Labels

Cari di blog ini

belajar Daily Family Mikir

Progress Belajar Lagi Ilmu Nikah

Silakan Ngomen

Ditinggal Wafat Istri

Saat tulisan ini ditulis, sudah 8 bulan sejak kematian istri saya. Istri saya wafat pada tanggal 19 Desember 2019. Bulan-bulan awal adalah situasi yang sangat menyedihkan. Ga perlu dijelaskan bagaimana menyedihkannya karena memang sulit. Tapi satu hal yang selalu membuat saya merasa harus kuat adalah ingatan saya kepada Rasulullah Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam, yang punya perjalanan hidup yang jauh lebih berat dibanding apa yang saya sedang alami. Saya ditinggal wafat istri saya, sedangkan Rasulullah ditinggal wafat istri pertamanya Khadijah radhiyallahu anha dan juga paman terkasihnya Abu Thalib, yang selama itu mengurus, mendukung dan melindungi beliau selama berdakwah di Makkah. Keduanya meninggalkan Rasulullah di tahun yang sama. Lebih jauh lagi beliau sudah ditinggal ibu dan ayahnya sejak lama, dittinggal kakeknya juga. Allah masih menyisakan untuk saya 3 orang anak yang lucu dan baik, juga masih punya orang tua yang lengkap. Sedangkan Rasulullah diuji dengan ditinggal wafat semua anak-anak laki-lakinya saat kondisi masih balita. Kalau aku harus larut dalam kesedihan, maka sesungguhnya Rasulullah-lah yang jauh lebih pantas untuk berlarut dalam kesedihan. Tapi beliau tampil di depan ummat dengan gerakan move on yang luar biasa. Tiadalah beliau dapat demikian kecuali karena bergantungnya hanya kepada Allah, sehingga Allah menguatkan dan meneguhkan hati beliau. Maka dari itu, sudah sepantasnya bagi saya untuk juga bergantung hanya kepada Allah, dan memohon kekuatan kepadaNya.

Itu adalah satu paragraf yang akhirnya bisa saya tulis dan saya ringkas tentang perjalanan move on saya setelah ditinggal istri. Awalnya ingin dibuat artikel khusus. Tapi saya lebih ingin larut dalam doa mendoakan istri saya daripada larut dalam dalam sedih dan ratapan. Maka titik ini adalah titik move on saya atas kondisi tersebut. Bismillah.

Belajar Lagi Ilmu Nikah

Kira-kira sejak bulan ke-3 setelah kematian istri, baru mulai terpikirkan untuk menikah lagi. Terutama setelah salah satu guru saya menasihatkan kepada saya untuk menikah lagi. Beliau berkata, bahwa Imam Ahmad bin Hanbal saja menikah lagi di hari ke-3 setelah ditinggal wafat istrinya. Saat itu saya bilang kalau saya tidak sesoleh Imam Ahmad. Beliau lalu menimpali dengan bilang, "Ya minimal amalan menikah laginya dicontoh" hehe..

Setelah itu saya mulai berpikir untuk menikah lagi. Tapi banyak pertimbangan, jauh lebih banyak ketimbang saat mau menikah dulu. Sekarang saya punya anak tiga. Ada banyak kekhawatiran apakah istri saya nanti akan dapat berinteraksi dengan baik dengan anak-anak saya. Belakangan hal ini tidak terlalu menjadi kerisauan karena setelah bulan ke-4 saya mulai terbiasa dengan kondisi anak-anak sekarang yang tanpa ibu. Wildan dan Milki tinggal bersama saya di rumah mamah dan mamah yang lebih banyak mengurus mereka terutama saat saya pergi bekerja. Kia anak ketiga saya tinggal bersama ibu mertua saya dan saya selalu menengok dia satu sampai dua kali seminggu (yang mestinya lebih sering karena jarak dari rumah mamah ga jauh, cuma beda dua desa saja). Artinya istri baru saya mestinya tidak akan terlalu diberatkan nantinya setelah kami menikah.

Namun kemudian ada pemikiran baru, apakah ada wanita yang mau menikah dengan duda anak tiga hahaha.. teman-teman saya menghibur dengan berkata bahwa usia saya masih relatif muda untuk menikah lagi. Harusnya untuk saya tidak sulit menemukan pasangan hidup baru. Oke, itu cukup menghibur hehe..

Dari situ akhirnya saya mulai belajar lagi ilmu nikah. Saya upgrade pemahaman saya. Saya banyak mendengar materi-materi nikah dari para asatidz di Youtube, diantaranya dari ustadz Nuzul Dzikri dan ustadz Felix Xiauw. Ternyata banyak persepsi baru yang selama ini saya tidak miliki. Banyak muncul juga penyesalan di dalam diri, kenapa dulu selama 10 tahun menikah dengan Rinei saya tidak begini dan begitu. Saya berusaha keras menerima diri saya yang sangat banyak kekurangan dan kesalahan selama 10 tahun menikah. Akhirnya saya bisa menerima itu sebagai hasil belajar dari pengalaman saya. Kedepannya seharusnya saya bisa menjadi pribadi yang lebih baik lagi.

