semata biar ga ada nikmat yang dilupakan.

Ane ngerasa lebih seneng lagi terutama karena momen tersebut terjadi oleh sebab ane berdoa dan doanya nyambung sama kejadian. Rasanya seperti diijabah doa. Dan mudah-mudahan ini adalah tanda ijabah doa. Ketika kita berdoa dan doa kita tidak kunjung diijabah, ada beberapa kemungkinan. Dan kemungkinan terburuk adalah karena ada pada diri kita hal-hal yang membuat doa kita tertahan untuk diijabah. So ketika kita menyadari ada doa kita ada yang diijabah, itu adalah seperti sebuah konfirmasi bahwa "tidak ada pada dirimu sesuatu yang membuat tertahannya sebuah doa untuk diijabah". Mudah2an ya Allaah.

arduino attiny85 Development digispark

Mengaktifkan Pin P5 pada Digispark

Silakan Ngomen
Adakah diantara Kamu yang udah nyoba Digispark? Digispark adalah papan hardware yang dapat diprogram yang menggunakan ATTiny85 sebagai chip kontrollernya. Digispark pertama kali dibuat oleh Erik Kettenburg dari Digistump melalui sebuah proyek KickStarter. Digispark memungkinkan kita untuk memprogram ATTiny85 dengan lebih mudah, langsung diprogram melalui kabel USB tanpa mesti menggunakan perangkat ISP.

Digispark menyediakan 6 buah pin I/O (input-output). Sebenernya dari ATTiny85-nya sendiri itu dia cuma punya 5 pin I/O, sisanya adalah pin VCC, Ground dan Reset. Digispark mengubah pin Reset menjadi pin yang bisa digunakan untuk I/O, yakni pin P5. Meski demikian mungkin ada diantara kamu yang menemukan ketika pin P5 dihubungkan, board Digispark malah mereset dan menjalankan ulang program. Itu terjadi karena pin P5 sebagai pin Reset tidak atau belum difungsikan sebagai pin I/O. Biasanya itu terjadi pada board digispark clone atau buatan sendiri.

Untuk dapat memfungsikan pin reset menjadi pin I/O, kita harus mengatur terlebih dahulu fuse untuk ATTiny85. Adapun praktisnya kita akan menggunakan AVRDUDE untuk mengeset fuse pada ATTiny85. Instal terlebih dahulu AVR di komputermu. Ikuti langkah-langkahnya di halaman ini.

Setelah avrdude terinstall, hubungkan Arduino Uno (saya pake Arduino Uno sebagai ISP) dengan Digispark dengan skema pin berikut:

UnoDigispark
10P5
11P0
12P1
13P2

Setelah terhubung, aktifkan Arduino Uno sebagai ISP terlebih dahulu. Hubungkan Arduino Uno ke komputer lalu buka Arduino IDE. Pada Arduino IDE, Pilih menu Tools > Board lalu pilih Arduino UNO. Lalu pilih menu File > Examples dan pilih ArduinoISP. Akan muncul jendela Arduino IDE baru berisi program untuk menjadikan Arduino Uno sebagai ISP. Klik tombol upload program.

Setelah upload program ISP ke Arduino Uno berhasil itu berarti Arduino Uno sudah dapat difungsikan sebagai ISP. Sekarang buka terminal dan ketikkan perintah berikut:

avrdude -c avrisp -p t85 -P /dev/ttyACM1 -b 19200

Perintah tersebut berfungsi untuk mendeteksi koneksi ke ATTiny85 melalui ISP. -c avrisp berarti kita menggunakan programmer avrisp untuk memprogram mikrokontroller. -p t85 berarti kita mentargetkan ATTiny85 untuk diprogram. -P /dev/ttyACM1 adalah set port yang terhubung dengan Arduino Uno. Kalo di Ubuntu biasanya portnya /dev/ttyACM0 atau /dev/ttyACM1 dan sebagainya. Kalo di Windows biasanya port diberi nama COM1, COM2 dan sebagainya. Cek terlebih dahulu port mana yang digunakan oleh Arduino Uno untuk terhubung ke komputer. Terakhir adalah -b 19200 yang berarti kita mengeset baudrate ke 19200. Jalankan program. Bila muncul pesan:

avrdude: safemode: Fuses OK (E:FE, H:DD, L:E1)
avrdude done.  Thank you.

tanpa pesan error lain, berarti ATTiny85 pada Digispark berhasil diakses.