Gagasan tentang Taaruf

Saya berdiskusi dengan banyak kawan dan sahabat saya. Salah satunya N yang juga tetangga seberang rumah saya. Dia belum menikah. Usianya mungkin 1-2 tahun di bawah saya. Dia membawa konsep taaruf sebelum menikah. Taaruf yang dimaksud adalah berkenalan lebih dalam dengan calon pasangan, baik itu sudah pernah kenal ataupun belum. Untuk teman taaruf yang baru kenal, kita menggunakan media CV taaruf. CV ini mirip seperti CV yang biasa kita gunakan saat melamar pekerjaan ke sebuah perusahaan. Isinya ada profil pribadi, riwayat pendidikan, riwayat pekerjaan, plus beberapa tambahan seperti gambaran fisik pribadi, harapan gambaran calon pasangan, visi misi pernikahan dan gambaran setelah menikah. Tujuan CV ini untuk menjadi filter awal kecocokan dengan calon pasangan nanti. Jadi sebelum bertemu atau berkomunikasi langsung, akan ada pihak penengah (biasanya asatidz di sebuah lembaga atau komunitas) yang akan mencocokkan CV laki-laki dan perempuan. Harapannya supaya saat dihubungkan untuk proses taaruf dan berdiskusi bisa lebih cepat dan fokus ke pembahasan yang lebih dalam.

Awalnya saya berpendapat lebih baik menikah dengan orang yang sudah pernah kenal sebelumnya. Sehingga penyesuaiannya bisa lebih mudah. Tapi N mengatakan justru proses taaruf, plus dengan bantuan CV taaruf ini kita bisa kenal lebih dalam, jauh lebih dalam dibanding dengan orang yang kita anggap pernah kenal sebelumnya. Dari CV taaruf saja sudah tertuang hal-hal spesifik dan cukup mendalam tentang calon pasangan kita. Di tahap taaruf pun masing-masing pihak sudah dalam kondisi siap membuka diri memberi penjelasan tentang kondisi yang perlu diketahui oleh lawan bicara. Satu hal yang juga penting, proses ini mesti ditempuh dalam koridor aturan syari, seperti tidak boleh berkhalwat, harus ada pihak ketiga yang menemani. Hal ini nampaknya akan sulit diterima bagi penganut kenalan dengan berpacaran.

Belakangan saya tawarkan gagasan taaruf ini kepada salah seorang sahabat saya S yang juga belum menikah. Dia adalah teman seangkatan di pesantren. Dan dia termasuk yang sulit untuk menerima gagasan taaruf ini. Alasannya karena katanya beda circle. Orang-orang yang menjalani proses taaruf ini biasanya ada di lingkaran santri, anak-anak remaja hijrah dan kalangan soleh lain yang dia merasa dia tidak cukup soleh untuk menempuh proses ini. Selain itu, dia juga berpikir akan sulit untuk menemukan kecocokan hanya dari proses yang singkat seperti ini. Dia harus mengenal calon pasangan dengan mengobrol lebih dalam dan intensif sampai ketemu kecocokan atau ketidakcocokannya.

Satu hal yang saya garis bawahi dari penjelasan S adalah, bahwa pernikahan itu adalah ibadah yang lama, sehingga tidak baik bila tergesa-gesa dalam mengambil keputusan siapa yang akan menjadi pasangan kita nantinya. Lebih baik menunggu sedikit lebih lama daripada terburu-buru menikah tapi akhirnya tidak bahagia karena menikah dengan pasangan yang tidak pas. Pendapat ini saya aminkan, sehingga yang tadinya saya cukup bersemangat untuk menyegerakan menikah, akhirnya mulai lebih tenang untuk melakukan persiapan lebih matang lagi. Saya pun memutuskan untuk belajar lagi. Saya merasa masih ada kepingan puzzle yang belum lengkap untuk hal ini.

Update Belajar Ilmu Menikah

Di hari saya menulis tulisan ini, saya mengikuti materi seminar dengan tema nikah. Seminar pertama adalah event Kuliah Pra Nikah online yang diselenggarakan oleh @KUASkuad. Seminar yang pertama diselenggarakan di waktu siang setelah waktu sholat zuhur. Kuliah pranikah ini sudah saya mendaftar beberapa hari sebelumnya dan merupakan rangkaian materi selama 3 hari kedepan.

Kuliah Pra Nikah materi pertama diisi oleh ustadz Hendra Ubay dan ustadz Rifky Jafar Thalib. Bentuknya lebih ke talkshow menjawab pertanyaan-pertanyaan umum seputar pranikah. Event ini disiarkan via Instagram live. Ada beberapa poin penting yang saya garisbawahi dari materi ini yang paling berkesan buat saya.

Pertama terkait kriteria kecocokan dengan calon pasangan. Awalnya saya punya kesimpulan bahwa kita harus memilih pasangan yang cocok dengan diri kita. Kecocokan ini mesti dibahas dari banyak sudut pandang, mulai dari level pemahaman agama, latar belakang keluarga, tingkat ekonomi, kesehatan fisik dan psikis, sampai penampilan fisik. Saya melihat ada tantangan untuk menggali kecocokan seperti ini, bahwa butuh waktu yang entah berapa lama untuk taaruf sampai kita merasa cocok atau tidak cocok. Ketika sudah merasa cocok pun, akan ada kekhawatiran akan hal-hal yang tidak dapat kita gali dan ketahui. Terkait kekhawatiran ini terjawablah di dalam kuliah materi pertama ini.