Setelah itu kita akan mengubah setting fuse pada ATTiny85 agar pin Reset dapat difungsikan sebagai pin I/O. Jalankan perintah berikut pada terminal:

avrdude -c avrisp -p t85 -P /dev/ttyACM1 -b 19200 -U lfuse:w:0xF1:m -U hfuse:w:0x5F:m -U efuse:w:0xFE:m

Apabila berhasil, avrdude akan menampilkan pesan proses dan diakhiri pesan seperti ini:

avrdude: safemode: Fuses OK (E:FE, H:5F, L:F1)
avrdude done.  Thank you.

Kita lihat bahwa settingan Fuse sudah berubah dari (E:FE, H:DD, L:E1) ke (E:FE, H:5F, L:F1).

Sekarang kalo kamu menjalankan lagi perintah untuk mendeteksi ATTiny85 seperti perintah pertama diatas, maka ATTiny85 sudah tidak dapat dideteksi. Kenapa? Karena pin P5 yakni pin Reset pada ATTiny85 sudah tidak lagi menjadi pin Reset, ISP memerlukan pin Reset untuk dapat terhubung. Tapi sekarang Kamu cobalah pin P5 mestinya sudah bisa difungsikan sebagai input/output. :)

dosen mahasiswa Mikir my two cents pendapat

Four Types of Lecturer

Silakan Ngomen
Talking about college student, we are also talking about lecturer. After 6+ years of my college experience (ahem, and I'm still a college student*), I saw an interesting pattern about lecturers (I may applied to teaches in general too, I guess). The pattern is about how the lecturer interacted with the students, within and outside the formal class. If you have been a (college) student, you must have met a boring killer lecturer. You once said, "Man, I hate math class with Prof. A. You know I always fall asleep on his class." or "God, how can I be calm on studying while Prof. B yells every five minutes.". Sometimes we critisise the way they lecture us. And on the other time we blame them for our failure. And sometimes, we hate certain subject not because we don't like it, but because the lecturer. It's because “his way of teaching was wrong". Right?

Unfortunately, if we keep thinking that way, we would never learn neither be successful. As we grow up, we realise that cursing the lecturer won't make us any better. No matter how angry we are to them, no matter how hate we are to them, we can’t change that with cursing. If you are a college student, remember that you can't be cry baby like a highschoolers. You have to survive and you have responsibility upon yourself.

From that starting point, I think we should change our perspective about our lecturer. You know, when we're highschoolers, we were thinking about teacher as "a parents as school who have a deep knowledge about everything and we can't learn and pass the test without them", now we should start to see lecturer as a friend on learning, a friend we respect. I always think them as a respected friends even though they are far older than me. That way, I found learning is easier more enjoyable.

But in fact, we can't befriend every lecturer. This is the point of this post (sorry for the long epilogue). There are lecturers who are so close to his students and the other make distant from their students. There are lecturers who are so so so kind-hearted and even easy to give a grade, but the other are killer ones. Something interesting I found is that not every killer lecturers in class are bad. Here I made a clear explanation about it (according to my investigation and "research", by the way). I'm pretty sure you'll agree. And also I added a mighty awesome quadrants to ease things.


Type 1 : No Fun at Class and Outside
It seems that the lecturers always have a busy life. Maybe he has so many activities that he have no time to interact with his students outside the class. Even more, it seems class is not in flow. Other reason is.. maybe it's just who he is (a social awkward?).

Type 2 : No Fun at Class, But Fun Outside
Admit it, you have met one. He is so killer in class, making it so intense. Or he is too boring and you often fall asleep in his classes. But once you met him outside, you can easily hold a fun conversation, good discussion, and even exchange latest PC games. :D

Type 3 : Fun at Class, But No Fun Outside
This type is a little bit confusing. His teaching method and style is perfect. He is funny and we expect to engage more with him outside, but when we approach him.. Surprise! He’s so much different. He is cold and seemed to limit his interactions with student. Everything is just awkward. Personally, I chose to avoid meeting this lecturer and take another road. Hahaha..

Type 4 : Fun Both at Class and Outside
Whoaaa.. this type is awesome. Having discussion with him is always enjoyable. He takes teaching and lecturing his student in to the next level, because education need to happen not only inside the class. He’s aware about his profession (and maybe because it’s his trait, easy going). It doesn’t mean that other type is not professional or dedicated. We just can say that this type is such an ideal lecturer ;)

In conclusion, I must said that it’s not important which type of lecturer we are facing, the future is in our hands. Just because the lecturer is not an easy going on (a.k.a. type 1 or 3), it doesn’t mean you have a reason to give up on learning. Remember that he has a potential to be always like that, and if we didn’t change ourselves, we are doomed! However, as a student we still have to respect them. If you feel the lecturer is mean or anything, just remember that every human has a mistake, why not a lecturer? That's my two cents. :)

So, if you are about to be a teacher or lecturer, which type will you fall on?? :D

Maybe you can post your story too? Hendri, Zia, Raksa

* Yeeees I'm still a college student after 6+ years. I accept it as my fate hahaha.. Fortunately, it's not a dead-6-year because I got many opportunities to learn something outside college within that time range. It's not a good example of course. But since it happens to me, I positively face it and be grateful of it. Because each person has their own life and problematic. I will graduate soon, so, Life, I'm ready. Bismillah :D

This post is my entry for 'My College Diary' contest held by travel blog My Yatra Diary in collaboration with Collegedunia.com
Daily kuliah Menulis Mikir Pendidikan Refleksi

4 Tipe Dosen

2 comments
Sudah 6 tahun hidup di kampus. Kalo ditambah cuti berarti udah 7 tahun. Fiuhh.. Ada banyak pengalaman yang bisa saya nikmati, yang kalo kata dosen saya, ada pengalaman dan manfaat yang lebih gede lagi kalo udah lulus. Fiuhh.. Anyway, saya menikmatinya. Saya melihat ini sebagai bagian dari jalan hidup saya, dengan sekelumit problematika dan pengalaman yang belum tentu dialami juga oleh orang lain. Kita bisa saja bilang, orang lain yang sudah lulus duluan tentunya punya pengalaman yang mungkin lebih wow. Ya, who knows kan? So, kalo orang lain bisa bersyukur dengan hidupnya, kenapa saya tidak? :)

Bicara mahasiswa, berarti erat kaitannya dengan dosen, orang yang mengajar mahasiswa. Setelah sekian lama kuliah, saya melihat ada beberapa pola menarik dari dosen secara khusus, atau pengajar pada umumnya. Pola yang saya maksud adalah tentang bagaimana dosen berinteraksi dengan mahasiswa, di dalam dan di luar kelas. Kalo Kamu pernah jadi mahasiswa, atau minimalnya siswa, Kamu pasti akan selalu bertemu dengan yang namanya dosen. Pasti lah. Inget ga dulu waktu SMP atau SMA, Kamu atau temen Kamu pernah bilang hal semacam ini: "Ah gue ga mudeng belajar matematika sama si Pak Anu, bawaannya ngantuk", atau "Yaelah, gimana bisa tenang belajar, si Ibu Anu itu dikit-dikit bentak, yang ada malah tegang". Kita terkadang atau seringkali mengomentari sikap dan cara guru kita mengajar, dan adakalanya juga menyalahkan guru kita atas kegagalan kita dalam belajar. Kita mungkin pernah berpikir, kita jadi tidak suka suatu mata pelajaran gara-gara gurunya begini begitu. Betul apa benar?

Sayangnya kalo kita terus-terusan kayak gitu, artinya menyalahkan guru atas kegagalan belajar kita, selamanya kita tidak akan pernah sukses. Saya yakin seyakin-yakinnya. Tapi saya juga yakin, semakin dewasa kita, kita akan sadar bahwa bagaimanapun kita menyalahkan dan mengutuk seorang guru, itu tidak akan pernah membuat kita lebih sukses. Guru akan tetap dengan kehidupannya, dan kita pun akan tetap dengan kegagalan hahaha.