Ada pertanyaan seperti ini: "Kalau tidak pacaran ga akan bisa kenalan". Jawaban dari ustadz Rifky seperti ini. Bahwa persepsi itu adalah syubhat yang hari ini tengah menjangkiti kaum muda kita. Islam adalah pedoman hidup yang lengkap. Untuk urusan sederhana seperti makan dan buang air saja ada aturan rincinya. Apalagi urusan ibadah besar seperti nikah, maka mestilah Allah memberikan sarana untuk menempuh itu. Konsep yang ditawarkan oleh Islam adalah taaruf, yakni bertanya kepada calon pasangan terkait banyak hal sebelum menikah. Melalui taaruf ini, tentu kita tidak akan tau semua hal. Statemen beliau yang menarik tentang hal ini adalah bahwa dibalik ketidaktahuan kita tentang perkara yang tidak dapat diketahui selama taaruf, itu tersimpan husnuzhan kita kepada Allah atas calon pasangan kita. Saat itulah kita diuji oleh Allah bagaimana kita mampu berprasangka baik kepada Allah, bahwa tidak mungkin pasangan kita jauh dari sifat kita. Wanita baik untuk laki-laki baik, dan sebaliknya, sebagaimana firman Allah terkait hal ini. Tambahan dari kesimpulan pribadi saya tentang hal ini, bahwa ketika kita menerima pasangan kita melalui proses yang baik dengan niat yang baik, maka disitulah letak kepasrahan kita kepada Allah, bahwa kita yakin Allah selalu memberikan yang terbaik untuk kita.

Ada satu lagi pertanyaan menarik di sessi ini. Bagaimana tanggapan atas penyataan "bila kita menjalani proses taaruf yang cuma sebentar ini, bagaimana mungkin pertemuan sebentar ini bisa cinta sama calon pasangan. Saya kan butuh cinta nikah ini. Bagaimana saya menikah dengan orang yang tidak saya cintai?" Ustadz Rifky menjawab begini, "Nikah itu landasannya bukan cinta. Menikah itu landasannya taqwa." Bukan berarti menikah itu tidak butuh cinta, tapi ketika menikah itu landasan pondasinya taqwa kepada Allah, maka cinta yang tumbuh nanti adalah cinta yang suci, bukan cinta dari syahwat.

Ustadz Rifky kemudian mengisahkan shahabat Abu Dzar al-Ghifari, sahabat Nabi shallallahu alaihi wasallam yang dipuji oleh Nabi sebagai shahabat yang mulia, berwibawa dan punya kedudukan di sisi manusia dan di sisi Rasulullah. Ketika Abu Dzar hendak menikah, beliau berkata pada teman-temannya "Saya mau menikah, tolong carikan untukku wanita yang mengerti agama". Itu adalah standar dari Abu Dzar, hanya satu, paham agama. Ga ngasih kriteria lain yang lebih spesifik seperti tampang, nasab dan status ekonomi. Kemudian salah seorang temannya, dengan niat bercanda berkata "saya punya budak perempuan, hitam, jelek, tapi paham agama". Candaan ini diseriusin sama Abu Dzar dengan menjawab "Saya mau". Teman-temannya kaget. Dan beneran menikah. Karena yang dicari oleh manusia sekelas Abu Dzar bukan cinta karena fisik. Belakangan teman-teman Abu Dzar datang lagi untuk mengetes Abu Dzar dengan berkata "Kamu ga mau menikah dengan wanita yang cantik?". Abu Dzar kemudian menjawab "Istriku ini, dia yang membangunkanku ketika aku tertidur, dan dia yang mengingatkan aku ketika aku lupa, dan dia yang menguatkanku ketika aku lemah. Kalau nanti kalian tau bagaimana indah wajah istriku ini ketika Allah masukkan ia ke dalam surga, maka kalian akan menyesal kenapa bukan kalian yang dulu menikahinya". Maa syaa Allah. Artinya, cinta itu sesuatu yang dimunculkan setelah pernikahan, bukan sebelum menikah. Boleh sih cinta sebelum menikah. Tapi jangan sampai karena belum tumbuh cinta sebelum menikah, membuat kita jadi mengurungkan niat untuk menikah.

Tambahan dari saya, bahwa kita perlu ingat salah satu nasihat dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam "Apabila seseorang yang kalian ridhai agama dan akhlaknya datang kepada kalian untuk meminang wanita kalian, maka hendaknya kalian menikahkan orang tersebut dengan wanita kalian." Ini adalah nasihat untuk pihak wanita dan keluarga wanita. Kriteria utamanya sama, agama. Kita tetap tidak boleh menafikan juga nasihat lain dari Rasulullah supaya melihat dulu pasangan kita sebelum memutuskan untuk menerima atau melamar. Artinya faktor kecocokan dari sudut pandang yang lain selain agama juga sangat diperbolehkan bahkan dianjurkan mencari yang setara. Bila ada sedikit kejomplangan, maka perlu dibicarakan sejak awal.

Maka pemahaman baru saya tentang hal ini adalah, bahwa kriteria itu boleh ada dan spesifik, tapi tidak mesti terlalu saklek. Asal pemahaman dan pengamalan agamanya baik sebagai kriteria agama, dan sekiranya kita dapat menerimanya pada kriteria yang lain yang masih bisa dikompromikan, maka jangan sia-siakan. Setelah itu, garis bawahi hal ini, bertawakkal dan berprasangka baiklah kepada Allah, bahwa Allah akan selalu menolong dan membimbing kita karena kita menikah dengan niat ibadah dan dengan landasan taqwa. Ini adalah jawaban atas kekhawatiran saya yang sebelumnya tentang hal-hal yang tidak memungkinkan diketahui selama proses taaruf.