Kalo udah jadi mahasiswa, kita udah ga bisa lagi ngerengek nyalahin guru kayak waktu dulu sekolah. Ga peduli kayak gimana dosen Kamu mengajar, Kamu mesti bisa survive dan tuntas belajarnya. Kalo kita kerjaanya cuma nyalahin dosen, sekencang apapun Kita berteriak mengutuk dosen yang ngajarnya ga becus, ingatlah dosen itu akan tetap dengan kehidupannya, dan Kita sampai kapanpun ga akan pernah lulus. Kita ga akan bisa mengubah orang lain. Kita hanya punya kendali pada diri kita sendiri. Kalo kasarnya sih, 'yang mau lulus itu siapa, elu apa dosen?'

Bertolak dari hal itu, mestinya kita mulai beralih sudut pandang kita terhadap pengajar. Kalo dulu waktu sekolah, kita mungkin memandang guru sebagai orang tua yang ada di sekolah yang punya banyak ilmu yang tanpanya kita ga akan bisa belajar dan lulus sekolah. Kalo di perkuliahan, saya lebih suka memandang dosen sebagai teman dalam belajar, teman yang harus kita hormati dan serap ilmunya. Setua apapun dosen, saya lebih suka menempatkan mereka sebagai teman, mungkin teman yang lebih tua. Tentu saja saya tetap memandang mereka juga sebagai guru yang harus dihormati dan didoakan oleh sebab ilmu yang mereka ajarkan. Dengan cara memandang seperti itu, saya bisa belajar lebih nyaman dan menyenangkan.

Namun, nyatanya saya sadari tidak semua dosen bisa dijadiin teman. Ada dosen yang gaul sama mahasiswa, ada juga yang menutup diri dan menjaga jarak. Ada yang baik banget sampe-sampe gampang banget ngasih nilai, ada juga yang killer. Tapi yang lebih menarik lagi dari itu, yang saya garis bawahi di awal tulisan. Ternyata tidak semua dosen yang menyenangkan itu selamanya menyenangkan, dan ga semua dosen yang killer itu selamanya killer. Kalo saya buat batasan yang jelas, saya yakin Kamu juga pasti bisa mengamati hal tersebut. Batasan yang saya maksud adalah bagaimana cara mereka berinteraksi dengan mahasiswa, di luar dan di dalam kelas. Biar gampang, saya gambarkan ke dalam bentuk tabel kebenaran, dengan parameter A = asyik di dalam kelas dan B = asyik di luar kelas.

|-------------|
|   A  |   B  |
|-------------|
|   0  |   0  | tipe 1
|   0  |   1  | tipe 2
|   1  |   0  | tipe 3
|   1  |   1  | tipe 4
|-------------|

Ngerti ga? Kalo Kamu pernah belajar logika matematika atau logika informatika mestinya bisa ngerti. Atau gimana kalo saya gambarin dalam bentuk kuadran, seperti di bawah ini:

|-----------------------------------------------|
|                 |  ga asyik di  |   asyik di  |
|                 |  luar kelas   |  luar kelas |
|-----------------------------------------------|
|                 |               |             |
|   ga asyik di   |       1       |      2      |
|  dalam kelas    |               |             |
|                 |               |             |
|-----------------------------------------------|
|                 |               |             |
|    asyik di     |       3       |      4      |
|   dalam kelas   |               |             |
|                 |               |             |
|-----------------------------------------------|

Tipe 1 : Ga Asyik di Dalam Maupun di Luar Kelas

Kayaknya dosen begini sibuk sama urusannya sendiri. Mungkin dia punya banyak kesulitan dalam hidupnya yang membuatnya jangankan berinteraksi dengan mahasiswa di luar kelas, untuk fokus dan totalitas mengajar di dalam kelas pun udah kewalahan. Kalo tidak begitu, mungkin memang bawaan sifatnya seperti itu.

Tipe 2 : Ga asyik di Dalam Kelas tapi Asyik di Luar Kelas

Pasti pernah nemuin kan dosen kayak gini. Dia killer pas ngajar, atau mungkin bikin ngantuk karena ngajarnya pake metode khutbah jumat, atau alasan lain yang bikin kita ga asyik belajar di kelas, tapi kalo di luar kelas enak diajak ngobrol dan diskusi, bahkan ketawa-ketawa dan share game PC terbaru? :D

Tipe 3 : Asyik di Dalam Kelas, Tapi ga Asyik di Luar Kelas

Pernah ga nemuin dosen yang ngajarnya keren, suasana kelas terbangun, mahasiswa semarak menyambut celotehan dosen yang lucu dan cerdas, tapi kalo ketemu di luar kelas sikapnya dingin, kayak yang tidak mau berinteraksi dengan mahasiswa atau berinteraksi seadanya? Saya pribadi kalo ketemu dosen kayak gini saya lebih memilih menghindar dan ambil jalan memutar hahaha~

Tipe 4 : Asyik di Dalam dan di Luar Kelas

Whoaaa.. ini dosen keren abis. Dia mendedikasikan hidupnya muntuk mengajar dan mendidik mahasiswanya, karena sejatinya pendidikan tidak cukup hanya terjadi di dalam kelas saja. Dia dosen yang sadar betul akan profesinya. Dan mungkin juga karena memang bawaan sifatnya seperti itu. Bukan berarti dosen yang engga masuk kuadran 4 ini ga profesional atau ga berdedikasi. Cuma yang pasti tipe 4 inilah yang menjadi dambaan para mahasiswa ahay..

Sekali lagi saya katakan, terlepas oleh dosen bertipe berapapun kita diajar, kesuksesan perkuliahan ada di tangan kita sendiri sebagai mahasiswa. Jangan gara-gara dosennya ga asyik lantas kita jadi reaktif dan enggan kuliah. Kalo sampe kayak gitu, ingatlah, dosen itu akan tetap dengan kehidupannya, dan kita akan tetap dalam kerugian. Bagaimanapun dosen kita, kita sebagai pembelajar tetap punya kewajiban untuk menghormati ilmu dan ulama yang dalam hal ini dosen, kalo pengen belajarnya sukses dan barokah. Urusan sifat dosen yang buruk, bukankah setiap manusia tidak luput dari kesalahan?

Sebenernya pengen bahas juga bagaimana sifat mahasiswa dari kacamata dosen. Jangan salah, kalo kita sebagai mahasiswa kerap kali merasa terzhalimi oleh dosen, dosen juga katanya tidak jarang terzhalimi oleh mahasiswa, sering di-PHP-in lah, mahasiswa nyontek lah, dan sebagainya. Sayangnya saya tidak dalam kapasitas sebagai dosen atau pengajar. Mungkin suatu saat kalo ada kesempatan.

So, kalo Kamu jadi dosen atau guru nanti, mau jadi tipe berapa?? :D
Bisnis Development Impression mumble

Startup is not about popularity, it is about a business.

Silakan Ngomen
Daily Refleksi Tafakur

Putar, dan Rasakan

Silakan Ngomen
Judulnya engga banget hahaha.. Asbabun nuzulnya ialah, ketika barusan, yaitu malam hari sekitar jam sepuluh, saya merendam handuk kecil yang saya pakai ngelap ingus waktu flu minggu lalu. Itu handuk saya cuci buat nantinya saya pake ngompres istri saya yang lagi demam. Saya cuci dulu supaya ketika dipakai ngompres, tidak ada ingus kering yang jadi basah dan licin kembali lalu menempel di jidat istri saya. Meskipun dia tidak akan tau, tapi tidak tega rasanya kalo harus liat ada ingus nempel di jidatnya.

Bersambung ke asbabun nuzul judul. Saat hendak nyuci handuk kecil itu, warnanya oranye. Ketika mulai dicuci pun tetap oranye. Karena khawatir ingusnya tidak luntur, maka saya ingin tambahkan detergen. Detergennya ada di dalam toples plastik. Saya buka tutup toples itu. Lumayan susah. Saya coba lebih kuat lagi. Masih susah. Kok rasanya makin keras saya putar, makin susah dibuka yah. Saya lalu cuci dulu tangan saya. Maksudnya biar engga licin karena ada butiran detergen yang udah nempel di tangan saya.

Percobaan kedua saya buka lagi tutup toples itu dan, wow, mudah sekali. Saya lihat ke ember air, dan bertanya-tanya, apakah barusan saya baru saja mencuci tangan dengan air ajaib. Saya tutup lagi toples itu. Saya buka dengan keras dan sulit sekali terbuka. Saya kendorkan tenaga, dan, Wow.. mudah sekali terbukanya. Saya yakin, Kamu pun pasti pernah mengalaminya.