Terakhir terkait pembahasan ini, di dalam surat Maryam ayat 96, Allah berfirman "Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, kelak Allah Yang Maha Pemurah akan menanamkan dalam (hati) mereka rasa kasih sayang." Di dalam ayat tersebut Allah menggunakan huruf sa pada kalimat sayaj'alu yang artinya "akan". Kata cinta atau kasih sayang yang digunakan pada ayat ini juga menggunakan kalimat wuddan, bukan hubban. Tafsirnya adalah, bahwa rasa cinta akan ditumbuhkan setelah manusia melalui proses pernikahan.

belajar belajar ngaji Daily keluarga kreatif menghapal alquran Pendidikan Projects

Template Pritable Ceklis Hafalan Juz Amma (Juz 30)

Silakan Ngomen
Di rumah sudah berjalan sekitar satu bulan, keluarga belajar membaca al-Quran. Alhamdulillah inisiatif datang dari para orang tua sendiri, uwa dan kakak. Mereka meminta saya untuk memandu belajar baca al-Quran. Terkait metode apa yang saya gunakan untuk mengajarkan membaca al-Quran in syaa Allah dibahas di artikel lain.

Artikel ini khusus saya buat untuk membagikan dokumen printable untuk ceklis hapalan surah dalam al-Quran juz 'Amma atau juz 30. Ini adalah program perdana yang saya buat untuk membuat variasi program belajar ngaji keluarga. Khusus jadwal hari sabtu malam digunakan untuk setor hapalan surat-surat pendek yakni surat yang ada di juz 30. Supaya mudah trackingnya, saya membuat dokumen spreadsheet sederhana untuk memantau perkembangan hapalan para peserta.

penampakan printable ceklis hapalan surat al-quran juz amma 30
Penampakan printable ceklis hapalan surat al-quran juz amma 30 setelah diprint.
Saya print 2 sheet per page biar irit

Sengaja ceklisnya saya buat per ayat dan bukan per surat. Untuk surat-surat super pendek mungkin bisa langsung diceklis satu surat. Tapi untuk progres selanjutnya saya ingin para peserta belajar dapat menambah hapalannya minimal 1 ayat tiap minggu. Agar progresnya hapalannya terasa dan terlihat, maka peserta dapat menceklis ayat yang baru dia hapalkan. Terlebih lagi karena sebagian peserta belajar di keluarga saya adalah orang tua yang mereka kadang sudah jatuh lesu duluan dengan dalih usia.

Barangkali ada diantara kamu yang juga memerlukan template ceklis serupa, kamu bisa unduh melalui tautan di bawah artikel ini. Ada versi PDF yang bisa langsung diprint. Atau bila kamu ingin memodifikasi templatenya, misalnya dibuat lebih warna-warni biar lebih menarik untuk anak-anak, kamu bisa unduh yang versi xlsx atau ods. Untuk saat ini baru saya buat untuk juz 30. Mudah-mudahan kedepannya saya sempat untuk bikin yang juz 29 dan seterusnya.

Semoga bermanfaat.

Drive file template dokumen printable ceklis hapalan surat juz Amma (juz 30): https://drive.google.com/open?id=1VMPLDVDwTx1pj--w5qjga-MH5KQffwrI
access point cmd command prompt hosted network sharing internet windows 7

Cara Cepat Setting Access Point untuk Sharing Internet di Komputer / Laptop Windows 7 Melalui Command Prompt

Silakan Ngomen
Judulnya saya buat spesifik karena sesuai dengan yang sedang saya pakai sekarang, yakni laptop dengan OS Windows 7. Biasanya pake aplikasi tambahan kayak Connectify. Tapi sebenernya bisa tanpa bantuan aplikasi lain juga, cukup jalankan via Command Prompt. Konon katanya kalo pake Windows 10 udah ga perlu setting-setting lagi, udah ada fitur buat share koneksi wifi. Saya nulis ini biar ga lupa aja sama tekniknya. Dapet diajarin Mas Arik.

  1. Pertama-tama nyalakan Command Prompt dengan akses administrator. You know caranya kan ya.
  2. Cek dulu apakah Wireless Cardnya support buat hosted network. Gunakan perintah berikut:
    netsh wlan show drivers
    Kalo support, mestinya nanti akan muncul opsi Hosted network supported dengan nilai Yes, seperti gambar berikut:
  3. Buat sebuah hosted network baru dengan perintah berikut:
    netsh wlan set hostednetwork mode=allow ssid=CodePolitan key=12345678
    ganti nilai ssid dan key sesuai dengan keinginanmu.
  4. Jalankan hosted network dengan perintah berikut:
    netsh wlan start hostednetwork
    Kalo berhasil mestinya di jendela Network and Sharing Center akan muncul jaringan baru, seperti pada gambar berikut:

  5. Terakhir jangan lupa untuk share sumber koneksi internetnya ke network baru kita.
    Buka network yang jadi sumber koneksi, misalnya wifi, lan atau modem, lalu buka jendela Propertiesnya. Klik tab Sharing, klik centang Allow other network users to connect through..dst. Pada dropdown, pilih network yang jadi access point yang udah kita bikin tadi.

  6. Kalo mau matiin jaringan access pointnya, tinggal panggil perintah berikut:
    netsh wlan stop hostednetwork
Demikian. Selamat menikmat sharing koneksinya
Daily Nonton Tafakur

Selalu Ada yang Harus Disyukuri Bahkan Ketika Terkena Musibah

4 comments

Judulnya kepanjangan. Judulnya itu sendiri adalah posting microblog. Sudaj cukup ngerti. Tapi ane pengen share pengalaman hari ini.

Ceritanya Codepolitan dapet dikasih tiket gratis buat nonton Star Wars The Force Awaken dari Dicoding. Dikasih 4 biji. Karena lokasi nontonnya di PVJ Bandung, maka kru yang di Bandunglah yang dapet jatah. Singkat cerita ane, Rinei my wife, Singgih dan Bagus yang berangkat.