Seketika itu saya langsung teringat adegan film, entah film apa, yang mana adegannya ada orang tua yang kesulitan melepaskan tutup toples. Lalu di tengah keseriusannya membuka tutup toples itu, datang anak kecil meminta toples itu dan ia pun membukanya, dengan mudah. Orang tua itu terheran-heran sambil mengerungkan dahinya. Rasanya sulit dipercaya. Apakah itu cerita si Superman saat masih kecil? Entahlah, tapi mungkin itu adalah wow seperti wow yang saya lontarkan di awal tadi. Mungkin terlihat lucu, tapi itu sangat mungkin. You know lah, leher toples kejepit, gaya gesekan membesar, dan sebagainya dan sebagainya.

Hikmah yang bisa saya tangkap di malam yang panas ini, salah satunya adalah, seringkali kita bersikeras mencapai sesuatu tapi pada akhirnya kita kelelahan dan kecewa. Tapi ada kalanya kita memasrahkan sesuatu dan tiba-tiba sesuatu itu malah datang menghampiri. Yaa, dan sebagainya lah. Kalo Kamu, kira-kira hikmah apa yang kepikiran??
Daily Mikir Refleksi Tafakur

Bukan "Karena Cinta"-nya, tapi "Karena Allah"-nya

Silakan Ngomen
“Tidaklah seseorang dari kalian sempurna imannya, sampai ia mencintai untuk saudaranya sesuatu yang ia cintai untuk dirinya.” [HR Bukhari]
Sudahkah kita bersahabat dan bersaudara karena Allah? Lalu sudahkah kita mencintai seseorang, siapapun itu, karena Allah? Pernahkah kau mengatakan, atau terbesit dalam hati untuk mengatakan, kepada seseorang dari lawan jenismu, "aku mencintaimu karena Allah"? Kalo pernah, cobalah cek, mampukah kau merelakan orang yang kau cintai itu untuk saudaramu "karena Allah"? Wow, mungkin itu sesuatu yang berat, atau sangat berat. Tapi, sesungguhnya yang utama itu bukan 'cinta'-nya, tapi 'karena Allah'-nya.

Mari kita simak sepenggal kisah indah, antara Salman al-Farisi dan Abu Darda`, dua orang shahabat Nabi SAW. Salman berasal dari Persia, ikut rombongan hijrah Nabi ke Madinah. Setelah tiba di Madinah, Nabi SAW. kemudian mempersaudarakan para shahabat yang ikut hijrah, kita sebut Muhajirin, dengan shahabat dari Madinah yang menerima kedatangan para Muhajirin, yang kita sebut dengan shahabat Anshar. Salahsatu yang dipersaudarakan adalah Salman dan Abu Darda`.

Suatu waktu, Salman menyukai seorang wanita shalihah dari kaum Anshar. Sudah bulat tekadnya untuk meminangnya. Namun walau bagaimanapun Madinah masih terasa asing olehnya. Madinah bukan tempat ia dilahirkan dan tumbuh dewasa. Madinah punya bahasa dan adat kebiasaan yang belum terlalu dikenalnya. Harus ada orang yang akrab dengan adat Madinah untuk membantunya sebagai juru bicara saat khitbah. Maka disampaikanlah niatan hatinya kepada saudaranya, Abu Darda.

”Subhanallaah. . wal hamdulillaah. .”, Abu Darda’ senang mendengarnya. Keduanya tersenyum bahagia dan berpelukan. Mereka menyiapkan segala sesuatunya untuk mengkhitbah wanita shalihah yang menjadi tujuan hati Salman. Setelah persiapan dirasa cukup, mereka pun pergi ke rumah wanita itu.

”Saya adalah Abu Darda’, dan ini adalah saudara saya Salman seorang Persia. Allah telah memuliakannya dengan Islam dan dia juga telah memuliakan Islam dengan amal dan jihadnya. Dia memiliki kedudukan yang utama di sisi Rasulullah Shallallaahu ’Alaihi wa Sallam, sampai-sampai beliau menyebutnya sebagai ahli bait-nya. Saya datang untuk mewakili saudara saya ini melamar putri Anda untuk dipersuntingnya.”, fasih Abu Darda’ berbicara dalam logat Bani Najjar yang paling murni.

”Adalah kehormatan bagi kami”, ucap tuan rumah, ”menerima Anda berdua, shahabat Rasulullah yang mulia. Dan adalah kehormatan bagi keluarga ini bermenantukan seorang shahabat Rasulullah yang utama. Akan tetapi hak jawab ini sepenuhnya saya serahkan pada puteri kami.”

Abu Darda dan Salman menunggu dengan berdebar-debar. Hingga sang ibu muncul kembali setelah berbincang-bincang dengan puterinya.

”Maafkan kami atas keterusterangan ini”, kata suara lembut itu. Ternyata sang ibu yang bicara mewakili puterinya. ”Tetapi karena Anda berdua yang datang, maka dengan mengharap ridha Allah saya menjawab bahwa puteri kami menolak pinangan Salman. Namun jika Abu Darda’ kemudian juga memiliki urusan yang sama, maka puteri kami telah menyiapkan jawaban mengiyakan.”

Keterusterangan yang disampaikan sang ibu di luar dugaan kedua shahabat itu. Tapi apa reaksi Salman?

”Allahu Akbar!”, seru Salman, ”Semua mahar dan nafkah yang kupersiapkan ini akan aku serahkan pada Abu Darda’, dan aku akan menjadi saksi pernikahan kalian!”

Wow. Coba Kamu bayangkan, bagaimana kalo kita ada pada posisi Abu Darda`. Kalo saya pasti kikuk dan ga enak lah sama saudara saya sendiri. Ini benar-benar diluar dugaan. Yang dalam dugaan kan paling cuma dua jawabannya, menerima atau menolak. Tapi ini ada opsi lain. Menolak dan akan menerima kalo Abu Darda` yang melamarnya. Kalo di versi sinetron mungkin akan sangat lebay pisan.

Hey, coba bayangkan juga kalo kita ada di posisi Salman. Ditembak sama jawaban begitu oleh ibu sang wanita, kita harus mampu memberi respon yang tepat, atau lebih tepatnya, mengkondisikan hati untuk merespon jawaban tersebut. Saya bisa saja menjawab "ya sudah sama Kamu saja Bro", tapi apakah hati saya juga mampu mengatakan hal yang sama?

Hmmm.. Salman, sekalipun bukan saudara kandung, melainkan dipersaudarakan oleh Nabi, persaudaraan yang jauh lebih erat dari persaudaraan apapun, dengan senang hati merelakan apa yang dicintainya untuk saudaranya. Di satu sisi memang punya hak apa Salman melarang Abu Darda` untuk lantas meminang wanita tersebut. Tapi di luar hal tersebut, Salman punya kerelaan hati, yang saya yakin tidak akan pernah dimiliki oleh Salman kalo dia tidak mencintai karena Allah.

Bila Kamu dihadapkan oleh situasi yang serupa, apakah Kamu akan mempertahankan egomu untuk mencintai sang wanita meskipun cinta itu tidak akan pernah terbalas, yang mungkin akan berujung pada keretakan persaudaraanmu? Bisa saja kan endingnya, saudaramu mengalah dan kalian pulang dengan tangan hampa. Kamu tau saudaramu juga pasti ga enak hati dong, apalagi liat respon kamu kayak gitu. Tapi, terlepas dari saudaramu itu suka atau tidak sama wanita tadi, terlepas dari saudaramu akan melamar atau tidak wanita tadi, mampukah Kamu merelakan rasa cintamu untuk kemudian diberikan kepada saudaramu? That's the question. :)

Tambahan. Sekedar motivasi. Allah memberi jaminan perlindungan kepada 7 golongan orang di akhirat nanti. Salahsatunya adalah dua orang yang mencintai karena Allah, bertemu karena Allah dan berpisah karena Allah. Kalo Kamu mencintai seseorang, pastikan cintamu karena Allah. Bagaimana caranya mencintai karena Allah? Yaa, saya kira jawaban yang baru saja saya temukan, yang paling tepat hingga saat ini buat saya adalah, "bukan 'karena cinta'-nya, tapi 'karena Allah'-nya. Mampukah faktor 'karena Allah' itu tetap ada ketika cinta dan orang yang dicintai kandas?"


---
rujukan: http://blog.al-habib.info/id/2012/03/kisah-cinta-dan-kebesaran-hati-salman-al-farisi.html