Ini tiket bener-bener nikmat ga disangka2. Soalnya si Rinei pengen banget nonton, sedang dompet ane lagi kempes-kempesnya habis dipake belanja perlengkapan wisuda, seeehabis habisnya.

Beres jumatan langsunglah terbang ke PVJ, naek si Vario putih. Ntu Vario ban depannya udah sobek hampir seperempat lingkar ban sejak dua-tiga hari kebelakang. Jeroannya aja ampe hampir nyembul keluar. Ini mah tinggal nunggu waktu dan momen yang pas aja ampe si ban ini bocor atau meletus.

Kami berangkat dari kampus UPI ke PVJ sekitar setengah jam sebelum jadwal tayang. Stang motor udah makin kentara aja goyang-goyangnya karena sobekan ban depan tadi bikin bannya jadi benjol. Di pikiran ane kebayangnya gawat juga kalo ampe meletus atau paling tidak bocor pada saat itu. It can ruin this happy moment. Bisa bikin bete dan ketinggalan cerita. Niat bikin seneng si Rinei bisa gagal total. Ane inget saat itu ane berdoa dalam hati, mudah-mudahan ga bocor. Kalopun taqdirnya emang mesti bocor hari ini, rada didelay lah Boss paling tidak setelah beres nonton, jangan sekarang.

Alhamdulillah nyampe PVJ dengan selamat, bisa menikmati movie dengan sangat puasss. Rame lah, terutama karena udah ngikutin beberapa episode terdahulunya, jadi rada ngerti dan nyambung.

Pulangnya ampe padalarang malem2. Laa la la, masih kebayang itu efek2 filmnya yang keren bingits. Di jalan tiba-tiba ane sadar, kok ini motor udah ga goyang yah, apa benjolnya udah sembuh, atau justru sobeknya lebih merata jadi ga goyang lagi. Ane minggir dan cek bannya dan ternyata udah kempes. Ini ban masih bagus sebenernya, makanya ga terlalu kerasa pas lagi bocor. Cuma karena sobek aja.

Si rinei udah mulai keliatan bete hahaha. Udah mau nyampe rumah, cuma sekitar 2 kiloan lagi. Tapi apa daya, akhirnya belok dulu lah ke tukang tambal ban. Dari situ ane sadar. Ane ngerasa doa tadi siang itu diijabah. Boleh jadi emang taqdirnya ini ban bocor malem-malem. Tapi boleh jadi juga mestinya bocor siang tadi, tapi Allah delay karena ane berdoa minta delay. Who knows. Malem itu ane bersyukur banget. Meskipun si Rinei agak bete kayaknya, yang juga karena ane pinjem uang ke dia buat tambal dan ganti itu ban luarnya. Tapi rasanya itu masih mending daripada kalo bocornya siang tadi.

Overall, meskipun saat bocor ban itu adalah musibah, bukan berarti kebetean membuat ane jadi lupa bersyukur atas nikmat yang udah dikasih yang jauh lebih banyak dibanding musibah kecil ini. Pemikiran semacam itulah yang selalu ane coba terapkan kalo nemuin kasus serupa. Semata biar ga ada nikmat yang dilupakan.

Ane ngerasa lebih seneng lagi terutama karena momen tersebut terjadi oleh sebab ane berdoa dan doanya nyambung sama kejadian. Rasanya seperti diijabah doa. Dan mudah-mudahan ini adalah tanda ijabah doa. Ketika kita berdoa dan doa kita tidak kunjung diijabah, ada beberapa kemungkinan. Dan kemungkinan terburuk adalah karena ada pada diri kita hal-hal yang membuat doa kita tertahan untuk diijabah. So ketika kita menyadari ada doa kita ada yang diijabah, itu adalah seperti sebuah konfirmasi bahwa "tidak ada pada dirimu sesuatu yang membuat tertahannya sebuah doa untuk diijabah". Mudah2an ya Allaah.

arduino attiny85 Development digispark

Mengaktifkan Pin P5 pada Digispark

Silakan Ngomen
Adakah diantara Kamu yang udah nyoba Digispark? Digispark adalah papan hardware yang dapat diprogram yang menggunakan ATTiny85 sebagai chip kontrollernya. Digispark pertama kali dibuat oleh Erik Kettenburg dari Digistump melalui sebuah proyek KickStarter. Digispark memungkinkan kita untuk memprogram ATTiny85 dengan lebih mudah, langsung diprogram melalui kabel USB tanpa mesti menggunakan perangkat ISP.

Digispark menyediakan 6 buah pin I/O (input-output). Sebenernya dari ATTiny85-nya sendiri itu dia cuma punya 5 pin I/O, sisanya adalah pin VCC, Ground dan Reset. Digispark mengubah pin Reset menjadi pin yang bisa digunakan untuk I/O, yakni pin P5. Meski demikian mungkin ada diantara kamu yang menemukan ketika pin P5 dihubungkan, board Digispark malah mereset dan menjalankan ulang program. Itu terjadi karena pin P5 sebagai pin Reset tidak atau belum difungsikan sebagai pin I/O. Biasanya itu terjadi pada board digispark clone atau buatan sendiri.

Untuk dapat memfungsikan pin reset menjadi pin I/O, kita harus mengatur terlebih dahulu fuse untuk ATTiny85. Adapun praktisnya kita akan menggunakan AVRDUDE untuk mengeset fuse pada ATTiny85. Instal terlebih dahulu AVR di komputermu. Ikuti langkah-langkahnya di halaman ini.

Setelah avrdude terinstall, hubungkan Arduino Uno (saya pake Arduino Uno sebagai ISP) dengan Digispark dengan skema pin berikut:

UnoDigispark
10P5
11P0
12P1
13P2

Setelah terhubung, aktifkan Arduino Uno sebagai ISP terlebih dahulu. Hubungkan Arduino Uno ke komputer lalu buka Arduino IDE. Pada Arduino IDE, Pilih menu Tools > Board lalu pilih Arduino UNO. Lalu pilih menu File > Examples dan pilih ArduinoISP. Akan muncul jendela Arduino IDE baru berisi program untuk menjadikan Arduino Uno sebagai ISP. Klik tombol upload program.

Setelah upload program ISP ke Arduino Uno berhasil itu berarti Arduino Uno sudah dapat difungsikan sebagai ISP. Sekarang buka terminal dan ketikkan perintah berikut:

avrdude -c avrisp -p t85 -P /dev/ttyACM1 -b 19200

Perintah tersebut berfungsi untuk mendeteksi koneksi ke ATTiny85 melalui ISP. -c avrisp berarti kita menggunakan programmer avrisp untuk memprogram mikrokontroller. -p t85 berarti kita mentargetkan ATTiny85 untuk diprogram. -P /dev/ttyACM1 adalah set port yang terhubung dengan Arduino Uno. Kalo di Ubuntu biasanya portnya /dev/ttyACM0 atau /dev/ttyACM1 dan sebagainya. Kalo di Windows biasanya port diberi nama COM1, COM2 dan sebagainya. Cek terlebih dahulu port mana yang digunakan oleh Arduino Uno untuk terhubung ke komputer. Terakhir adalah -b 19200 yang berarti kita mengeset baudrate ke 19200. Jalankan program. Bila muncul pesan:

avrdude: safemode: Fuses OK (E:FE, H:DD, L:E1)
avrdude done.  Thank you.

tanpa pesan error lain, berarti ATTiny85 pada Digispark berhasil diakses.

Setelah itu kita akan mengubah setting fuse pada ATTiny85 agar pin Reset dapat difungsikan sebagai pin I/O. Jalankan perintah berikut pada terminal:

avrdude -c avrisp -p t85 -P /dev/ttyACM1 -b 19200 -U lfuse:w:0xF1:m -U hfuse:w:0x5F:m -U efuse:w:0xFE:m

Apabila berhasil, avrdude akan menampilkan pesan proses dan diakhiri pesan seperti ini:

avrdude: safemode: Fuses OK (E:FE, H:5F, L:F1)
avrdude done.  Thank you.

Kita lihat bahwa settingan Fuse sudah berubah dari (E:FE, H:DD, L:E1) ke (E:FE, H:5F, L:F1).

Sekarang kalo kamu menjalankan lagi perintah untuk mendeteksi ATTiny85 seperti perintah pertama diatas, maka ATTiny85 sudah tidak dapat dideteksi. Kenapa? Karena pin P5 yakni pin Reset pada ATTiny85 sudah tidak lagi menjadi pin Reset, ISP memerlukan pin Reset untuk dapat terhubung. Tapi sekarang Kamu cobalah pin P5 mestinya sudah bisa difungsikan sebagai input/output. :)

dosen mahasiswa Mikir my two cents pendapat

Four Types of Lecturer

Silakan Ngomen
Talking about college student, we are also talking about lecturer. After 6+ years of my college experience (ahem, and I'm still a college student*), I saw an interesting pattern about lecturers (I may applied to teaches in general too, I guess). The pattern is about how the lecturer interacted with the students, within and outside the formal class. If you have been a (college) student, you must have met a boring killer lecturer. You once said, "Man, I hate math class with Prof. A. You know I always fall asleep on his class." or "God, how can I be calm on studying while Prof. B yells every five minutes.". Sometimes we critisise the way they lecture us. And on the other time we blame them for our failure. And sometimes, we hate certain subject not because we don't like it, but because the lecturer. It's because “his way of teaching was wrong". Right?

Unfortunately, if we keep thinking that way, we would never learn neither be successful. As we grow up, we realise that cursing the lecturer won't make us any better. No matter how angry we are to them, no matter how hate we are to them, we can’t change that with cursing. If you are a college student, remember that you can't be cry baby like a highschoolers. You have to survive and you have responsibility upon yourself.

From that starting point, I think we should change our perspective about our lecturer. You know, when we're highschoolers, we were thinking about teacher as "a parents as school who have a deep knowledge about everything and we can't learn and pass the test without them", now we should start to see lecturer as a friend on learning, a friend we respect. I always think them as a respected friends even though they are far older than me. That way, I found learning is easier more enjoyable.

But in fact, we can't befriend every lecturer. This is the point of this post (sorry for the long epilogue). There are lecturers who are so close to his students and the other make distant from their students. There are lecturers who are so so so kind-hearted and even easy to give a grade, but the other are killer ones. Something interesting I found is that not every killer lecturers in class are bad. Here I made a clear explanation about it (according to my investigation and "research", by the way). I'm pretty sure you'll agree. And also I added a mighty awesome quadrants to ease things.


Type 1 : No Fun at Class and Outside
It seems that the lecturers always have a busy life. Maybe he has so many activities that he have no time to interact with his students outside the class. Even more, it seems class is not in flow. Other reason is.. maybe it's just who he is (a social awkward?).

Type 2 : No Fun at Class, But Fun Outside
Admit it, you have met one. He is so killer in class, making it so intense. Or he is too boring and you often fall asleep in his classes. But once you met him outside, you can easily hold a fun conversation, good discussion, and even exchange latest PC games. :D

Type 3 : Fun at Class, But No Fun Outside
This type is a little bit confusing. His teaching method and style is perfect. He is funny and we expect to engage more with him outside, but when we approach him.. Surprise! He’s so much different. He is cold and seemed to limit his interactions with student. Everything is just awkward. Personally, I chose to avoid meeting this lecturer and take another road. Hahaha..

Type 4 : Fun Both at Class and Outside
Whoaaa.. this type is awesome. Having discussion with him is always enjoyable. He takes teaching and lecturing his student in to the next level, because education need to happen not only inside the class. He’s aware about his profession (and maybe because it’s his trait, easy going). It doesn’t mean that other type is not professional or dedicated. We just can say that this type is such an ideal lecturer ;)

In conclusion, I must said that it’s not important which type of lecturer we are facing, the future is in our hands. Just because the lecturer is not an easy going on (a.k.a. type 1 or 3), it doesn’t mean you have a reason to give up on learning. Remember that he has a potential to be always like that, and if we didn’t change ourselves, we are doomed! However, as a student we still have to respect them. If you feel the lecturer is mean or anything, just remember that every human has a mistake, why not a lecturer? That's my two cents. :)

So, if you are about to be a teacher or lecturer, which type will you fall on?? :D

Maybe you can post your story too? Hendri, Zia, Raksa

* Yeeees I'm still a college student after 6+ years. I accept it as my fate hahaha.. Fortunately, it's not a dead-6-year because I got many opportunities to learn something outside college within that time range. It's not a good example of course. But since it happens to me, I positively face it and be grateful of it. Because each person has their own life and problematic. I will graduate soon, so, Life, I'm ready. Bismillah :D

This post is my entry for 'My College Diary' contest held by travel blog My Yatra Diary in collaboration with Collegedunia.com
Daily kuliah Menulis Mikir Pendidikan Refleksi

4 Tipe Dosen

2 comments
Sudah 6 tahun hidup di kampus. Kalo ditambah cuti berarti udah 7 tahun. Fiuhh.. Ada banyak pengalaman yang bisa saya nikmati, yang kalo kata dosen saya, ada pengalaman dan manfaat yang lebih gede lagi kalo udah lulus. Fiuhh.. Anyway, saya menikmatinya. Saya melihat ini sebagai bagian dari jalan hidup saya, dengan sekelumit problematika dan pengalaman yang belum tentu dialami juga oleh orang lain. Kita bisa saja bilang, orang lain yang sudah lulus duluan tentunya punya pengalaman yang mungkin lebih wow. Ya, who knows kan? So, kalo orang lain bisa bersyukur dengan hidupnya, kenapa saya tidak? :)

Bicara mahasiswa, berarti erat kaitannya dengan dosen, orang yang mengajar mahasiswa. Setelah sekian lama kuliah, saya melihat ada beberapa pola menarik dari dosen secara khusus, atau pengajar pada umumnya. Pola yang saya maksud adalah tentang bagaimana dosen berinteraksi dengan mahasiswa, di dalam dan di luar kelas. Kalo Kamu pernah jadi mahasiswa, atau minimalnya siswa, Kamu pasti akan selalu bertemu dengan yang namanya dosen. Pasti lah. Inget ga dulu waktu SMP atau SMA, Kamu atau temen Kamu pernah bilang hal semacam ini: "Ah gue ga mudeng belajar matematika sama si Pak Anu, bawaannya ngantuk", atau "Yaelah, gimana bisa tenang belajar, si Ibu Anu itu dikit-dikit bentak, yang ada malah tegang". Kita terkadang atau seringkali mengomentari sikap dan cara guru kita mengajar, dan adakalanya juga menyalahkan guru kita atas kegagalan kita dalam belajar. Kita mungkin pernah berpikir, kita jadi tidak suka suatu mata pelajaran gara-gara gurunya begini begitu. Betul apa benar?

Sayangnya kalo kita terus-terusan kayak gitu, artinya menyalahkan guru atas kegagalan belajar kita, selamanya kita tidak akan pernah sukses. Saya yakin seyakin-yakinnya. Tapi saya juga yakin, semakin dewasa kita, kita akan sadar bahwa bagaimanapun kita menyalahkan dan mengutuk seorang guru, itu tidak akan pernah membuat kita lebih sukses. Guru akan tetap dengan kehidupannya, dan kita pun akan tetap dengan kegagalan hahaha.

Kalo udah jadi mahasiswa, kita udah ga bisa lagi ngerengek nyalahin guru kayak waktu dulu sekolah. Ga peduli kayak gimana dosen Kamu mengajar, Kamu mesti bisa survive dan tuntas belajarnya. Kalo kita kerjaanya cuma nyalahin dosen, sekencang apapun Kita berteriak mengutuk dosen yang ngajarnya ga becus, ingatlah dosen itu akan tetap dengan kehidupannya, dan Kita sampai kapanpun ga akan pernah lulus. Kita ga akan bisa mengubah orang lain. Kita hanya punya kendali pada diri kita sendiri. Kalo kasarnya sih, 'yang mau lulus itu siapa, elu apa dosen?'

Bertolak dari hal itu, mestinya kita mulai beralih sudut pandang kita terhadap pengajar. Kalo dulu waktu sekolah, kita mungkin memandang guru sebagai orang tua yang ada di sekolah yang punya banyak ilmu yang tanpanya kita ga akan bisa belajar dan lulus sekolah. Kalo di perkuliahan, saya lebih suka memandang dosen sebagai teman dalam belajar, teman yang harus kita hormati dan serap ilmunya. Setua apapun dosen, saya lebih suka menempatkan mereka sebagai teman, mungkin teman yang lebih tua. Tentu saja saya tetap memandang mereka juga sebagai guru yang harus dihormati dan didoakan oleh sebab ilmu yang mereka ajarkan. Dengan cara memandang seperti itu, saya bisa belajar lebih nyaman dan menyenangkan.

Namun, nyatanya saya sadari tidak semua dosen bisa dijadiin teman. Ada dosen yang gaul sama mahasiswa, ada juga yang menutup diri dan menjaga jarak. Ada yang baik banget sampe-sampe gampang banget ngasih nilai, ada juga yang killer. Tapi yang lebih menarik lagi dari itu, yang saya garis bawahi di awal tulisan. Ternyata tidak semua dosen yang menyenangkan itu selamanya menyenangkan, dan ga semua dosen yang killer itu selamanya killer. Kalo saya buat batasan yang jelas, saya yakin Kamu juga pasti bisa mengamati hal tersebut. Batasan yang saya maksud adalah bagaimana cara mereka berinteraksi dengan mahasiswa, di luar dan di dalam kelas. Biar gampang, saya gambarkan ke dalam bentuk tabel kebenaran, dengan parameter A = asyik di dalam kelas dan B = asyik di luar kelas.

|-------------|
|   A  |   B  |
|-------------|
|   0  |   0  | tipe 1
|   0  |   1  | tipe 2
|   1  |   0  | tipe 3
|   1  |   1  | tipe 4
|-------------|

Ngerti ga? Kalo Kamu pernah belajar logika matematika atau logika informatika mestinya bisa ngerti. Atau gimana kalo saya gambarin dalam bentuk kuadran, seperti di bawah ini:

|-----------------------------------------------|
|                 |  ga asyik di  |   asyik di  |
|                 |  luar kelas   |  luar kelas |
|-----------------------------------------------|
|                 |               |             |
|   ga asyik di   |       1       |      2      |
|  dalam kelas    |               |             |
|                 |               |             |
|-----------------------------------------------|
|                 |               |             |
|    asyik di     |       3       |      4      |
|   dalam kelas   |               |             |
|                 |               |             |
|-----------------------------------------------|

Tipe 1 : Ga Asyik di Dalam Maupun di Luar Kelas

Kayaknya dosen begini sibuk sama urusannya sendiri. Mungkin dia punya banyak kesulitan dalam hidupnya yang membuatnya jangankan berinteraksi dengan mahasiswa di luar kelas, untuk fokus dan totalitas mengajar di dalam kelas pun udah kewalahan. Kalo tidak begitu, mungkin memang bawaan sifatnya seperti itu.

Tipe 2 : Ga asyik di Dalam Kelas tapi Asyik di Luar Kelas

Pasti pernah nemuin kan dosen kayak gini. Dia killer pas ngajar, atau mungkin bikin ngantuk karena ngajarnya pake metode khutbah jumat, atau alasan lain yang bikin kita ga asyik belajar di kelas, tapi kalo di luar kelas enak diajak ngobrol dan diskusi, bahkan ketawa-ketawa dan share game PC terbaru? :D

Tipe 3 : Asyik di Dalam Kelas, Tapi ga Asyik di Luar Kelas

Pernah ga nemuin dosen yang ngajarnya keren, suasana kelas terbangun, mahasiswa semarak menyambut celotehan dosen yang lucu dan cerdas, tapi kalo ketemu di luar kelas sikapnya dingin, kayak yang tidak mau berinteraksi dengan mahasiswa atau berinteraksi seadanya? Saya pribadi kalo ketemu dosen kayak gini saya lebih memilih menghindar dan ambil jalan memutar hahaha~

Tipe 4 : Asyik di Dalam dan di Luar Kelas

Whoaaa.. ini dosen keren abis. Dia mendedikasikan hidupnya muntuk mengajar dan mendidik mahasiswanya, karena sejatinya pendidikan tidak cukup hanya terjadi di dalam kelas saja. Dia dosen yang sadar betul akan profesinya. Dan mungkin juga karena memang bawaan sifatnya seperti itu. Bukan berarti dosen yang engga masuk kuadran 4 ini ga profesional atau ga berdedikasi. Cuma yang pasti tipe 4 inilah yang menjadi dambaan para mahasiswa ahay..

Sekali lagi saya katakan, terlepas oleh dosen bertipe berapapun kita diajar, kesuksesan perkuliahan ada di tangan kita sendiri sebagai mahasiswa. Jangan gara-gara dosennya ga asyik lantas kita jadi reaktif dan enggan kuliah. Kalo sampe kayak gitu, ingatlah, dosen itu akan tetap dengan kehidupannya, dan kita akan tetap dalam kerugian. Bagaimanapun dosen kita, kita sebagai pembelajar tetap punya kewajiban untuk menghormati ilmu dan ulama yang dalam hal ini dosen, kalo pengen belajarnya sukses dan barokah. Urusan sifat dosen yang buruk, bukankah setiap manusia tidak luput dari kesalahan?

Sebenernya pengen bahas juga bagaimana sifat mahasiswa dari kacamata dosen. Jangan salah, kalo kita sebagai mahasiswa kerap kali merasa terzhalimi oleh dosen, dosen juga katanya tidak jarang terzhalimi oleh mahasiswa, sering di-PHP-in lah, mahasiswa nyontek lah, dan sebagainya. Sayangnya saya tidak dalam kapasitas sebagai dosen atau pengajar. Mungkin suatu saat kalo ada kesempatan.

So, kalo Kamu jadi dosen atau guru nanti, mau jadi tipe berapa?? :D